Binding You Prince 3 (Fanfiction SHINee X Wanna One) - Kpop Indonesia

Binding You Prince 3 (Fanfiction SHINee X Wanna One)

BINDING YOU PRINCE 3

Cast:
SHINee All Member
WANNA ONE All Member
TVXQ Changmin
Jisoo and Lisa Blacpink

Main Cast: 2Min ( Minho x Taemin)
Genre: Historical,Ansgt,Incesh, Comedy, family and Romance
Author : Shinka Kyung
Cover: Ulfa

Rate : Rate 17+

ย Keterangan :
Mama : (panggilan untuk Raja, Ratu, Pangeran, Putri Yang umum) Arti dari Mama adalah ‘yang mulia’.
Jeonha : yang mulia Raja
Jungjeon :permaisuri
Wangseja : Pangeran Mahkota Pertama
Wangseje : Pangeran Mahkota kedua
Seonsaengmin : Guru
Lady : digunakan untuk memanggil Wanita bangsawan. Disini kita gunakan untuk memanggil Selir.

“Haiih Mengapa bahumu lebar sekali Minho,”
Taemin memanh sering merasa sesak ketika tidur dengan Minho lantaran tubuh Minho yang kian hari kian tumbuh sementara Taemin tak ada perubahan dari segi fisik, kecuali rambutnya yang panjang dan semakin cantik. Walau begitu Kini Mereka berdua telah menjadi Lelaki Hebat.

Tiga tahun menjalani latihan berat memang hasilnya tak sia-sia. Secara Fisik Taemin masih sama namun tenaga dan kemampuan beladirinya sangat berkembang pesat. Dia sudah sangat siap untuk dikirim menuju medan perang.

“Ah dia pasti lelah sekali,” Taemin bangkit dari ranjang kemudian turun pelahan meninggalkan Minho yang tengah nyenyak. Sekedar berbalik untuk melihat wajah tidur itu.
“Kau baik dan tampan sekali, Akan bagus jika Jisoo menikahi Pria seperti dirimu,” Membenarkan selimut Minho.
Tanpa sadar Tangan Minho bergerak dan mencengkram pergelangan tangan Taemin.

“Aku mencintaimu,” Taemin membelalakan mata.
“Aku sangat mencintaimu, Tetaplah disisiku seperi ini,” Dada Taemin semakin berdetak tak karuan. Ada perasaan tak terkendali seperti orang gila.
“Saranghae Mimi,”
“Hah..!? ” Taemin merasa bodoh karna berdebar kencang saat Minho mengungkapkan cintanya pada Seekor kucing hitam. Menarik Tanganya paksa kemudian meninggalkan Minho dengan Linduran busuknya.

Berjalan pelan membawa Bantal dan selimutnya. Meletakan mereka diruang tamu. Memposisikan diri dan tidur senyaman mungkin.

Belum justga fajar menghampiri, Jisung sudah keluar kamar menuju dapur. Sedikit terperanjat karna melihat Si cantik Taemin terlelap diatas kursi tamu berkerukup selimut tak beraturan.
“Aigooo~” membenarkan dan Menyelimuti Taemin sampai dada kemudian sibuk dengan dapurnya lagi.

“Umma Hiks Hiks, Jisoo-ah Jihoonnie Jinyoung-ah Bogoshipeoso,” Taemin bergumam ditengah tidurnya dan Jisung mendengar linduran Taemin.Merasa sedikit penasaran apakah Taemin tidur dengan nyaman, akhirnya datang menghampirinya lagi. Membelai lembut rambutnya dan membayangkan apa yang saat ini dirasakan Taemin, Jisung merasa iba.
“Kau adalah Pangeran mahkota mengapa kau justru bersama kami sekarang?” Sudah tiga tahun dan tak ada seorangpun yang datang menjemputnya sampai sekarang. Jangankan menjemput, Mengunjungipun tak ada. Selama ini Taemin berusaha keras untuk berubah dan menjadi semakin kuat sebagai lelaki. Jisung sangat paham itu namun entah kenapa, seolah Keluarganya tak ada yang ingin tau apapun tentang Pangeran Mahkota Mereka.

Jisung kembali masuk kedalam kamarnya dan membangungkan Suaminya.
“Yeobo…Irona..,”
“Hem?” Mata Minhyun sedikit terbuka.
“Waegure Jisungah?” Perlahan bangkit dari tidurnya.
“Bisakah aku meminta tolong padamu?”
“Mwo?”
“Pergilah keIstanah dan kabari mereka tentang Taemin. Ini sudah 3 tahun harusnya Pangeran segera di jemput untuk pelantikan. Namun mengapa ia masih disini bersama kita? Kumohon padamu Katakan pada Lady Gweboon dan Para pangeran, juga Sang putri kalau Wangseje sangat merindukan mereka. Semoga dengan berkata seperti itu Mereka akan segera menjemput Pangeran Taemin,”
“Mengapa kau seperti ini? kau tak suka Taemin tinggal bersama kita?”
“Aniya…Anirago…Neomu jowaseo! Tapi hatiku ikut hancur tiap kali melihatnya seperti itu. Selama dia disini dia terlihat bahagia namun ketika malam datang saat dia sendiri, dia akan merasa terbuang dan kesepian. Aku sangat paham perasaanya, Jebal Yeobo,”
“Nde nde, aku akan berangkat sekarang,” Wajah Jisung seketika bersinar cerah cahaya matahari di pagi hari.
Bergegas membantu Minhyun untuk menyiapkan diri.

 

Sementara di dalam Istana, Pagi ini masih sunyi seperti biasa. Namun Tuan Putri dan para Pangeran sudah terbangun untuk belajar.
“Nuna,” Jihoon Datang menghampiri Jisoo yang tengah berdiam diruang belajarnya.
“Achiminda Jihoon,” Menyapa Adiknya datar.
“Kau sungguh bersedia menikah?”
“Nde, Asal Raja mengembalikan Taemin Hyung pada kita,” Jisoo terlihat sedang belajar melukis.
“Aku sudah mencoba mencari Taemin Hyung namun Tak menemukanya, Raja menyembunyikan Hyung sangat rapat,” Jihoon berbicara dengan melihat lukisan lain dikamar Jisoo.
“Sudah 3 tahun, Aku sangat menyesal tentang hal terakir yang kulakukan, jika saja aku tak melakukan hal bodoh itu mungkin kita masih bisa mengucapkan perpisahan,” Membereskan Kanvas dan kuasnya. Meletakan kedalam wadah lalu duduk kembali menghadap Jihoon.
“Jinyoung belum bangun?”
“Dia sedang belajar keras untuk ujian Akhirnya, Ah Nuna Kau bersedia menemaniku jalan-jalan?”
“apa itu akan keluar Istana?”
“Yup!”
“Baiklah,”

 

Jihoon dan Jisoo Bersiap untuk menyusup keluar Istanah denga. memakai pakaian untuk penyamaran. Setalah selesai mereka berdua berjalan mengendap keluar istanah dengan sangat perlahan.
“Hyung, Nuna”
“AIGOO!!”
Mereka terkejut karna Jinyoung rupanya sudah berada diluar Istana terlebih dahulu.
“Jinyoung! Sedang apa kau disini! Kufikir kau sedang belajar eoh, Yaa Nappeun!” Jihoon berkacak pinggang, marah dengan menggemaskan.
“Aku sedang berusaha mencari informasi tentang Taemin Hyung diluar Istana. Aku melakukan ini karna aku tak menemukan Informasi Apapun Tentang Taemin Hyung didalam Istana. Tak ada yang tau dia dikirim kemana. Dia seolah menghilang dari kehidupan kita,” Jinyoung menjelaskan dengan wajah datarnya.
“Ayo kita cari bersama,” Jisoo berseru.
“Nde!!” jawab para adik serempak.

Mereka bertiga mencari Informasi dengan bertanya dan mendengarkan pembicaraan Warga. Terus berkeliling Mulai Matahari Muncul sampai berada tepat di atas kepala, kemudian terbenam di barat. Tetap saja mereka tak menemukan apapun.

“Aku sudah sangat Lelah dan ini sudah senja. Kita tak bisa menghilang lebih lama atau Istana akan Gempar, Ayo kita pulang terlebuh dahulu dan besok kita cari kembali,” Jihoon mengajak kedua saudaranya yang mulai putus asa untuk pulang.

“Choseonghamnida, Apa kalian tau Arah menuju Istana?”
“Nuguseyeo!”
“Hyung!” Jinyoung Menyenggol Jihoon karna Ucapanya dinilai Jinyoung tak sopan pada Orang tua.
“Kami tau arahnya Ahjushi, kami juga akan pergi keistanah. Kau bisa pergi bersama kami jika kau mau,” Jinyoung menawarkan.
“Ah Gomapta. Kalian anak-anak yang baik,”
“Mari Ahjushi,” Jisoo mempersilahkanya untuk berjalan bersama mereka bertiga.

 

Dalam Perjalanan Mereka saling melirik satu sama lain, terutama Jihoon dan Jinyoung.
“Kalau boleh tau, Siapa yang akan anda temui di Istana tuan?”
“Aku ingin menemui Yang mulai Raja, Aku membawa pesan penting Untuknya dan Untuk Anggota Kerajaan Lainnya,”

Jisoo, Jihoon dan Jinyoung kembali saling menatap, tiba-tiba mereka berhenti berjalan.
“Ada apa?” Minhyun terheran karna mereka bertiga tiba-tiba berhenti serempak.
“Ah Aniya, Jika kami boleh tau lagi, Ahjushi ini berasal dari kota mana? Ahjushi nampaknya berasal dari tempat yang jauh,” Jisoo bertanya namun Minhyun hanya menjawab dengan Senyuman. Jisoo memberi kode pada Jihoon.
“Ah perkenalkan Aku Jihoon dan Ahjushi?”
“Aku Hwang Minhyun,” Minhyun menjawab ramah. Jihoon terlihat melirik melempar Kode pada Jinyoung.
“Ahjushi, Aku sebentar lagi akan menjalani Ujian Akhir sekolah menengah dan Aku sedang mencari sekolah yang bagus dan cocok untuku, Apa di daerah Ahjushi ada sekolah yang bagus?”
“Waah kau seumuran anaku,”
“Ah Jinjjayo? Dia pasti sangat pintar,”
“Iya dia pintar. Dia gadis terpintar di Cheongdap,” Mata Tiga bersaudara itu langsung berbinar dengan senyum mengembang.

 

Sejedar berbincang basa-basi lagi, akhirnya mereka berpisah di pertigaan Jalan. Minhyun diarahkan untuk lewat jalan utama depan dan mereka segera berlari melewati jalan rlrahasia mereka. Mereka bertiga segera masuk kedalam ruang belajar dengan cekatan melepaskan baju penyamaran mereka menjadi baju Istanah.

Mereka bertiga berlari sekencang mungkin untuk menyusul Minhyun yang kini tengah berbicara dengan Panglima mereka Ong SeungWoo.
Mereka mengendap semakin mendekat agar bisa mendengar percakapan kedua pria dewasa itu Dngan lebih jelas.

“Bagaimana keadaanya?”
“Dia menjalani Latihanya dengan baik, Dia anak yang luar biasa,”
“Ternyata dia masih anak yang mengagumkan. Dia banyak melewati masa-masa yang sulit,”
“Berapa lama lagi Ia harus menunggu? Aku harap setelah mengatakan ini Raja akan menjemput atau setidaknya Seseoranh bisa mengunjunginya walau sekali. Dia nampak sangat merindukan Keluarganya,” Mendengar Kalimat Minhyun membuat Jisoo menitikan airmatanya.

“Tuan, Anda Sudah dipersilahkan memasuki ruang Raja,” Salah seorang pengawal memberi tahu.
“Nde, Gomawo”

Minhyun berjalan menyusuri Balkon Istana bersama Ong Seungwoo menuju ruangan Raja.

“Salam Yang mulia Raja yang agung,” Minhyun membungkukan tubuhnya 90 Derajat kemudian berlutut.

“Lama tidak berjumpa Hwang Minhyun-Shi,” Minhyun Tersenyum lembut karna Raja Masih mengingatnya.
“Suatu kehormatan karna anda menitipkan Putra Mahkota pada hamba yang mulia, Saya merasa sangat terhormat”
“Tak ada yang bisa kupercayai atas Putraku selain dirimu Minhyun-shi,”
Raja Jinki dan Hwang Minhyun adalah Teman semasa kecil. Mereka cukup akrab saat Ayah Hwang Minhyun masih menjadi Panglima Kerajaan.
“Kedatangan Hamba kemari adalah Untuk mengabarkan perkembangan Yang mulia Wangseje yang telah menjalani pelatihan 3 tahun terakhir,”
“Dia masih belum cukup. Latih dia lagi,” Minhyun sedikit terkejut mendengar Kalimat Sang Raja. Namun ia tak berada di posisi untuk bisa membantah Raja.
“Hamba mengerti yang mulia,”
“Jika tak ada keperluan lagi Kau boleh pergi,” Ucap Raja.
“Sebenarnya ada yang ingin hamba sampaikan perihal pangeran Markota, Wangseje sangat merindukan Keluarganya dan-”
“Kau boleh kembali sekarang,” Kaliamatnya di potong langsung oleh sang Raja, sontak membuat Minhyun terhenti dan menatap Raja dengan tatapan bertanya. Ternyata respon Raja Jinki tak seperti yang difikirkanya, membuatnya cukup tercengang.
“Baiklah, Hamba mengerti yang mulia,” Membungkuk untuk memberi hormat perpisahan kemudian ia pergi dari ruang utama tersebut.

Minhyun keluar dari ruangan begitu saja tanpa berbicara panjang lebar lagi dengan Ong Seungwoo. Hanya sekedar berpamitan dan kembali pulang.

“Apa yang mereka bicarakan? Kenapa Wajah Ahjushi tampak tak senang?” Jisoo melihat Minhyun keluar dari ruang utama, Jihoon dan Jinyoung sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.

“Memang tak berjalan lancar,” Komentar Jihoon setelah melihat Body language dari Minhyun.
“Sepertinya begitu hyung,” Jinyoung menimpali. Mereka bertiga kini sudah tak bersembunyi lagi dan berdiri tegak di Koridor Istanah.

Akhirnya Ketiga bersaudara kini tengah kecewa karna ternyata Kedatangan Ahjushi itu sia-sia, mereka telah mengetahui bahwa Ahjushi itu membawa pesan dari kakak tertua mereka Lee Taemin dan Raja menolaknya.
“Tak ada gunanya jika kita meminta ijin,” Jihoon bergumamam, Jinyoung reflek menatap Jihoon karna memang Ia mengerti maksud perkataan Hyungnya tersebut.

 

 

Tanpa disangka siapapun, Dalam pandangan gelap malam kedua anak lelaki itu berjalan mengendap bersama tas bekal dan keperluanya. Mengendap melewati lorong belakang dan sangat waspada akan sekitar agar rencana mereka berjalan sukses.

Kratakk!!
Tanpa sengaja kaki Jinyoung menginjak ranting, ini karna efek kegelapan mereka kesulitan untuk melihat.

Dan ternyata Retakan ranting Jinyoung didengar oleh Penjaga, mereka benar-benar datang untuk memeriksa, Jihiin dan Jinyoung berdebar kencang, semua akan tamat jika mereka tertangkap basah melakukan pelanggaran berat seperti ini. Tiga penjaga semakin mendekat, mereka mencoba melihat apa yang terjadi dan-
“Penjaga!”
“Ah Nde Nona,”
“Aku susah untuk tidur, bisa tolong temani aku? aku ingin menghirup udara malam,”
“Tentu saja Nona Gweboon,” Ketiga penjaga mengikuti Gweboon. Jinyoung dan Jihoon menarik nafas lega. Mereka terselamatkan.

“Kau memberi tahu Gweboon Umma?” Jihoon bertanya
“Nde Hyung, Umma perlu tau karna selama ini dia merindukan Taemin Hyung juga,” Jinyoung menjawab polos.
“Ah syukurlah kau pintar Jinyoung,” setelah memuji, Sang kakak segera menggandeng adiknya untuk bergegas mengingat ini adalah perjalanan yang jauh.

 

Jihoon- Jinyoung sampai di Kota Cheongdap pagi hari setelah matahari terbit, Mereka memang sengaja agar bisa bertemu dengan anak Perempuan dari Hwang Minhyun ahjushi.

“Apa ini tempat yang benar Hyung?” Jinyoung melihat sekitar, Disana sudah ramai para siswa yang tengah berangkat sekolah.
“Tentu saja! Cheongdap adalah kota perbatasan yang kecil dan terpencil, Berdasarkan analisaku Putri Hwang Ahjushi pasti bersekolah ditempat terbaik di kota ini,” Jihoon mengira-ngira.
“Benar! Raja tak mungkin menitipkan Hyung pada orang sembarangan. Aku fikir Hwang Ahjushi Orang yang istimewa,”
“Kajja Jinyoung!” Segera menarik adiknya lagi.

 

Kakak beradik itu bertanya-tanya pada warga dimana sekolah Menengah dengan kualifikasi terbaik menurut mereka, Banyak yang mengira bahwa mereka mencari sekolah untuk diri mereka, Dan karna mereka bedua tampan orang senang hati menjawab dan membantu bahkan mengantarkan mereka. Setelah ditunjukan lokasi sekolah terbaik oleh para ahjuma akhirnya mereka kini berada di depan sekolah Daehwi.

“Jinyoung! Ayo bertanyalah,”
“Hyung mengapa aku eoh?” Sang Maknae protes.
“Tentu saja Karna kau Maknae, lagipula Mereka seumuranmu juga Jinyoung, Sudah sana!” Mendorong Jinyoung. Jinyoung sedikit pemalu, dia berjalan mendekat menuju gerumbulan siswi sembari terkadang menutup wajahnya dengan cadar transparanya.
“Eumm yogiyo,” Jinyoung berdiri depan para gadis itu, mereka yang semula sibuk berbicara entah apa kini terfokus searah pada Jinyoung, Jinyoung perlahan membuka penutup kepala dan cadarnya.

Para Siswi itu terpaku dengan mata takjub, Mereka semua terdiam sambil heboh saling berdorong dan senggol-senggolan. Jinyoung merasa salah tingkah juga bingung, Selama satu menit mereka saling melihat saja. Sementara Jihoon memutar mola matanya bosan melihat tingkah adiknya yang pemalu.
“Annyeong yorobun, Apa kami mengganggu kalian?” Ujar Jihoon yang langsung datang dan menepuk-merangkul Jihoon dari belakang.

KYAAA!! KYAAA! KYAAAA!
*Riuh-ricuh para siswi yang tertahan oleh rasa malu melihat Jihoon langsung dengan pesona Tegas dan wajah tampanya. Langsung berbicara dengan percaya diri dan berkarisma.

“Sama sekali tidak, Ada yang bisa kami bantu Oppa?”
“Iya, tidak mengganggu sama sekali,”
“benar sekali, kalian tak menggangu sama sekali,” Para gadis itu menjadi gila melihat Jihoon dan Jinyoung bersama.

“Ah nde! Aku dan adiku sedang mencari sepupu kami tapi karna aku dan dia belum pernah bertemu kami mengalami sedikit masalah tentang itu, Jujur saja kami kesulitan untuk menemukanya,” Jihoon memasang expresi yang manis. Para siswi semakin histeris.

“Kami akan membantu, akan membantu, iya”
“Benar ayo kita bantu,”
“Apa ada petunjuk tentang Sepupu kalian?”

“Ah! Yang kami ketahui hanya tentang dia yang merupakan gadis terpandai di sekolah ini,” Jihoon menjawab.

“Disini banyak gadis pintar, Sepupu kalian bisa siapa saja,”
“Ah ini sulit, Eottokhae”
“Benar. Apa kalian tak tau namanya? atau sesuatu yang berhubungan denganya?”

“Dia Putri jadi Hwang Minhyun Ahjushi,” Jinyoung menambahkan. Hampir saja mereka melupakan hal penting ini.

“Ommonaa Lee Daehwi??”
“Aiiigooo Lee Deehwi Jinjja? Ah Aku cemburu,”
“Mengapa Daehwi-a selalu dikelilingi lelaki tampan,”
“Setelah Kedua kakaknya yang tampan datang lagi dua sepupu yang tak kalah tampan Aigoo,” Jihoon dan Jinyoung hanya saling menatap kebingungan dengan respon para siswi yang cukup Ambigu bagi mereka.

“Sebentar! Kami akan panggilkan Daehwi untuk kalian,”
“Chagamma!” Jihoon menghentikan mereka.
“Gomapta Chingudeul, Saranghae ^_< ” Jihoon mengedipkan satu matanya kearah para gadis.
“Kyaaaa Ommona Aku hampir tak bisa bernafas” .
“Ini gila,”
“Sepertinya aku telah mendapat serangan mendadak,”
“Ya Tuhan tampan sekali,”
“Aku berdebar kencang,”
Para Gadis langsung Menggila setelah menerima Wink dari Jihoon. Mereka segera berlari kedalam kelas Daehwi dengan berbahagia.

“Apa itu tadi? Untuk apa hyung melakukan itu,” Jinyoung heran dengan tingkah kakaknya, Ini sudah lama sejak terakhir dia bertingkah sok menggemaskan.
“Aiih sudahlah kau tak usah banyak bicara, Kita tunggu saja mereka,”

 

Daehwi baru saja masuk kedalam kelasnya meletakan tas dan duduk selayaknya Putri Bangsawan, Tentu saja bersama Woojin disampingnya.

“Lee Daehwi..!! Lee Daehwi…!! Dimana Lee Daehwi!” Terdengar sekumpulan gadis riuh-ricuh memanggil namanya.

“Ige mwoya?” Daehwi bertanya pada Woojin, dan Woojin hanya merespon dengan mengangkat bahunya seolah berkata ‘Molla’
“Ramai sekali, dan terdengar seperti ada yang memanggil namaku,” Daehwi berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Lee Daehwi!”
“Ommo!! Kalian mengagetkanku!!!,”
“Aigoo Daehwiya, Bagaimana kau bisa seberuntung ini, tak adil sekali”
“Benar! kami iri sekali padamu ah jinjja!”
“Daehwi! Jadilah teman kami!”

Daehwi tampak kebingungan. Woojin berdiri menghampiri Daehwi dan para gadis kelas sebelah tersebut.
“Ada apa ini?” Ucap Woojin singkat.
“Ah! Di depan Ada 2 sepupu Daehwi yang datang dari jauh mencari Lee Daehwi,”
“Hah?? Sepupu?” Daehwi tak percaya.
“Benar. Mereka mengatakan bahwa mereka belum pernah bertemu denganmu maka dari itu mereka kesulitan menemukanmu, Ayahmu bernama Hwang Minhyun kan? Awalnya mereka hanya mengatakan ‘mereka mencari sepupu perempuan mereka yang merupakan gadis terpintar di sekolah ini’ begitu.”
“Geureso! Nae! Naya! Nayana!” Daehwi Heboh karna di sebut Gadis terpintar. Sementara Woojin hanya melirik Jenuh.
“Dimana mereka? ayo kita temui mereka!” Daehwi menggebu.
“Ommona Daehwiaaa, Bagaimana bisa ada Saudara-saudara Tampan seperti mereka,”
“Memangnya ada apa dengan mereka?” Woojin bertanya sarkasik.
“Mereka sangat tampan, tak bisa di bandingkan denganmu, kau sudah pendek, hitam dan gigimu tak rata” Salah satu gadis mencetus dan itu membuat Woojin mendengus.
“Ah! Biarpun begini Woojin adalah Sahabatku, kalian tak boleh menghinanya,” Daehwi membela. Woojin kembali tersenyum bodoh.
“Ayo cepat tunjukan mana Sepupu Daehwi!” Seperti biasa Woojin selalu menemani Daehwi kemanapun ia pergi.

 

Kini mereka sudah sampai didepan sekolah. Terlihat diu orang anak lelaki berdiri disana menggunakan pakaian yang indah.
“Mereka ada disana. Itu mereka!” Salah satu gadis menunjuk.
“Kalau begitu terima kasih, aku akan menemui mereka,”
“Tunggau! tak bisakah kami ikut menemanimu Daehwiaah?”
“Andweyo…!! Kalian bahkan tak mau berteman dengan Daehwi sebelum ini, aku yang menemaninya…sudah! sekarang kalian kembali saja ke kelas kalian sana, kalian pergi-pergi. Hush Hush! ” Woojin mengusir mereka. Para gadis yang otomatis direspon dengan dengusan kesal.

Kini daehwi dan Woojin bersembunyi dibalik Pagar sekolah sambari mengawasi Dua anak lelaki itu.
“Apa kau benar-benar tak mengenal mereka Daehwi-ah?”
“Tidak sama sekali. Aku tak pernah melihat mereka sebelumnya lagipula Umma dan Appa tak mempunyai saudara lantas siapa mereka? mengapa mereka mencariku? Dan lagi…Mereka tampan sekali. Hehehehe,”
“Benar! Mereka Tampan sekali, tapi mereka terlalu tampan untuk menjadi saudaramu. Oh!! Minho Hyung dan Taemin Hyung Juga tak kalah tampan Dan mereka saudaramu. Heeem berarti ada kemungkinan dua anak lelaki itu Saudaramu juga Daehwia,”
“Ah benar!”
“Tapi Daehwi, Mengapa kau tak seperti saudara-saudaramu?”
“Maksudmu!? kau ingin mengatakan bahwa aku jelek eoh?”
“Aniyaaa Hanya saja Kau tak mirip,”
“Aiigoooo Kata-katamu menyakitkan sekali. Aku tak percaya bahwa kau Sahabatku,” Daehwi merajuk karna dikatakan berbeda dari saudaranya yang tampan
“Aku ini menurun Ummaku Jisung Mom dan Minho Hyung Menurun Minhyun Appa,” Daehwi menjelaskan, dia tak terima di katakan tak mirip.
“Ah gurae! Minhyun Ahjushi sangat tampan jadi menurun pada Minho Hyung. Itu masuk akal,” Woojin berexpressi Paham.
“Masuk akal Pantatku!!” Daehwi mengabaikan Woojin dan kini berjalan mendekat pada Jihoon dan Jinyoung. Sempat ragu namun Ia adalah tipe gadis yang pemberani, hal seperti ini tak akan emngganggunya jadi ia tetap berjalan dengan tegak.
“Kalian mencariku?” Daehwi langsung berdiri tepat didepan mereka, berbicara sambil sedikit menganggat dagunya.
“Kau Putri Hwang Minhyun Ahjushi?”
“Nde!” Daehwi menatap Jinyoung, Sejenak terkagum karna mereka telihat lebih luar biasa dilihat dalam jarak dekat seperti ini, namun dengan gengsi yang tinggi Daehwi menyembunyikan perasaan takjub nya.

“Ah, Perkenalkan aku Jinyoung, Kami datang untuk-”
“AH! JINYOUNG!! Tunggu sebentar! Tunggu sebentar!” Daehwi memotonh kalimat Jinyoung kemudian memperhatikan Wajahnya. Berjalan mengelilingi Jinyoung dengan mendekap tangan di dada, Daehwi terus mendongak memperhatikan Jinyoung yang tinggi.

“Mwohayo!?” Jihoon tak suka adiknya di perhatikan seperti itu.
“Ada apa ini,” Woojin datang karna mendengar suara Jihoon yang sedikit keras pada Daehwi.
“Ah kalian diam dulu! Jinyoung…Jinyoung…Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tunggu! biar aku mengingatnya,” Semua orang terdiam mendengar celoteh Daehwi.
“Ah! Jinyoung!! Adik Taemin Oppa!!”
Ketiga anak lelaki yang berada disana benar-benar terkejut. Terutama Jinyoung dan Jihoon. Wajah mereka langsung tersenyum bahagia. Mereka sangat girang karna akhirnya berhasil menemukan Kakak mereka setelah 3 tahun pencarian.

“WU HUUU!!! Nde!! Benar! Aku adik Taemin Hyung! Hebat sekali! Bagaimana kau bisa tau!” Ucap Jinyoung dengan senang dan sedikit meloncat.

“Bagaimana kau bisa Tau Daehwi-ah?” Woojin bertanya karna ikut penasaran.
“Aku dan Taemin hyung sangat dekat. Dia mengatakan padaku aku ini seperti adik kecilnya yang bernama Jinyoung dan kami seumuran, Lagipula dari segi wajah Dia sangat mirip hanya saja wajahnya sedikit kebih kecil dan dia lebih tinggi, Oh perkenalkan! Namaku Lee Daehwi”
“Nde, Salam Kenal Daehwi aku Jinyoung dan ini Kakak ketigaku Jihoon. Aiigooo…aku tak percaya ini Kita telah menemukanya Hyung,” Ucap Jinyoung girang sambil memukul-mukul kecil Jihoon dan mendorong-dorong pelan.
“Ah! Jadi Taemin Hyung punya Saudara yang lain?”
“Tentu saja! Apa dia tak pernah bercerita tentangku padamu?” Jihoon bertanya dengan gaya Judasnya.
“Ani opso,” Menjawab datar. Dan direspon kerutan kesal pada wajah Jihoon.

“Ah Daehwi-a, Bisa tolong antarkan kami bertemu Hyung? Sudah tiga tahun kami tak bertemu denganya,”
Jinyoung meminta pada Daehwi, Namun ini adalah jam sekolah apalagi sekolah baru akan dimulai. Bagaimana bisa Daehwi membolos hanya untuk mengantarkan kedua anak lelaki tampan itu? Ia belum pernah melakukan itu sebelumnya.
Sedikit berdiskusi dengan Woojin.

“Ah Baiklah,” Ternyata Daehwi memilih Bolos walau Woojin sudah menasehatinya
“Ya! Ya! ya!” Woojin menyela.
“Gwenchana~ Ujin kau kembali saja kedalam kelasdan belajar dengan giat nde? Dan tolong ijinkan aku pada Seonsengnim nde~ Saranghae,” Setelah Memberi Wink dan bertingkah imut. Daehwi langsung berlalu meninggalkan Woojin kemudian mengajak Dua bersaudara mengikutinya.
“Haiisss Jinjja…Anak ini,” Tak banyak keluhan Woojin akhirnya kembali kedalam kelasnya.

 

Sementara diperjalanan mereka bertiga berjalan bersama, Daehwi terus mencuri pandang pada Jinyoung. Jihoon melihat itu dan terus mengerutkan alisnya.
‘”Eum Daehwi-ah Bagaimana Taemin Hyung selama tinggal bersamamu?” Jinyoung bertanya.
“Taemin Oppa sangat baik padaku, aku bahkan merasa dia lebih menyayangiku dari kakak kandungku sendiri, Taemin oppa pekerja keras dan luar biasa, Luar bisa sekali kami memilikinya selama ini,”
“Dia keluarga kami, bukan milikmu!” Jihoon sarkasik. Daehwi memandang tak suka ke arah Jihoon sedangkan Jinyoung hanya tertawa masam.

“Apa setelah ini kalian akan membawanya pulang?” Raut wajah Daehwi terlihat sedih.
“Entahlah,” Ucap Jinyoung dengan raut wajah yang sama.
“Ya! Apa maksudmu entahlah? Kita akan membawanya pulang! karna itulah kita jauh-jauh mencarinya kemari,” Sepertinya Jihoon sedang sensitif hari ini.

Suasana berubah dan Jinyoung tak menyukai itu, ia melihat sisi Kanan ada Daehwi yang berwajah cemberut dan di sisi kiri ada Jihoon yang berwajah tak menyenangkan.
“Ah hyung…Wajahmu tak cocok di pasangi Expresi seperti itu, Wajahmu terlalu cantik untuk cemberut Hehe,” Jinyoung bertingkah manis.
“Benar! Tak cocok sekali seperti Pantat Babon,” Daehwi menimpali dengan sarkasik.
“Yaaa!!!”
“Mwooo Mwo!” Jihoon dan Daehwi kini saling menantang.
“Aiihhh eottokhae,” Bukanya memperbaiki keadaan, Jinyoung justru membuat keduanya berselisih.

Setelah berjalan cukup lama, Kini mereka sampai didepan rumah kediaman keluarga Hwang.

Jisung dan Minhyun tengah berada didepan rumah berbincang entah apa. Melihat Daehwi berjalan bersama dua orang pemuda yang sepertinya sudah tak asing baginya.
“Kalian,” Kalimat singkat yang Minhyun keluarkan.
“Annyeonghaseo ahjushi” Jihoon dan Jinyoung memberi salam. Minhyun hanya mengernyitkan alisnya seolah bertanya ‘mengapa mereka ada disini’
“Kami adik dari Lee Taemin,” Jihoon soalah bisa membaca raut wajah Minhyun.
“Ommona!!” Jisung langsung tersadar bahwa yang tengah berada tepat di depanya adalah para Pangeran kerajaan, tak khayal sangat terkejut begitu pula Hwang Minhyun.
“Annnyeonghaseo Ahjuma-ahjushi. Jihoon Inmida, adik ke 3 Lee Taemin dan ini Jinyoung, adik bungsu kami,”
“OMO, Masuklah! Masuklah Jihoon-goon Jinyoung-goon Silahkan,” Jisung mempersilahkan mereka semua masuk dengan sangat sopan
“Ommona Akhirnya kalian datang juga, kalian di minta untuk menjemputnya kan? Ini bagus sekali karna Taemin begitu sangat merindukan keluarganya selama disini,” Jisung berbicara panjang lebar sembari menyajikan minuman untuk para pangeran kemudian kembali menuju dapur untuk mengambil suguhan lainya.

“Daehwi-a Tolong keluarkan semua ini, antarkan semua makanan ini untuk mereka nde,”
“Ummaaa~ Kau tak mengeluarkan makanan ini untuku tapi malah memberikanya pada mereka,”

Pletak!
Jisung Mengetuk kepala Daehwi yang bicara lancang dengan sekali jitakan.
“Ummaaaa Appoooo!” Keluh Daehwi sambil mengusap kepalanya.
“Kau jangan pernah kurang ajar pada mereka Daehwiah,” Cercah Jisung.
“Heol~ Memangnya mereka siapa,” Memutar mata dengan expresi meremehkan, tak tertinggal pose Sok Daehwi dengan tangan di pinggang.

Pletak!!
Jisung kembali Menjitak kepala Daehwi untuk kedua kalinya.
“AKH! UMMA!!” Daehwi mengerucutkan bibirnya.
“Haiih Naeppeun Yeoja! Aigoo~ Menurut saja apa yang kukatakan dan kau akan selamat,”
“Jika aku bersikap buruk pada mereka aku akan tamat? Heol~” Gerutu Daehwi.
“Cepat antarkan sudah! jangan banyak bicara palli palli,”
“Hufft. Menyebalkan,” Daehwi akhirnya menurut dan mengantarkan makananya dengan sopan.

 

Meletakan Makanan-makanan itu di meja depan Jihoon dan Jinyoung dengan perlahan.
“Gomawo Daehwi-ah ” Ucap Jinyoung dengan tersenyum manis. Daehwi tersipu melihat senyuman Jinyoung kemudia kembali kedapur dengan salah tingkah.
“Diamana Hyung kami Ahjushi?” Jihoon tiba-tiba langsung pada Pointnya. Tak bisa di pungkiri mereka berdua berada disana memang bukan untuk bertamu.
“Mohon bersabar pangeran, mereka akan segera pulang. Semalam mereka sibuk berlatih dan tak pulang,”
“Semalaman? Jinjja!?” Jinyoung terkejut.

 

Sementara itu, Kakak yang tengah di tunggu justru sedang berada di tepian danau bersama Minho. Mereka cukup kelelahan terutama Taemin, Semalaman berlatih fisik termasuk bela diri dan kemampuan menggunakan pedang. Kini mereka berdua tak berdaya saling merebah ditanah dan Taemin benar-benar sedang tidur.
“Kau pasti sangat kelelahan,” Memperhatikan wajah Taemin dengan lekat, entah rasa apa tapi Minho mendekatkan wajahnya pada Taemin.
“Tubuhmu harum sekali walau sedang berkeringat dan tidur sembarangan seperti ini. Inilah mengapa aku merasa senang saat kau berada di sampingku Taemin,” Memperhatikan wajah Taemin lebih detail lagi.
“Tiga tahun kita bersama aku merasa sesuatu yang Ambigu pada diriku. Aku tak yakin apa itu tapi kau cantik sekali,” Membelai wajah Taemin lembut sarta menyingkirkan poni yang menutupi kening dan matanya.
“Kau indah sekali, cantik sekali,” Mengangkat sedikit kepala Taemin dan meletakanya pada lengan Minho. Membiarkan Taemin tidur seperti posisi itu untuk beberapa waktu. Tiga tahun mereka tidur bersama dan baru pertama ini Minho menidurkan Taemin sedekat itu bahkan wajah Taemin nyaris menyentuh dadanya. Minho ingin membelai rambut Taemin namun urung karna takut Taemin merasa terganggu dan kemudian terbangun.

“Hoaammh” Taemin mengangkat satu kaki dan tanganya memeluk Minho seolah memeluk sebuah guling. Minho cukup terkejut namun ia tak mencoba untuk melepaskan diri .
“Awwh Sesak sekali! Baiklah, aku akan memaafkanmu karna kau Cantik,” Minho bergumam.Membiarkan mereka tidur di pinggiran danau di atas tanah beralas dedaunan seadanya saja. Selama hampir satu jam tertidur.

“AH!!”
Tiba-tiba Taemin terbangun dengan Expresi terkejut. Melihat sekitar dan sadar ia masih berada di pinggiran danau bersama Minho.
“Minho! Minho! Bangun!” Mengguncang-guncangkan tubuh Minho. Minho membuka mata perlahan dan mengucek mereka sebentar.

“Ini Sudah Jam Berapa!!! Kita harus menjemput Daehwi! Ayo kita pulang Minho! Palli palli,” Taemin segera bangkit dari tidurnya kemudian menarik Minho paksa untuk bangun, Minho masih lemas dan malas sekali untuk mengikuti Taemin. Taemin tak bisa membiarkan Deehwi pulang sendiri hanya karna kemalasan Minho.

Greb!
Menggenggam Tangan Minho dengan kuat, Minho reflek memandang pergelangan tanganya kemudian beralih pada Taemin. Tanpa Ba-Bi-Bu Taemin langsung menariknya dan membawa Minho untuk berlari.

“Eommaa!!” Taeriak Minho karna terkejut dengan tarikan kuat dari Taemin. Taemin membawa lari kencang sekali namun Minho tampak menyukainya, Ia terus tersenyum memandang bagian belakang Lee Taemin. Rambut coklat taemin yang tak dipotong selama tiga tahun ini benar-benar cantik terurai dan tertimpa angin. ‘Bisakah aku berharap tetap seperti ini?’ Curahan dalam hati.

Setelah berlari dengan kecepatan
Penuh akhirnya mereka bedua sampai didepan rumah kediaman keluara Hwang.
“Minho palliwa! ganti bajumu dan kita jemput Daehwi,”
“Ya!!! Memangnya ini jam berapa eoh? kita bahkan tak tau ini jam berapa!” Taemin merasa ia telah tertidur lama sekali di danau padahal itu hanya satu jam, jika Daehwi masuk sekolah tentu saja ini belum jam pulang.

 

Sementara Mereka ribut didepan rumah, orang-orang didalam rumah mendengar suara mereka langsung berlari keluar.
“Kita sudah tertidur lama sekali di sana Minho! jadi cepatlah! Kasian Daehwi jika pulang sendiri,”
“Kau ini berlebihan sekali, ada Woojin yang selalu menemaninya mengapa kau seheboh ini?”
“Haiih kau tak boleh mempercayai orang begitu saja, dia adik perempuanmu, seorang gadis!”
“Kenapa kau lebih repot daripada diriku yang kakak kandungnya Lee Taemin,”

“Hyung !!” Reflek perhatian Taemin teralih oleh suara yang sangat akrab. Matanya terbelalak.
“Kalian,”
“HYUNG!!!”
Mereka berdua berlari kearah Taemin dan langsung memeluknya. Suasana mendadak menjadi membingungkan untuk Minho, Pautan tanganya masih belum terlepas dan Jihoon melihat itu, memandang Minho sinis kemudian melepaskan paksa pautan tangan 2min tersebut, kemudian mendekapkan tangan Taemin pada dirinya sendiri. Mereka bertiga saling berpelukan lebih erat.Jinyoung tak bisa untuk tak menangis karna merasa begutu senang. Air mata juga menggenang memenuhi kelopak Lee Taemin.
“Kami sangat merindukanmu Hyung,”
“Aku juga merindukan kalian,” Melepaskan pelukan dan membingkai wajah Jinyoung dengan kedua tanganya.
“Kau tidak berubah Jinyoung, kau hanya lebih besar sekarang,” menyingkirkan poni dan Mengusap pucuk kepala Jinyoung.
“Kau juga Jihoon, Kau sekarang lebih tampan,” Tak merespon kasih sayang Taemin Justru ia mendekap kedua tanganya diperut dengan sedikit memiringkan wajah. [Bersikap tak perduli]
“Ada apa?” Taemin terkejut dengan sikap Jihoon yang tiba-tiba saja menjadi ketus padahal baru saja ia berlari untuk memeluknya.
“Dia sedang marah padamu hyung,”
“Ahahahaha..Kau marah? Dengan wajah itu? Wajah tampanmu terlalu manis Jihoon. Kau tak terlihat menakutkan sama sekali Hahaha,” Mendekap Jihoon sambil tertawa. Akhirnya dia luluh juga.

Sementara satu keluarga disana melihat adegan itu mereka bergunjing sendiri.

“Mengharukan sekali, ini cocok di jadikan drama Era Joseon,”
“Kira-kira judul apa yang cocok Hwi?”
“Three angle Love,”
“Ya! Tak cocok eoh! Kakak yang hilang lebih cocok,”
“Waah itu juga boleh, akan lebih bagus jika di tambahi kalimat Tertukar atau sejenisnya agar seperti Film-film yang kulihat disekolah.”
“Disekolahmu mempunyai alat untuk memutar film? Heol Daebak!”
“Tentu saja, Baru beberapa waktu lalu di datangkan dari luar negri, Sekarang era Joseon akan maju,”
“Benar sekali ah! mengapa aku lulus dengan cepat,” Minho dan Daehwi justru sibuk membicarakan sesuatu yang tak penting selagi 3 bersaudara itu sedang temu rindu setelah 3 tahun terpisah.

 

Di tempat lain, Ayah dan anak tengah duduk diruang tamu seorang mantan pengawal yang kini telah menjadi warga biasa dan melakukan aktifitasnya sebagai seorang petani.
“Ah!! Itu telah berlalu lama sekali. Sejak peristiwa itu, aku tak mendengar kabar apapun selain kematian para sahabat dan teman ku. Saat itu aku sudah tak bisa bergerak dan tak sadarkan diri. Namun karna hal itulah aku bisa bertahan hidup sampai sekarang aku sangat beruntung,”
Seorang lelaki tua menceritakan kejadian berpuluh taun silam ketika ia mengemban tugas untuk mengantarkan seorang bayi yang merupakan Seorang Pangeran untuk kembali menuju ke Kerajaannya.

“Saat itu sekumpulan perampok menghadang kami, membunuh dan merampok semuanya yang ada. Hanya aku yang selamat dalam Tragedi tersebut. mereka mengira aku telah mati juga seperti yang lain,”
“Bagaimana dengan bayi yang di tugaskan pada kalian? Dia adalah Kakakku paman,” Guanlin bertanya dengan penasaran.
“Maafkan aku nak, Aku tak mengetahui apa yang terjadi setelah itu, karna setelah peristiwa itu aku tak sadarkan diri selama 3 hari. Saat aku tersadar aku telah berada dirumahku, dari apa yang ku dengar. Dalam Tragedi itu tak seorangpun selamat kecuali aku,” pria paruh baya itu menyesalkan apa yang telah terjadi.
“Jadi Hyungku,” Guanlin meratap, Setelah Jauh mereka menempuh perjalanan dan mempertaruhkan semua untuk mencari Hyungnya. Kemudian kini tak mendapat hasil yang di harapkan. Seketika Guanlin tak punya tujuan apapun lagi disini.

Setelah berbincang ringan mereka berterima kasih kemudian mereka segera pamit dengan santun pada paman tersebut.

 

Awal kedatangan mereka berdua berjalan dengan tujuan pasti namun kini mereka berdua berjalan dikeramain dengan perasaan kecewa dan risau. Tak tau lagi apa yang akan mereka tuju selanjutnya.

“Bagaimana ini Appa? Hyung sudah tiada, Mari kita kembali saja kerumah,” Guanlin yang putus asa tak punya hal lain untuk difikirkan.

“Tunggu Guanlin!!” Sungwoon seolah mendapat suatu ide, Menarik Guanlin untuk mengikutinya.

 

 

“SAMBUT DAN UCAPKAN SELAMAT DATANG PADA PANGERAN KITA,
PANGERAN KEDUA LAI GUANLIN,”

‘Selamat datang yang mulia’

 

 

Untuk membaca Part sebelumnya…silahkan Klik Disini

2 Comments

  1. Indah Arnia October 22, 2017
  2. Rae Taemin Lee October 23, 2017

Add Comment