Destiny | 2min | Chap 4 - Kpop Indonesia

Destiny | 2min | Chap 4

Destiny | Chap  4
2min 
MinhoxTaemin 
Author: Albatroz

 

Terimakasih buat respon sebelum juga yg masih nunggu ff ini meskipun selalu lama updatenya hehehe ??? maafkan otakku yg selalu labil pas ngetik dan maaf kalau ceritanya jelek yaa karna aku hanya manusia biasa ???? ini chap udah aku panjangin karna katanya kemarin terlalu pendek jadi aku panjangin dan buat moment 2min… hahaha coba baca aja dulu ?? oke

 

Happy Reading!.

“Omo! Apa yang terjadi denganmu? Apa appamu yang melakukannya? Keterlaluan tak seharusnya ia memukulmu seperti ini” ucap Kim ahjuma saat ikut menghampiri Kai
“tak apa Umma memang aku yang salah jadi aku pantas mendapatkannya” ucap Kai dengan cengiran bodohnya
“ah hyung kapan kau datang? Apa kau sudah membaik?” tanya Kai 
“eum, aku akan menemui ahjussi” ucapku dan segera masuk pada ruang kerja itu setelah mengetuknya
“APA LA… ah Taemin”  Kim Young Min seorang pria parubaya berbadan tegap dengan mata hitam kelam sama seperti mata ummaku membalikkan tubuhnya dan hendak membentakku namun terhenti. Ia tampak terkejut melihatku, mungkin sebelumnya ia mengira aku Kai
“ahjussi” aku membungkuk hormat padanya dan ia segera berjalan mendekatiku
“maaf aku kira kau bajingan itu” ucap Kim ahjussi sambil memegang kedua pundakku
“dia anakmu ahjussi” ucapku sambil tersenyum
“ck, ya dia anakku yang tak tau terima kasih, aku sudah mendidiknya sebaik mungkin agar ia bisa menjadi orang terhormat tapi apa yang dilakukannya” ucap Kim ahjussi geram
“tenanglah dia pasti akan bisa membanggakanmu. Jadi kenapa kau ingin bertemu denganku ahjussi?” tanyaku langsung
“ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, duduklah dulu” ucapnya sambil mengajakku duduk pada sofa ditengah ruangan ini
‘Tok-tok’ 
“masuklah” ucap Kim ahjussi memberi perintah saat pintu ruang kerjanya di ketuk
“permisi Tuan, saya mengantarkan ini” ucap salah satu maid yang masuk sambil membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hijau
“ah letakkan di meja” dengan sigap maid itu menjalankan perintah Kim ahjussi dan setalah selesai ia segera pergi meniggalkan kami berdua
“minumlah, ini adalah minuman favoritku dan umma mu” ucap Kim ahjussi sambil mengambil salah satu cangkir itu dan menyeruputnya. Sikapnya memang sedikit mirip dengan ibukku 
“jadi bagaimana kondisimu? Kai bilang padaku kemarin kau sedang tak enak badan” tanyanya dengan nada lembut dan itu kembali mengingatkanku pada Appa yang dulu selalu memperhatikan kondisiku saat aku sakit. Aku tersenyum tanganku terulur mengambil secangkir teh hijau
“aku sudah membaik, hanya demam biasa bukan masalah besar” ucapku setelah meminum teh hijauku
“baguslah”
“Taemin.. apa kau masih tetap pada keputusanmu?” tanya Kim ahjussi sambil menatapku dengan serius
“tentang?” aku mengernyitkan dahiku tak mengerti, aku kembali meletakkan cangkirku pada meja
 “Kau bisa lihat bagaimana tingkah Kai aku ragu dia bisa memegang perusahaan, jadi…  Taemin apa kau masih tak berubah pikiran? Apa kau masih tak mau mengambil alih lagi perusahaan ini? Kau jauh lebih pintar dari Kai dan lagi ini adalah perusahaan mendiang orangtuamu, seharusnya kau yang menggatikannya” sambung Kim ahjussi mengungkit kembali masalah itu
“tidak ahjussi, aku tidak bisa. Ini perusahaan keluarga dari umma dan kau adalah adiknya jadi aku rasa kau yang lebih pantas” perusahaan orang tuaku memang perusahaan dari kakekku, Appa dari ummaku dan ummaku adalah anak pertama maka dari itu ia lah yang mewarisi perusahaan tapi bukan berarti Kim ahjussi tak mendapatkan apapun saat itu Kim ahjussi masih duduk di bangku sekolah dan usianya masih belia jadi ia hanya diwarisi beberapa saham juga salah satu cabang perusahaan. Itu yang umma katakan padaku. Kim ahjussi menghela nafas dan mengangguk
“baiklah jika itu memang keputusanmu tapi jika kau berubah pikiran tolong katakan padaku secepatnya” ucapnya sambil tersenyun lembut padaku meski aku dapat melihat guratan kecewa di wajahnya aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum menanggapinya
Semenjak meninggalnya orang tuaku Kim ahjussi lah yang merawatku selama ini dia mendidikku dengan baik bahkan dia menularkan kecerdasannya sebagai dokter hewan padaku. Sebelum ia memegang perusahaan ia adalah seorang dokter hewan. Keluarga ini sudah seperti keluargaku sendiri tapi tetap saja masih ada ruang hampa yang menguasai hatiku. Aku tinggal dirumah ini sampai aku berhasil mendapatkan gelarku sebagai dokter hewan setelah itu aku memutuskan untuk membuka klinik sendiri dan tinggal sendiri awalnya Kim ahjuma sangat menentang hal itu bahkan dia sampai menangis untuk membujukku tapi aku berhasil meyakinkannya
“apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan?” tanyaku
“aku rasa tidak”
“baiklah ahjussi aku harus pergi sekarang, ada sedikit urusan” ucapku mengundurkan diri dan bangkit membungkuk hormat
“apa urusan itu sangat penting hingga kau terburu-buru? Apa kau sudah bosan dengan lelaki tua ini?” ucapnya dengan nada yang dibuat kecewa aku tak bisa menahan senyumku dan langsung memeluknya. Hangat, sangat hangat dan nyaman seperti pelukan Appa
“aku tidak akan pernah bosan padamu ahjussi kau sudah seperti appaku, tapi ada sesuatu yang harus kulakukan” ucapku masih memeluknya
“hahh… baiklah kalau begitu berjanjilah untuk makan malam disini sudah lama kita tak makan malam bersama bukan? Andai kau tau ahjuma mu selalu membicarakanmu saat makan malam ia masih ingin kau kembali kesini” ucap Kim ahjussi sambil mengusap punggungku, aku melepas pelukanku dan tersenyum
“ya baiklah aku berjanji”
“bagus”
“baiklah aku pergi dulu ahjussi” ucapku dan langsung melangkah pergi
“Taeminie apa kau sudah  mau pulang?” ucap Kim ahjuma saat melihatku berjalan menuju pintu keluar
“ah ne ahjuma, aku ada sedikit urusan tapi aku akan ikut makan malam disini nanti”
“benarkah? Baiklah kalau begitu aku akan memasak semua makanan kesukaanmu” ucap Kim ahjumma riang 
“bagaimana dengan Kai?”  tanyaku teringat dengan Kai
“aku sudah mengobatinya dan menyuruhnya untuk istirahat”
“ah baiklah ahjuma aku pulang dulu” ucapku sambil memeluknya
“ah ne ne. Ingat aku menunggumu nanti malam” ucap ahjuma tegas aku tersenyum dan melesat pergi

☆☆☆☆☆

Minho PoV
Aku mendaratkan tubuhku ditaman indah tempat biasa aku istirahat. Aku rasa aku butuh istirahat setelah menjemput sekian banyak nyawa yang menyebalkan. Dahiku berkerut saat melihat Jinki hyung yang tidur dengan tenang di sana
“kenapa sekarang kau suka merebut tempatku hyung?” protesku sambil membaringkan tubuhku disamping Jinki hyung dengan malas
“maafkan aku, tempatmu memang nyaman untuk mencari ketenangan” ucap Jinki hyung masih memejamkan matanya. Aku hanya menghela nafas beratku dan ikut memejamkan mataku. Hening. Aku dan Jinki hyung hanya diam menikmati semilir angin. Entah apa yang sedang dilakukan Jinki hyung, mungkin sedang mengawasi targetnya atau sedang memikirkan sesuatu yang pasti ia tidak tidur karna memang para malaikat tidak bisa tidur.
Aku membuka mataku dan melirik Jinki hyung
“apa yang kau pikirkan? Kenapa sekarang kau sering melamun hyung?” tanyaku saat melihat Jinki hyung terdiam menatap langit
“Targetku” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya
“Targetmu?” tanyaku tak mengerti apa maksudnya
“iya, wajah, sikap, hati mereka terkadang membuatku bimbang dan bahkan tak tega harus menjemput mereka” Jinki hyung berucap lembut matanya menerawang jauh 
“disaat ia baru merasakan sesuatu yang disebut kebahagiaan dan aku harus menjemputnya” sambungnya
“itu takdir hyung” ucapku singkat sambil menyamankan posisi tidurku
“ya itu adalah takdir, ini adalah garis hidupnya” Jinki hyung kembali berucap dan membuatku teringat pada Taemin
“hyung menurutmu kenapa manusia melakukan dosa?” tanyaku menatap Jinki hyung
“karena memang mereka kalah dengan nafsu mereka” jawabnya
Ya ia benar harusnya aku menyadari itu kenapa aku harus bingung dengan ini. Aku kembali menatap langit dan menghembuskan nafasku. 
“apa yang harus aku lakukan Minho?” pertanyaan Jinki hyung membuatku kembali menatapnya bingung
“apa maksudmu?”
“apa menurutmu takdir itu?” tanya Jinki hyung mengabaikan pertanyaanku
“sesuatu yang terjadi sekarang itu pemikiran ku”
“apa takdir bisa dirubah?” 
“kenapa kau bertanya seperti manusia yang sedang putus asa hyung?”
“aku hanya ingin memastikan”
“ada takdir yang bisa dan tak bisa dirubah jika memang kau ingin merubah takdir maka berjuanglah. Bukankah seperti itu?” jawabku Jinki hyung bangkit mendudukan tubuhnya
“ya kau benar” 
“itu untuk manusia hyung, apa kau juga ingin merubah takdir? Tapi apa yang ingin kau rubah?”
“sesuatu yang akan menjadi takdirku yang baru di masa depan. Aku harus pergi melakukan tugasku sekarang Minho. Selamat tinggal” ucap Jinki hyung sambil tersenyum lebar lalu melesat pergi meninggalkanku yang masih menatapnya bingung
“kenapa dia selalu membuatku bingung” gumamku

☆☆☆☆☆

Author PoV
“Taemin hyungggg!!! Taemin oppaaa!” teriak beberapa anak kecil saat melihat kedatangan Taemin. Taemin tersenyum meletakkan beberapa kantong plastik bawaannya dan beralih memeluk anak-anak kecil yang mengerubunginya
“akhirnya kau datang hyung, aku sudah menunggumu sedari tadi, kenapa kau terlambat?” ucap Yoogeun anak laki-laki berumur tujuh tahun dengan logat lucunya. Taemin terkekeh melihat tingkah Yoogeun tangannya terlulur mengacak rambut hitam itu
“mian, hyung ada sedikit urusan”
“Taemin kaukah itu?” seorang wanita parubaya keluar dari pintu rumah sederhana bercat hijau tua itu
“Ne.. Park ahjumma ini aku” Taemin tersenyum lebar dan segera berjalan lalu memeluk Park ahjumma erat. Menghirup aroma tubuh ahjumma yang ia sukai karna menurutnya aroma itu seperti mendiang ibunya. Aroma sosok ibu yang menenangkan. Bagi Taemin Park ahjumma adalah ibu keduanya
“Ku kira kau tak datang hari ini” ucap Park ahjumma lembut sambil mengusap punggung sempit Taemin
“mana mungkin aku tidak kesini aku pasti akan sangat merindukan kalian” ucap Taemin merajuk manja pada Park ahjumma
“baiklah baiklah sekarang masuklah dulu dan apa kau sudah sarapan? Jika belum cepat ajak adik adikmu itu makan sedari tadi mereka tak mau makan karna menunggumu” ucap Park ahjumma melepaskan pelukan mereka
“benarkah?” 
“kami menunggumu oppa” Umji, gadis kecil berumur lima tahun itu memeluk kaki ramping Taemin sambil mendongak menatap Taemin. Mata bulatnya mengerjap lucu. Taemin langsung menggendong gadis kecil itu dan mencium pipinya
“jangan lakukan itu bagaimana kalau aku tidak datang apa kalian juga tak akan makan?” tanya Taemin
“Jika kau tidak datang aku akan menjemputmu hyung” Taemin menoleh menatap Jaemin bocah yang paling tua 
“baiklah baiklah sekarang aku sudah datang dan sekarang ayo kita sarapan, aku membawa beberapa cemilan untuk kalian juga beberapa mainan baru jadi setelah makan kita akan bersenang-senang” ucap Taemin dan sukses membuat semua mata anak anak itu berkilat senang begitupun Park ahjumma yang tersenyum melihat tingkah anak anak yang ia rawat selama ini
Semenjak Tuan Kim meminta Taemin ikut bersamanya dan Tuan Kim yang memberinya uang yang cukup banyak untuk mencari pekerjaan lain Park ahjumma memutuskan mendirikan panti asuhan. Ia hidup sebatang kara, pernikahannya selama dua puluh tahun tak juga mendapatkan anak hingga suaminya meninggal karna penyakit yang dideritanya lima tahun lalu. Park ahjumma sangat menyukai anak kecil karna itulah ia mendirikan panti asuhan. Ia merawat mereka penuh dengan kasih sayang seperti anaknya sendiri. Park ahjumma membiayai mereka mengandalkan donasi dan hasil dari kedai ramen kecilnya juga bantuan dari Taemin. Setiap akhir pekan Tarmin akan berkunjung membantu Park ahjumma merawat mereka. Dengan senang hati Taemin mengajari mereka layaknya seorang guru seperti saat ini. Setelah makan mereka langsung berkumpul di halaman depan duduk beralaskan tikar kecil yang masih cukup menampung mereka semua dan Taemin yang berdiri disamping papan tulis kecil. Dengan penuh kegembiraan mereka belajar bersama meskipun diselingi dengan candaan tapi mereka tetap belajar dengan serius. Dan inilah sisi lain Taemin. Tak ada yang tau jika Taemin pernah tertawa lepas seperti ini kecuali Park ahjumma dan anak-anak kecil ini.
Disisi lain masih di tempat yang sama Minho tercengang melihat apa yang Taemin suguhkan padanya. Pemandangan yang tak pernah ia kira sebelumnya. Sosok targetnya yang ia anggap hanya hidup dengan dosa dan hidup dalam aura gelap itu ternyata juga memiliki hati yang indah, hati yang tulus akan kebaikan. Untuk kedua kalinya Taemin membuat Minho tercengang
“inikah yang dimaksud Kibum?” gumam Minho
Mata Minho masih menatap Taemin lekat memeperhatikan setiap gerak Taemin. Hingga mata Minho terkunci pada wajah Taemin yang tersenyum manis. Entah apa yang terjadi ia seketika teringat kejadian semalam kejadian dimana Taemin mentapnya dengan penuh rasa sakit dan kini ia melihat Taemin tersenyum indah membuat Minho merasa ada sesuatu yang lega dalam dirinya entah ia juga bingung tentang apa yang terjadi dengan dirinya saat ini

☆☆☆☆☆

“Hyungg!!” Jisung berlari mendekati Taemin membuat poninya bergerak-gerak lucu. Nafasnya terengah dan wajahnya terlihat panik membuat Taemin mengerutkan dahinya
“wae? Apa ada hal buruk?” tanya Taemin saat Jisung telah sampai dihadapannya
“hhh hyung aku menemukan sesuatu di bawah tempat tidur Jaemin hyung saat mengambil mobil-mobilanku”
“memang apa yang kau temukan?” celetuk Yoogeun merasa penasaran mmembuat yang lain ikut memperhatikan Jisung
“ini, sesuatu yang dihisap oleh orang dewasa dan aku juga menemukan beberapa butir obat apa Jaemin hyung sedang sakit dan tidak memberitau kita?” mata Taemin terbelalak melihat apa yang ditunjukkan Jisung. Beberapa batang rokok juga sebungkus ekstasi
“sekarang dimana Jaemin?” tanya Taemin setelah merampas apa yang dibawa Jisung
“dia sedang kekamar mandi hyung” jawab Jisung dan dengan sigap Taemin berdiri dan melangkah cepat mencari Jaemin namun tiba-tiba dadanya kembali terasa sakit ia meringis memegang dadanya
“hyung ada apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoogeun dengan cepat Taemin berusaha mengendalikan rasa sakitnya dan memasang senyumnya
“aku baik-baik saja” ucap Taemin dan kembali berjalan dengan masih menahan rasa sakit didadanya

☆☆☆☆☆

Taemin mengusap dadanya pelan. Rasa sakit itu sudah mereda kini ia tengah berada di ruang tengah menunggu Jaemin yang masih berada didalam kamar mandi. Sesekali ia melirik Park ahjumma dari jendela yang langsung menembus pada kedai ramen disebalah rumah. Melihat tangan terampil wanita parubaya itu mengolah ramen juga sikap ramahnya pada para pelanggan
‘cklek’ 
Taemin langsung menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka 
“Apa kau sedang sakit perut?” tanya Taemin sambil menghampiri Jaemin
“ne.. sepertinya aku terlalu banyak memakan kue beras yang kau bawa hyung” jawab Jaemin sambil mengusap perutnya
“kau terlalu serakah, jangan ulangi itu lagi sekarang apa sudah lebih baik?” tanya Taemin lembut dan Jaemin hanya mengangguk
“baiklah sekarang ikut aku, ada yang ingin aku tanyakan” Taemin merangkul pundak Jaemin lembut lalu memebawanya pada halaman belakang rumah
“apa ini milikmu?” tanya Taemin langsung menunjukkan dua barang itu saat mereka telah di halaman belakang. Jaemin langsung tercengang matanya melebar
“a-a hmmm itu.. itu bukan bukan aku” jawab gugup Jaemin
“berkatalah jujur, jika tidak aku akan benar benar marah” ucap Taemin lembut tapi penuh dengan ketegasan
“ne itu milikku” jawab Jaemin sambil menunduk tak berani menatap Taemin
“dari mana kau tau benda seperti ini? dan apa kau sudah menggunakannya?” Taemin mulai mengintrogasi Jaemin
“dari teman sekolahku, aku…. sudah pernah menggunakannya” Taemin menghela nafas sungguh ia sangat menyayangi adik-adiknya dan hatinya sangat terluka melihat ini. Dia memang buruk dia juga pengguna barang itu tapi ia tak ingin adik-adiknya juga ikut terjerumus sama seperti dirinya
“sejak kapan?”
“seminggu yang lalu”
“kenapa kau melakukan ini?”
“aku sangat merindukan orang tuaku dan aku sangat frustasi saat melihat teman-temanku membicarakan orang tua mereka dan salah satu temanku datang menawari itu. Ia bilang dengan itu rasa sedihku bisa hilang” 
Deg!
Mata Taemin memanas, ia langsung memeluk erat Jaemin. Ia tau bagaimana perasaan Jaemin.  Ibu Jaemin meninggal saat melahirkannya sedangkan ayahnya meninggal karna kecelakaan saat Jaemin masih satu tahun. Itu yang ia tau dari Park ahjumma
“maafkan aku hyung” Taemin bisa merasakan pundaknya basah karna air mata Jaemin. Taemin memejamkan mata menahan air mata yang siap keluar
“jangan lakukan itu lagi. Kau punya orang tua. Ada Park ahjumma bukankah dia juga ibumu. Aku mohon jangan lakukan itu lagi” ucap Taemin sambil mengeratkan pelukannya. Ia benar benar tak mau jika Jaemin seperti dirinya, cukup ia saja yang seperti ini
“berjanjilah padaku Jaemin-ah” sambung Taemin melepas pelukannya dan mengulurkan jari kelingkingnya. Jaemin tersenyum 
“ne hyung aku berjanji” ucapnya lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Taemin

☆☆☆☆☆

Taemin dengan perlahan menidurkan tubuh mungil Umji di ranjang. Menyelimutinya dan mencium keningnya lembut.
“kau juga tidur siang lah, istirahatkan badanmu” ucap Park ahjuma di ambang pintu kamar Umji. Taemin menoleh dan tersenyum melangkah menghampiri Park ahjumma
“kau juga istirahatlah jangan biarkan wajah cantikmu itu hilang karna lelah” ucap Taemin sambil memeluk manja Park ahjuma hingga membuatnya terkekeh
“meskipun aku lelah aku tetap cantik” ucap Park ahjumma sambil tersenyum. Taemin melepas pelukannya dan menatap Park ahjumma
“hhh kau cantik seperti putri tidur jadi tidurlah agar terlihat semakin cantik” Park ahjumma terkekeh mendengar ucapan Taemin 
“baiklah aku akan tidur sebentar lagi” ucap Park ahjuma 
“bagus. Sekarang aku juga akan tidur” Taemin merentangkan tangannya sambil menguap dan berjalan menuju kamarnya yang ada dirumah ini
“dasar” ucap Park ahjumma sambil tersenyum geli melihat tingkah Taemin
Taemin menutup pintu dan segera mengeluarkan pill dari kantong celananya. Pill ekstasi milik Jaemin. Ia sudah menahan ini sejak tadi dan sekarang ia sudah tak tahan. Tubuhnya mulai mengigil dan baru hendak membuka plastik pill itu tiba-tiba tanpa sengaja bungkusan kecil itu jatuh. Pandangan Taemin mulai mengabur, tubuhnya juga berkeringat dingin Taemin berusaha mengambil bungkusan itu. Tapi entah apa yang terjadi saat Taemin berhasil meraih bungkusan itu tiba-tiba bungkusan itu seperti menarik Taemin membuatnya jatuh tersungkur dan bungkusan pill itu terlepas dari genggamannya. Taemin berusaha mencari kembali bungkusan itu tapi bungkusan pill itu menghilang entah kemana
“Omo Taemin apa yang terjadi?” ucap Park ahjumma terkejut melihat Taemin yang tergeletak lemas di lantai
Di tengah rasa sakit yang menghujat tubuhnya Taemin berusaha bangkit. Ia tak mau Park ahjuma mengetahuinya. Ia harus baik-baik saja.
“kepalaku pusing” ucap Taemin beralasan. Ia mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada pinggiran ranjang
Park ahjuma menghampiri Taemin dengan wajah khawatir. Tangannya terulur ingin menyentuh dahi Taemin memeriksa suhu tubuhnya tapi Taemin segera menampis lembut mengenggam tangan Park ahjuma erat
“apa kau punya obat tidur? Beberapa hari ini aku tak bisa tidur jadi kepalaku sangat pusing sekarang, aku ingin tidur” ucap Taemin dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menusuk pada tubuhnya
“ah ne ne tunggu sebentar” dengan cepat Park ahjumma segera bergegas pergi mencari apa yang Taemin minta dan tak perlu waktu lama Park ahjumma telah kembali dengan segelas air putih juga obat. Park ahjumma membantu Taemin meminum obatnya lalu menuntunnya tidur diatas ranjang
“apa kau merasa lebih baik?” tanya Park ahjumma setelah menyelimuti Taemin. Raut mukanya masih terlihat sangat khawatir
“iya ahjumma, aku baik-baik saja pergilah istirahat aku juga akan tidur” ucap Taemin berusaha tersenyum
“baiklah, panggil aku jika terjadi sesuatu” Taemin mengangguk mengiyakan. Ia sudah benar-benar lemas. Setelah Park ahjumma telah hilang dibalik pintu, Taemin langsung menggeram tertahan dia butuh pillnya sekarang tapi sialnya ia lupa tak membawanya. Ia sudah tak tahan dan mulai menggigit lengannya sendiri hingga mengeluarkan darah. Tak berlangsung lama tiba-tiba hawa dingin menerpa tubuhnya dan membuatnya mengantuk dan terlelap perlahan. Bukan karna pengaruh obat tidur yang diminumnya melainkan sosok Minho. Entah apa yang dilakukan Minho ia yang menghilangkan pill itu dari Taemin dan ia juga yang membuat Taemin tertidur. Kebingungan melanda dirinya kenapa ia seakan menyelamatkan Taemin dari dosanya lalu apakah ini benar untuknya? Tapi sesuatu dalam hati Minho lah yang memerintahkan ia melakukannya  

☆☆☆☆☆

Hari mulai sore dan hampir memasuki jam makan malam Taemin sudah bangun dari tidurnya. Ia ingat ia sudah berjanji pada Kim ahjussi untuk makan malam bersama. Dengan segera ia bergegas pamit pada Park ahjumma juga adik adik kecilnya.
“apa kau yakin kau baik-baik saja? Menginaplah disini dulu?” tanya Park ahjumma masih khawatir. Taemin tersenyum lalu memeluknya erat
“aku baik-baik saja jangan khawatir. Aku pulang dulu” Park ahjumma hanya mengangguk pasrah mengiyakan. Ia masih sangat khawatir pada Taemin semenjak melihat kejadian tadi siang
Taemin merogoh saku jaket megeluarkan ponselnya yang baru saja bergetar menandakan ada pesan masuk
‘Taemin-ah cepatlah datang aku sudah masakkan steak kesukaanmu’
Taemin tersenyum simpul membaca pesan dari Kim ahjumma. Ia memasukkan kembali ponselnya dan segera menaiki motor sportnya dan segera melajukan motornya
Taemin menghentikan motornya didepan sebuah toko bunga. Taemin berniat membelikan Park ahjumma bunga kesukaannya. Hanya sebagai hadiah kecil untuk berterima kasih. Tak perlu waktu lama Taemin sudah mendapatkan seikat bunga lili ditangannya dengan tenang Taemin melangkah menghampiri kembali sepeda motornya

☆☆☆☆☆

Minho masih terus memperhatikan Taemin meskipun sebenarnya ia ada tugas lain. Ia masih terus mengikuti Taemin dan memperhatikannya tak memperdulikan pergelangan tangannya yang mulai berkedip menandakan ia harus bersiap mencabut nyawa orang lain. Minho menghela nafas mengedarkan pandanganya. Targetnya berada tak jauh dari Taemin sekarang, jadi ia masih bisa mengawasi Taemin sambil melaksanakan tugasnya untuk mencabut nyawa targetnya yang lain
“siapa kau sebenarnya?” 
Deg!
Minho terdiam mendengar ucapan Taemin. Taemin tiba-tiba saja menghentikan langkahnya
“kenapa kau selalu mengikutiku?” Minho yang berdiri dibelakang Taemin bisa mendengar apa yang dikatakan Taemin dengan jelas. Tubuh Minho mulai menegang
“apa kau arwah orang tuaku? Umma? Appa? Atau kau arwah dari korbanku? Apa kau ingin membalas dendam?” masih di posisi yang sama Taemin terus berucap dan membuat Minho semakin tercengang
“Atau kau malaikat pencabut nyawa yang akan mencabut nyawaku?” sambung Taemin mata Minho makin terbuka lebar terkejut dengan apa yang di katakan Taemin
“Jika kau Umma atau Appa.. aku ingin kau tau aku sangat merindukanmu, jika kau arwah korbanku maafkan aku, kau bisa membalas dendam padaku sekarang juga, dan jika kau malaikat pencabut nyawaku bisakah kau memberiku waktu sampai aku bisa membunuh orang yang telah membunuh orang tuaku? Aku memang tak bisa melihatmu tapi aku bisa merasaknnya” ucap Taemin. Ia terdiam sejenak menghela nafasnya dan kembali melangkahkan kakinya sedangkan Minho, ia bagai tersambar petir entah kenapa hatinya seperti tersayat mendengar ucapan Taemin. Kenapa ia merasa ada yang aneh kenapa ia merasa Taemin berbeda. Minho masih berkutat pada pikirannya hingga pergelangan tangannya yang berkedip merasa sakit. Minho segera melihat pergelangaan tangannya dan benar saja angka di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka “00:00” dan ia belum mencabut nyawa targetnya
‘slem’
Minho menghilang  dan kembali muncul di tengah jalan raya. Ia melihat targetnya, seorang wanita perpakaian sexy tengah menyebrang dalam kondisi mabuk. Minho sedikit meringis menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya, sebelumnya ia tak pernah sampai terlambat melaksanakan tugasnya hingga membuat tangannya sakit seperti ini. Ini untuk pertama kalinya dan karna Taemin. Minho mengarahkan tangannya membuat sebuah mobil melaju dengan cepat menuju wanita itu. Mobil itu sudah hampir menabrak wanita itu hingga sesuatu yang tak sempat Minho hindari terjadi
“AWAAAS!!”
BRUK!
‘SLEM’


☆☆☆☆☆

Taemin yang berada tak jauh dari tempat itu dan melihat seorang  wanita yang hampir tertabrak, ia segera berlari dan mendorong wanita itu menepi hingga membuat tubuhnya yang terhantam mobil dengan keras. Tubuh Taemin terlempar dan menembus tubuh Minho sebelum ia benar-benar terjatuh. Minho merasakan dunianya seakan berhenti saat itu juga. Sesuatu seperti masuk dalam dirinya hingga ia tersadar saat semua orang disekelilingnya berlari menghampiri tubuh Taemin yang tergelatak di jalan. Minho membalikan tubuhnya menatap Taemin dan untuk kesekian kalinya ia melihat mata itu menatap lurus pada matanya membuat sesuatu dihatinya terasa aneh hingga mata sayu itu perlahan benar-benar tertutup. Sungguh Minho tak menduga semua ini akan terjadi apa ini takdir?

☆☆☆☆☆

Minho berdiri bersandar pada tembok disudut ruangan ini, menatap mata sayu itu yang perlahan mulai terbuka, mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang menyapa indra penglihatannya. Tubuh kurus Taemin terlihat lebam di beberapa bagian, ia meringis memegangi kepalanya yang dibalut perban saat berusaha mendudukkaan tubuhnya, mata sayunya bergerak menatap sekitar 
“siapa kau?” tanya Taemin  dan seketika mata Minho terbelalak. Tangannya menunjuk pada dirinya sendiri lalu menoleh kebelakang memastikan  tak ada siapa siapa lagi selain dirinya dan Taemin disini
“aku?” tanya Minho ragu
“apa ada orang lain selain dirimu disitu?” ucap Taemin datar
“k-kau bisa melihatku?” 
“apa kau hantu atau malaikat yang tak bisa dilihat?” ketus Taemin
Minho tercengang, ia sungguh tak bisa berpikir apa yang terjadi. Kenapa Taemin bisa melihatnya? Apa ini takdir?

TBC

 

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaaa karna itu sangat berharga untukku ??????

Add Comment