Destiny | 2min | Chap 5 - Kpop Indonesia

Destiny | 2min | Chap 5

Destiny | Chap 5
2min 
MinhoxTaemin 
Author: Albatroz

 

Wohoooooo…… Destiny is back!!! Maap ya yang udah nunggu terlalu lama di chap ini… 😆😆😆 owe baru beli kuota juga otak yang kadang gk bisa diajak kompromi 🔫🔫🔫 oke selamat membaca semoga gk mengecewakan 😓😓😓

 

 

Happy Reading!.


Taemin PoV


Baru aku akan menaiki sepeda motor sportku hingga mataku tanpa sengaja melihat sebuah mobil melaju dengan cepat kearah wanita yang dengan cerobohnya menyebrang dalam keadaan mabuk. Dengan sigap aku berlari mendorong wanita itu menepi dan seakan nasib malang terus menghujatku, tubuhku terhantam dengan keras menggantikan tubuh wanita itu hingga aku terpental cukup jauh dari mobil itu berhenti. Sesaat aku merasakan seperti menembus sesuatu, sesuatu dengan perbedaan suhu yang sangat terasa, sesuatu yang halus dan terasa menusuk tepat pada jantungku hingga aku benar-benar tarjatuh. Sekujur tubuhku seakan mati rasa dan tak bisa digerakkan, apakah ini ajalku? Aku bisa merasakan bau anyir mulai menyapa indra penciumku juga teriakan orang-orang yang mulai berlarian mengerumuniku. Sayup mataku melihat sesosok dengan pakaian serba hitam dan wajah bercahaya juga sepasang sayap yang mulai muncul dibalik punggungnya berdiri diantara kerumunan orang tak jauh dariku. Mata hitam kelamnya menatap lurus mataku. Diakah yang akan menjemputku dan membawaku ke neraka? Batin ku terus bertanya hingga hanya gelap yang aku dapat

☆☆☆☆☆

Mataku perlahan terbuka dan langsung disambut dengan garang oleh cahaya lampu yang menusuk mataku. Aku mengerjapkan mata berusaha menyesuaikan mataku dengan cahaya. Dengan sisa tenaga aku berusaha mendudukan tubuhku dan seketika kepalaku terasa seperti  dihantam keras pada dinding. Aku meringis menahan sakit yang mendera, aku bisa merasakan kapalaku yang diperban juga jarum infus yang menancap pada pergelangan tanganku. Tanpa merasa bingung seperti orang idiot pada serial drama di tv aku sudah tau jika aku sedang ada dirumah sakit dan pastinya orang-orang yang mengerubungiku kemarin yang membawaku kesini. Aku mengedarkan pandangan kesekeliling dan berhenti pada seseorang yang tengah berdiri bersandar pada dinding di ujung ruangan. Aku memperhatikannya yang mengenakan setelan baju serba hitam, tubuhnya tinggi tegap, hidung mancung juga bibir yang sensual terpahat dengan sempurna, matanya bulat juga tatapannya yang begitu kelam, rahangnya yang tegas seakan merangkum semua keindahan pada wajahnya. Tak dapat kupungkiri sejenak aku mengaguminya. Tapi.. aku seakan tak asing dengan wajahnya apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?


“siapa kau?” tanyaku akhirnya, aku bisa melihat ia sedikit terlonjak kaget dan menatapku bingung


“aku?” ucapnya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. Ck. Aku menarik kata-kataku kalau aku sempat mengaguminya


“apa ada orang lain selain dirimu disitu?” ucapku datar


“k-kau bisa melihatku?” 


“apa kau hantu atau malaikat yang tak bisa dilihat?” ketusku dia benar benar aneh


“ini tidak mungkin” gumamnya aku menghela nafasku


“jadi kau siapa? Apa kau  menolongku?” tanyaku dan ia nampak bingung


“hh… lupakan jika kau yang menolongku terima kasih” ucapku akhirnya tak terlalu ingin tau 


“sshh” aku meringis saat kepalaku kembali berdenyut sakit saat aku ingin menggerakkan kakiku. Aku duduk dengan menggantungkan kakiku di tepi ranjang sambil tanganku yang hendak menarik selang infus di pergelangan tanganku sebelum suara bass yang terdengar lembut juga tegas menghentikanku


“apa yang kau lakukan?” tanya orang berbaju hitam itu


“menurutmu? Aku ingin pulang” ucapku


“jangan menyiksa dirimu sendiri, kau masih perlu istirahat tubuhmu masih sangat lemah”


“tak perlu berlagak peduli padaku, kau tak mengenalku aku juga tak mengenalmu jadi jangan mengaturku” ucapku


“seharusnya kau bersyukur Tuhan masih membiarkanmu hidup”


“aku akan lebih bersyukur jika Tuhan tidak membiarkanku hidup” aku menatap tajam pada jarum infus yang masih menancap pada tanganku. 


Ya, bukankah lebih baik aku mati? Dari pada aku harus hidup dengan kehancuran seperti ini


“kau..-“


“pergilah” ucapku memotong ucapannya


“pergilah, kau tak mengenalku jadi tak usah perdulikan aku” sambungku. 


Aku masih menatap jarum infusku. Dapat kulirik dari ekor mataku dia mulai melangkah pergi. Aku memejamkan mataku sambil menghembuskan nafas berat mencoba menahan gejolak dari hatiku yang terus berderu kala aku memikirkan kehidupanku. Hanya beberapa detik hingga aku kembali membuka mataku ketika aku mendengar suara pintu ruangan ini terbuka


“Taemin hyung!” seru sebuah suara yang sangat tak asing di telingaku


“apa yang terjadi denganmu?” aku menatap wajah Kai. Peluh membasahi keningnya juga rambutnya yang terlihat basah karena keringat. Aku bisa melihat matanya yang memandangku penuh kekhawatiran. Luka memar diwajah akibat pukulan yang ia dapat dari ayahnya masih terlihat jelas


“hanya insiden kecil” ucapku


“dengan tubuhmu seperti ini kau bilang insiden kecil? Dan ya!! Apa yang kau lakukan??!!” pekiknya saat melihatku mencabut selang infusku begitu saja


“aku baik-baik saja Kai dan aku ingin pulang” ucapku


“tapi hyung..-“


“berhentilah menceramahiku Kai. Sudah cukup orang aneh itu yang menceramahiku” ucapku turun dari ranjang berjalan ke meja nakas mengambil pakaianku


“orang aneh?” 


“apa kau tak bertemu dengannya? Dia baru saja keluar” Kai menggeleng, aku mengkerutkan alisku. Aku hanya mendengar suara pintu terbuka satu kali dan kedatangan Kai juga perginya orang itu hanya selang beberapa detik. Tidak mungkin Kai tak bertemu orang itu


“apa kau yakin? Dia laki-laki, memakai jas juga celana hitam” tanyaku memastikan


“hanya beberapa perawat juga orang yang memakai baju pasien yang kulihat” ucapnya
Ini aneh, tapi aku tak perduli mungkin memang orang itu pergi dengan cepat. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian pasien yang aku kenakan. Sebelum sesosok wanita parubaya memasuki kamar inapku dengan wajah terkejutnya. Ia menatapku intens dari kepala hingga kakiku


“Taemin apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau akan keluar dari rumah sakit ini” ucapnya


“begitu datang aku langsung menemui doktermu untuk menanyakan keadaanmu karna aku yakin jika aku bertanya padamu itu percuma jadi jangan mengelak dan mengatakan kau baik-baik saja kembalilah ke ranjangmu Taemin” sambungnya raut mukanya terlihat serius ucapannya lembut namun tegas tak ingin di bantah 


“tapi Kim ahjumma.-“


“tak ada bantahan Taemin” benar saja jika sudah begini Kim ahjumma tak akan bisa di bantah. 
Aku menghembuskan nafas pelan dan berbalik kembali menuju ranjang untuk merebahkan tubuhku. Tak berselang lama beberapa perawat datang dan kembali memasang jarum infusku

☆☆☆☆☆

Author PoV


Hari mulai gelap matahari telah berputar menerangi belahan bumi yang lain dan kini bulan yang  menerangi kota malam Seoul. Cahaya lampu jalan, kendaraan, rumah penduduk juga cahaya gedung gedung yang menjulang tinggi ikut membantu bulan dan bintang menerangi kota sekaligus menambah keindahan malam. 
Minho, ia masih berkutat pada pikirannya sendiri. Ia tengah berada di atap rumah sakit ini, menatap keindahan malam kota Seoul dengan pikirannya yang terus melayang entah kemana


“ini tidak mungkin, Taemin bisa melihatku? Apa aku telah dihukum karena terlambat mengambil nyawa wanita itu? Tapi aku bahkan masih bisa menggunakan kekuatanku dan Kai, saat berpapasan tadi dia juga tak bisa melihatku” Minho terus bergumam tak jelas memikirkan apa yang terjadi padanya


“apa yang kau pikirkan?” seketika Minho segera menoleh pada sumber suara 


“ah Kibum kau bisa melihatku?” tanya Minho dan langsung di jawab dengan pandangan bingung oleh Kibum


“kau tau? Taemin bisa melihatku” sambung Minho dan sukses membuat Kibum terkejut


“benarkah?” Minho mengangguk 


“bagaimana bisa?” Kibum kembali bertanya masih dengan tatapan terkejutnya


“aku juga tidak tau, apa mungkin ia bisa melihatku karna telah menembus tubuhku?”


“maksudmu?”


“saat itu aku terlambat mengambil nyawa targetku dan tanpa aku duga Taemin menyelamatkan targetku, ia tertabrak mobil hingga terpental jauh dan menembus tubuhku” terang Minho


“kenapa kau begitu ceroboh hingga terlambat mengambil nyawa targetmu Minho?” 


“aku benar benar tidak sadar saat itu”


“tidak salah lagi ia menembusmu dan jantung kalian bertemu, jantungnya tepat menembus jantungmu disaat keadaanmu lemah karna kelalaianmu melaksanakan tugas. Karna itu dia bisa melihatmu” ucap Kibum menerka dengan mata kucingnya yang menyipit


“lalu apa yang harus aku lakukan Kibum?” 


“jalani saja, tinggal dua bulan bukan?” ucap Kibum ringan


“ini gila” gumam Minho memijat pangkal hidungnya 


“kau yang membuat masalah ini jadi selesaikan sendiri, sudahlah aku harus pergi” pamit Kibum 


“ah ya, jangan sampai ia tau kalau kau adalah malaikat kau akan dapat masalah besar jika itu terjadi” sambungya lalu melesat pergi. Sedangkan Minho hanya diam berkacak pinggang menghembuskan nafas beratnya. Bagaimana bisa ia seceroboh ini dan semua ini hanya karena tatapan Taemin malam itu.

☆☆☆☆☆

Taemin hanya diam saat suster itu dengan cekatan memasang kembali jarum infus yang Taemin lepas tadi. Sedangkan Kai dan ibunya masih menatap khawatir pada kondisi Taemin 


“bagaimana keadaan wanita itu?” ucap Taemin saat teringat apa yang membuatnya terbaring disini. Sejenak suster itu mengehentikan kegiatannya dan menatap Taemin sekilas


“meskipun ia tak tertabrak atau kau selamatkan ia tetap akan meninggal karna ia terkena serangan jantung saat itu” ucap suster itu sambil membereskan peralatannya setelah selesai dengan kegiatannya


“apa maksudmu?” tanya Taemin masih tak paham


“wanita itu tak terselamatkan, memang ia selamat dari kejadian itu tapi tak berselang lama ia telah menghembuskan nafas terakhirnya karna penyakit jantung yang ia derita” jelas suster itu menatap Taemin


“benarkah? “ Suster itu mengangguk dan Taemin nampak terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar


“setidaknya kau tidak membuat ia berakhir dengan tragis, aku permisi dulu" pamit suster itu dan langsung melangkah pergi


“istirahatlah lagi sayang aku dan Kai akan mengambil pakaianmu juga aku harus mengurus beberapa hal kecil dirumah, jangan mencoba untuk kabur aku sudah menyewa beberapa suster untuk memata mataimu kau paham?” tutur Kim ahjumma sambil mengusap lembut pipi putih Taemin. Taemin hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk menjawab ucapan Kim ahjuma


“Tak bisakah aku tetap disini?” ucap Kai tiba-tiba


“apa kau lupa umma mu ini tidak bisa menyetir?” celetuk Kim ahjuma


“aku akan menghubungi pel-“


“Kai pulanglah aku ingin sendiri” potong Taemin sambil membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya


Kai menghela nafasnya pasrah, ia tau jika Taemin seperti ini ia tak ingin dibantah. Kai melangkah dengan enggan meninggalkan kamar Taemin bersama Kim ahjumma.

☆☆☆☆

Taemin duduk menghadap jendela, pandangannya kosong. Wajahnya pucat, bibirnya juga  terlihat kering. Keinginan untuk pulang rasanya telah hilang, rasanya tubuhnya terlalu lemas hanya sekedar untuk menginjakkan kaki pada lantai. Makan malam juga obat yang disuguhkan petugas rumah sakit beberapa jam yang lalu belum ia sentuh. Entah apa yang di pikirkannya ia hanya merasa jenuh duduk berdiam diri seperti orang bodoh disini. Hingga ia merasakan sesuatu, ia melirik kebelakang


“kenapa kau masuk tanpa permisi?” ucap Taemin kembali menatap jendela. Instingnya sebagai seorang pembunuh membuatnya sangat sensitif dengan keadaan sekitar. Ia terbisa dengan serangan-serangan mendadak membuat ia dengan mudah menyadari kehadiran orang lain dikamarnya. Meskipun ia tak menimbulkan suara sekecil apapun seperti saat ini ketika Minho memasuki kamarnya tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Minho sedikit terlonjak saat Taemin mengetahui kedatangannya ‘apa dia tau aku menembus pintu?’ Batin Minho lalu menghela nafas berusaha tenang. Mulai sekarang ia harus berhati-hati menggunakan kekuatannya saat didekat Taemin


“apa yang kau pikirkan?” suara bass itu menjawab Taemin dengan pertanyaannya


“bukan urusanmu” ucap Taemin ketus masih menatap luar jendela


Minho melangkah mendekati Taemin dan mendudukkan tubuhnya disebelah Taemin. Taemin hanya diam sambil melirik Minho dari ekor matanya


“wanita itu, waktunya memang telah habis untuk di dunia ini” ucap Minho sambil ikut menatap keluar jendela
“lalu kapan saat itu datang untukku?” ucap Taemin lirih tanpa menatap Minho


“sebegitu inginkah kau mati?” 


“aku ingin istirahat, aku lelah, sampai kapan dunia terus mempermainkanku seperti ini? Apa sebegitu menyenangkannya melihat aku menderita?” 


“kau berucap seakan kau yang paling menderita padahal kau memiliki kebahagiaan yang diharapkan orang lain” Minho mengalihkan pandangannya menatap Taemin 


“kau hanya terpaku pada masa kelammu dan tak mau melihat kebahagiaan, lalu menurutmu apa kebahagiaan?” sambung Minho, Taemin menoleh menatap Minho dengan wajahnya yang semakin terlihat pucat, ia hanya diam tak menjawab pertanyaan Minho


“suatu harapan, untuk orang miskin mungkin memiliki uang yang cukup itu kebahagiaan mereka, untuk orang yang lumpuh memiliki tubuh lengkap adalah kebahagian mereka dan kau memiliki kebahagian mereka bukan? Lalu bagian mana yang membuatmu merasa menderita?”


“orang tua, kasih sayang orang tua, mereka telah mengambil kebahagiaanku bersama orang tuaku” ucap Taemin matanya menatap lurus pada Minho seakan menegaskan apa yang ia rasakan lewat tatapan matanya


“setidaknya kau tidak terlantar dan masih memiliki banyak orang yang menyayangimu seperti orang tuamu” jawab Minho


“siapa kau sebenarnya? Kenapa kau berbicara seakan mengerti tentang hidupku?” tanya Temin dengan suaranya yang terdengar melemah, Minho terdiam terlalu bingung menjawab pertanyaan Taemin. Tidak mungkin ia menjawab ia adalah malaikat yang sedang mengawasinya dan ia juga tidak mungkin berbohong


“siapa kau? Apa ada orang yang mengirimmu untuk memata mataiku?” suaranya terdengar lemah tapi juga menuntut. Minho masih diam belum menemukan jawaban yang tepat. Mata almond Taemin seakan mengunci matanya, melarangnya untuk menatap kearah lain. Hingga mata itu perlahan tertutup dan tubuh Taemin ambruk, dengan sigap Minho menangkap tubuh Taemin. Minho menatap wajah Taemin yang terlihat pucat pasih juga tubuhnya yang panas hingga menembus baju dan terasa pada kulitnya. Sejenak ia terpaku pada wajah Taemin dan membuat darahnya berdesir aneh namun dengan cepat ia menampis semua itu.


Perlahan Minho membaringkan tubuh Taemin lalu menyelimutinya. Mata Minho kembali menatap wajah Taemin. Cantik juga manis itu yang terlintas di otakknya. Bagaimana bisa ada seorang lelaki memiliki paras seperti wanita dengan alami? Bahkan tubuhnya juga ramping seperti wanita. Kulitnya yang putih seperti susu juga lembut meski nyatanya ada beberapa bekas luka juga memar yang mungkin ia dapatkan dari dunia kerasnya. Hati Minho bergejolak, darahnya kembali berdesir juga perutnya tergelitik seperti ada kupu-kupu yang terbang dalam perutnya.


“apa ini? Apa yang terjadi denganku?” ucap Minho merasa bingung dengan apa yang terjadi dengannya. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya dan lagi kenapa ia bersikap ikut campur pada targetnya. Apapun yang dilakukan targetnya bukan urusanya kenapa sekarang ia seperti lupa akan tugasnya. Minho terkesiap saat mendengar pintu terbuka dan memunculkan sosok Kai juga Kim ahjumma.


“Taeminie aku datang maaf kita terlalu lama” ucap Kim ahjumma lalu terdiam saat melihat Taemin yang terlelap, Minho langsung memundurkan tubuhnya beberapa langkah saat Kim ahjumma melangkah menghampiri Taemin


“ia tak menyentuh sedikitpun makanannya” gumam Kim ahjuma melihat makanan Taemin yang masih utuh di atas meja makan membuat Minho ikut menoleh pada meja nakas


“Taemin  hyung… OMO!! Umma tubuhnya sangat panas” Kai bermaksud membangunkan Taemin dengan mengguncang pelan tubuh Taemin namun ia langsung terkejut saat mendapati tubuh Taemin yang panas


Kim ahjumma menyentuh dahi Taemin yang memang telah basah karna keringat dingin. Raut khawatir langsung terbentuk pada wajah cantiknya dengan sigap ia langsung menekan tombol diatas ranjang Taemin sedangkan Minho yang tak tau harus berbuat apa ia memilih melesat pergi dengan perasaannya yang tak menentu

☆☆☆☆☆

Taemin mendudukan tubuhnya pada salah satu bangku pada taman kecil rumah sakit ini matanya tertuju pada keluarga kecil yang tak jauh dari tempatnya. Keluarga kecil dengan dua orang anak yang sedang bercengkrama, raut wajah mereka terlihat bahagia saling bercanda satu sama lain. Salah satu dari dua anak itu menggunakan baju yang sama dengan yang Taemin kenakan, anak laki-laki yang sepertinya paling tua. Anak laki-laki itu mungkin seumuran dengan Jaemin sedangkan adik perempuannya mungkin seumuran dengan Yougeun. Taemin tersenyum melihat keluarga kecil itu, ia membayangkan jika saja orang-orang brengsek itu tak merenggut nyawa orang tuanya mungkin ia sekarang bisa merasakan kebahagiaan seperti keluarga kecil didepannya dan bisa saja ia juga memiliki adik kecil entah lelaki atau perempuan yang bisa ia lindungi. Taemin menghembuskan nafasnya pelan lalu menutup matanya, sudah dua hari Taemin dirawat dirumah sakit ini dan kondisinya mulai membaik. Ia ingin sekali kabur dari sini tapi apa daya ia tak cukup tega untuk membantah sang ahjumma.


“membosankan” gumamnya dan bangkit melangkah pergi, sudah cukup baginya duduk berdiam diri disini seperti orang gila
Taemin membuka pintu ruang inapnya dan mendapati Kai yang berdiri menghadap jendela. Sebelah bahunya tersamapir tas hitam keluaran terbaru merk terkenal. Taemin melangkah masuk dengan tenang


“apa kau kabur dari jam belajarmu?” ucap Taemin setelah berdiri di sebelah Kai


“ah hyung, darimana saja kau?” ucap Kai yang seperti terkejut mendapati kedatangan Taemin. Taemin langsung memandang Kai heran


“apa kau sedang melamun? Apa yang kau pikirkan? Dan aku bertanya padamu apa kau kabur dari jam pelajaranmu?” introgasi Taemin


“ahh aku tidak kabur hyung, dosenku tiba tiba saja ijin mendadak” ucap Kai membela diri


“benarkah?” 


“aku bersumpah”


“lalu kenapa kau melamun?”


“ehm.. ada yang kupikirkan”


“apa kau kembali membuat masalah?”


“aish! Tidak hyung” protes Kai tidak terima


“lalu”


“kesehatanmu” alis Taemin mengkerut tak paham apa yang Kai maksud


“bukankah waktu itu saat aku mengantarmu kerumah sakit Dokter Park bilang ada masalah dengan janmmppp” Taemin dengan sigap membungkam mulut Kai dengan tangannya dan menatap pintu lalu kembali menatap Kai tajam


“apa kau bersama ummamu?” Kai hanya bisa menggeleng menjawab pertanyaan Taemin


“apa orang tuamu sudah tau tentang ini?” 
Kai langsung menghempaskan tangan Taemin yang membungkam mulutnya


“ya! Dengarkan aku dulu” ucap Kai


“umma appa tidak tau, aku bahkan sudah menutup mulut Dokter Park tentang hal ini” Kai tampak kesal dengan sikap Taemin 


“apa kau melakukan terapi herbal hyung?” tanya Kai dan membuat Taemin mengernyit bingung


“tidak sama sekali” ucap Taemin


“tapi bagaimana mungkin?” Taemin semakin menatap Kai dengan bingung tak mengerti apa maksud sepupunya ini


“jantungmu telah sembuh total” ucap Kai


“apa maksudmu Kai?”


“saat di koridor tadi aku tak sengaja berpapasan dengan dokter Park dan ia bertanya padaku apa kau menjalani terapi karna dia sangat terkejut dengan kondisi jantungmu saat ini yang benar benar telah sembuh total” terang Kai


Taemin hanya diam memikirkan ucapan Kai apa ini hadiah dari Tuhan karna hampir menyelamatkan nyawa orang lain? Atau mungkin dokter itu memang dari awal salah mendiagnosa? Tapi kenapa dadanya selalu sakit? Atau dokter saat ini telah keliru melakukan pemerikasaan dan mengatakan jantungnya telah sembuh?


Drrt….drrtt…drrtt


Taemin tersadar saat ponselnya bergetar, tanganya terulur merogoh saku di baju untuk mengambil ponsel. Taemin terlihat bingung saat mendapati panggilan masuk dari nomer yang tak dikenal menelponnya namun ia putuskan untuk mengangkat panggilan itu. Menggeser lingkaran warna hijau lalu menempelkannya pada telinga


“yoboseyo” 


‘yoboseyo Taemin-ssi aku Suho teman Kai, apa kau masih mengingatku?’ 


“tentu, jadi apa kau sudah mendapatkan apa yang aku mau?” Taemin terlihat antusias saat tau Suho yang menghubunginya. Sesaat terdengar suara tawa dari sebrang sana membuat Taemin sedikit geram 


‘kau sepertinya sangat menantikannya’


“menurutmu?” jawabnya singkat namun juga tajam


‘baiklah baiklah temui aku sekarang di club ku aku menunggumu’


“oke” 


Pipp


Panggilan terputus, Taemin dengan segera mengambil pakaian yang di bawa Kim ahjumma kemarin malam untuknya dan mengganti baju pasiennya tanpa memperdulikan tatapan bingung Kai yang tertuju padanya


“siapa yang menghubungimu hyung? Dan kau akan kemana?” tanya Kai sambil melangkah mendekati Taemin


“Suho” ucap Taemin singkat dan segera memasuki kamar mandi


Kai terdiam didepan kamar mandi “Suho?” gumamnya bingung, untuk apa temannya itu menghubungi Taemin. Kai kembali mengikuti Taemin yang keluar dari kamar mandi. Taemin melipat asal baju pasiennya dan meletakkannya diatas ranjang


“apa motorku dirumahmu?” tanya Taemin sambil memakai jaket kulit hitamnya


“ya” jawab Kai masih menatap Taemin dengan wajah bingungnya


“apa kau membawa mobil?”


“appaku menyita semuanya bahkan ponsel karna malam itu”


“aish baiklah” ucap Taemin dan langsung melesat pergi tanpa memperdulikan teriakan Kai.


Taemin melangkah tergesa dengan kaki jenjangnya menulusuri lorong rumah sakit, suasana sore di rumah sakit terasa sepi hanya ada beberapa perawat yang melintas melaksanakan tugas mereka. Taemin hampir berlari saat ia mendengar teriakan suster yang ia kenal. Suster yang disewa Kim ahjumma untuk mengawasinya. Taemin terus berlari sambil sesekali melirik kebelakang hingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang, beruntung orang itu cukup kuat hingga tak terjatuh. 


“mian.. mian aku benar benar tidak sengaja” ucap Taemin sambil membungkukkan tubuhnya beberapa saat lalu kembali menegakkannya. 


Taemin terdiam menatap orang yang dihadapannya. Selama beberapa saat ia merasa dunia berhenti berputar dan seakan matanya telah dikunci oleh mata hitam kelam orang dihadapanya. Orang yang sama yang menghampirinya tanpa permisi juga orang yang menceramahinya. Mata hitam itu nampak indah juga bercahaya menatap lurus pada matanya. Wajahnya juga sangat menawan dengan dihiasai senyuman membuat Taemin semakin terpaku menatapnya. Ia juga pernah terpesona saat pertama kali bertemu tapi entah kenapa ia seakan kembali dibuatnya semakin terpesona. Darahnya berdesir juga jantungnya yang berdetak lebih cepat. Ah ia rasa dugaannya benar jika Kai berbohong mengataknya sembuh. Namun Taemin seakan tak asing dengan wajah itu, ia merasa pernah melihatnya sebelumnya.


“ah ne tak masalah” ucap orang itu dengan suara bassnya membuat Taemin tersadar


“k-kau” ucap Taemin terbata 


“panggil saja aku Minho”  Taemin hanya mengangguk menjawab ucapan Minho


“aku Taemin, aku rasa kau sudah tau namaku” 


“apa kau ma-“


“Taemin-ssi”  Ucapan Minho terpotong oleh teriakan suster yang memanggil Taemin membuat Taemin dan Minho menoleh kearah sumber suara


“aku harus pergi” ucap Taemin sambil menepuk pundak Minho beberapa kali sebelum kembali berlari pergi meninggalkan sang suster yang sudah terengah juga Minho yang hanya diam sambil menatap kepergiannya

☆☆☆☆☆

Taemin PoV


Aku berlari kencang pada halte  dan beruntung aku masih bisa menggapai bis yang hampir kembali melaju. Nafasku terengah aku duduk disamping jendela, jarak dari rumah sakit pada club Suho cukup jauh membuatku mau tak mau harus menahan rasa penasaranku yang sudah menggebu-gebu. Apakah Tuhan sudah memberiku ijin untuk ini? Apakah ini hadiah terakhir dari Tuhan? Apakah dia sudah lelah bermain denganku? Atau ini akan menjadi awal  permainan baru?


Bis berdecit pelan membuatku sedikit terhuyung kedepan. Halte  berikutnya. Aku menghela nafas, andai Kai membawa motornya aku mungkin sudah benar benar membelah jalanan mempersingkat waktu. Aku memejamkan mataku tak perduli saat aku merasakan sesorang tengah duduk disampingku, hingga sebuah suara membuatku terperanjat


“Hai Taemin” 


“Minho”


Minho. Ya Minho yang duduk disampingku tapi bagaimana mungkin bukankah ia berada dirumah sakit dan dia naik pada halte ini?


“kenapa kau bisa ada disini? Kau naik dari halte ini?” tanyaku. Aku yakin aku adalah orang terakhir yang naik bis ini dan aku tak melihatnya sebelumnya di bis ini


“ya aku naik dari halte ini apa ada yang salah?”


“tentu saja bagaimana bisa kau bisa naik di halte ini bukankah kau ada dirumah sakit sebelumnya?” 


“ah apapun bisa aku lakukan” ucapnya santai sambil menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata, tangannya ia lipat didepan dada. Aku mendengus kesal melihat tingkah angkuhnya.
Aku beralih menyamankan dudukku menghadap keluar jendala. Memilih tak memperdulikan Minho. Akan membuang tenagaku jika aku menanggapi ucapan angkuhnya. 


Beberapa saat hanya keheningan yang melanda kami. Minho masih memejamkan matanya dengan posisi yang sama, mungkin ia tengah tertidur. Hingga sesuatu  terbesit diotakku tentang dirinya saat itu yang berkata seolah dia mengerti tentang diriku membuatku penasaran tentang siapa dirinya. Baru aku akan bertanya padanya sebelum ekor mataku menangkap cahaya lampu plakat club Suho yang hampir dekat. Aku segera bangkit berdiri setelah bus berhenti pada halte tak jauh dari club itu. Minho masih memejamkan mata saat aku melewatinya. Tapi sesuatu membuatku tersentak. Minho menahan tanganku membuatku menoleh padanya dengan tatapan bingung saat melihatnya yang masih terpejam


“lakukan sesuatu yang berguna sebelum waktumu habis” ucapnya dan perlahan ia membuka matanya. Memunculkan manik hitam kelamnya yang indah. Aku mengernyit bingung dengan ucapannya. Kenapa ia seakan tau tentang diriku. Siapa Minho sebenarnya?


“aku selalu melakukan itu tuan, berhentilah bersikap seolah kau tau tentang diriku” ucapku datar lalu kembali berjalan turun dari bis ini sebelum sang supir kembali melajukannya


Aku langsung berjalan meninggalkan halte beriringan dengan bis yang baru saja aku tumpangi, ekor mataku dapat melihat sosok Minho yang masih duduk pada bangkunya dengan tenang. Hari telah gelap membuat club milik Suho semakin ramai dengan para manusia malam. Sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic terparkir tepat di depan club. Mobil keluaran terbaru merek ternama, aku bertaruh hanya segelintir orang yang memilikinya


“dia menunggumu di mobilnya” ucap pria berbadan besar yang berdiri didepan pintu masuk
Aku menoleh dan menatapnya yang masih pada posisinya berdiri tegap, dagunya bergerak menunjuk mobil mewah itu terparkir. Aku mengalihkan pandanganku menuju mobil, perlahan kaca mobil bagian belakang bergerak turun dan menampilkan Suho yang tersenyum padaku.
Pria bertubuh besar itu berjalan memdahuluiku dan langsung membukakan pintu mobil mempersilahkan aku masuk. Dengan santai aku menurut, pintu mobil itu kembali tertutup tepat saat aku telah mendudukkan tubuhku. Tak berselang lama pria berbadan besar itu telah duduk di  kursi kemudi. Aku hanya diam tak bertanya kemana Suho akan membawaku ketika mobil perlahan mulai melaju dengan tenang.


“apa kau benar akan menuruti satu permintaanku?” ucap Suho akhirnya. Aku menoleh dan ia menawarkan segelas wine padaku. Tanganku tergerak mengambilnya dan langsung meminumnya dalam satu tegukan


“apa kau sudah memiliki apa yang aku butuhkan?” aku menjawab pertanyaan Suho dengan pertanyaanku, Suho tersenyum dan kembali mengisi gelasku yang telah kosong


“tentu” jawabnya singkat


“hmm baiklah jadi apa yang kau inginkan?”


“kau pembunuh bayaran yang hebat bukan?” aku hanya mengangguk singkat menjawabnya


“dan pasti kau pintar dalam bela diri?”


“jika tidak aku yang akan terbunuh” Suho tersenyum semakin lebar mendengar jawabanku


“aku mempunyai tradisi tersendiri dengan para teman bisnisku, tradisi untuk membuktikan siapa yang terkuat. Tradisi itu kita lakukan setiap satu tahun sekali dan tahun ini jatuh pada hari ini. Sebelumnya aku menggunakan anak buahku yang paling handal tapi tahun lalu dia membuatku kalah jadi aku rasa aku harus menggantinya” aku menyimak semua penjelasan Suho sambil memainkan gelas di tanganku. Ini menyebalkan tak bisakah ia berkata langsung pada intinya. Aku tak perduli dengan tradisi apapun itu.


“tak bisakah kau tak bertele tele? Sebutkan saja apa yang harus aku lakukan dan aku akan melakukannya” ucapku akhirnya dan lagi Suho kembali tertawa. Jika aku tidak membutuhkan info darinya mungkin aku sudah mematahkan lehernya


“sabarlah sedikit kita hampir sampai dan kau akan mengerti” ucapnya sambil menepuk pahaku

 

TBC 

 

Maap kan yang selalu up date lama dan kalo ceritanya garing krenyes krenyes/? Tapi tolong jangan lupa tinggalkan jejak yaa 😊😊😊

Add Comment