Fanfiction Minho SHINee 'I'll Follow You Into The Dark' [Fanfic Minho] - Kpop Indonesia

Fanfiction Minho SHINee ‘I’ll Follow You Into The Dark’ [Fanfic Minho]

I'll Follow You Into The Dark


Author: AV 

Cast: Choi Minho, Lee Na Young (OC), etc

Genre: Crime, Mystery

Rate: Mature

*

*

*

*

*

A residential complex near Olympic Park
Bangji-dong, Songpa-gu
Seoul, South Korea


Kulit tubuh wanita yang nyaris bugil itu berwarna pucat kelabu, ia tergeletak di atas lantai dengan kondisi yang mengenaskan—bibir yang membiru, bercak kemerahan yang mengerikan di seputar lehernya, bekas sayatan seperti pisau di paha telanjangnya yang dibaluri darah yang telah mengering, dan tubuhnya bergaris-garis bekas lecutan sabuk yang menjalar sampai ke tato sebuah Grim Reaper yang melekat di pinggul sebelah kanannya.

Seorang ahli otopsi bergerak cepat dan berjongkok di dekat mayat yang di kelilingi sebuah lingkaran dari kapur merah bergaris tengah kira-kira dua setengah meter itu dan cepat-cepat memakai sarung tangan karetnya. Ahli otopsi itu lalu menempelkan ibu jarinya pada kedua pergelangan tangan si wanita korban pembunuhan itu tepat pada urat nadinya dengan penuh ketelitian dan setelah itu menatap Choi Minho yang berdiri di tengah ruangan dengan Kepala Polisi Jung dan pengurus apartemen elit di distrik Songpa itu.

“Enam jam yang lalu,”katanya. Keningnya berkerut-kerut dan matanya tampak serius. Dia adalah Kim Jonghyun, ahli otopsi handal dari Rumah Sakit Nasional Seoul.

“Tubuhnya belum terlalu membusuk.”

Choi Minho mengangguk. Dia adalah seorang detektif profesional yang kinerjanya telah dikenal baik di Seoul. Usianya masih duapuluh lima tahun tapi ketelitian dan ketajaman pikirannya dalam memecahkan kasus mengalahkan persepsi awal orang-orang saat ia masih memulai karirnya sebagai detektif dua tahun yang lalu.

Minho menoleh ke arah pengurus apartemen itu.

“Siapa?”tanyanya pada pria berusia empat puluh tujuh tahun dengan kepala botak dan tubuh gempal itu.

“Apanya yang siapa?”tanya pria itu一Jung Seong Nam一dengan nada suara heran.

“Nama resepsionismu, Tuan Jung. Aku yakin ia pasti menyimpan buku tamu yang pernah mengunjungi Nona Kim Haejin.”

Kening Jung Seong Nam berkerut. Tapi kemudian ia mengangguk dan tanpa berucap, keluar dari kamar itu untuk memanggil seorang resepsionis. Dia adalah wanita berdarah Jepang-Korea yang berusia dua puluh dua tahun, dengan rambut ikal sebahu berwarna coklat keemasan.

“Nona…”

“Naomi. Namaku Park Naomi.”sela wanita itu.

Minho mengangguk.“Baiklah,­ Nona Park. Aku Detektif Choi Minho. Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu. Apa kau keberatan?”

Wanita itu menggeleng.“Tidak, Tuan.”katanya.

Minho mengangguk lagi.

“Kalau begitu begini, Nona Park. Aku ingin tahu apakah semalam ada seseorang yang datang mengunjungi apartemen Nona Kim?”

Resepsionis itu mengerutkan kening kemudian menggelengkan kepala.

“Selama seharian kemarin, tidak ada yang mengunjungi Nona Kim karena sejak pukul tujuh pagi sampai pukul sepuluh malam, Nona Kim pergi keluar.”

Alis Minho bertaut.

“Sendirian?”­tanyanya, nada suaranya menyelidik. Resepsionis itu mengangguk tanpa keraguan.

“Ya.”

“Dan saat ia kembali pukul sepuluh malam, apakah ia bersama seseorang?”

Resepsionis itu menggeleng. “Tidak, Tuan.”

Mata Minho menyipit. “Apa kau yakin, Nona Park?”

“Tentu saja saya yakin, Tuan Choi.”kata wanita itu.

“Kebetulan semalam saya mengambil double shift karena teman saya tidak bisa masuk kerja. Jadi saya tetap berada disini sampai pagi tadi dan selama itu saya jelas mengetahui kalau Nona Kim pulang seorang diri.”

Minho berdecak. Satu jam yang lalu, ia mendapat telepon dari Jung Yunho kalau terjadi pembunuhan di salah satu apartemen elit di distrik Songpa. Pembunuhan ini lagi-lagi memakan korban seorang wanita muda dan juga meninggalkan tato Grim Reaper sebagai simbolnya. Ini adalah kasus pembunuhan kelima yang terjadi selama sepuluh hari terakhir ini dan Minho masih belum bisa memastikan apa motif pembunuhan ini.

“Minho! Lihat apa yang kutemukan ini!” Minho menoleh ke arah Changmin yang berseru padanya dari arah pintu kamar mandi ruangan itu. Dia mengucapkan terima kasih pada resepsionis tadi lalu berjalan menghampiri rekan kerjanya itu dengan kening berkerut heran.

“Apa yang kau temukan?”tanyanya pada Changmin. Rekannya itu menyeringai.

“Ini, lihat ini.”tukasnya sambil menyodorkan sebuah pen-knife yang sudah dimasukkan ke dalam plastik bukti. Kening Minho berkerut.

“Bukankah benda ini biasa dipakai untuk meraut pisau?”

Changmin mengangguk.

“Itu benar.”katanya.

“Benda ini biasanya dipakai oleh para arsitek dan tukang pahat untuk menajamkan pensil yang mereka gunakan untuk membuat desain ataupun gambar. Daripada alat serut pensil sekarang, pisau semacam ini jauh lebih mudah dibawa dan multifungsi.”

“Tapi Nona Kim Haejin adalah seorang penari balet. Dia jelas tidak mungkin menggunakan pisau semacam ini. Kita harus menghubungi keluarga serta kerabat dekatnya dan menanyakan apakah ada salah satu dari mereka yang berprofesi sebagai arsitek maupun seniman. Barangkali, ini bisa menjadi titik terang semua kasus ini.”

Changmin mengangguk lagi.

“Ya, semoga saja. Aku sudah mulai bosan dengan pembunuh ini. Daripada membunuh korbannya yang jelas adalah para wanita cantik, kenapa tidak menjadikan mereka kekasih saja? Dia jelas juga sudah menikmati tubuh mereka. Itu keuntungan yang seharusnya tidak boleh untuk dilewatkan. Bukan begitu, Minho?”

Minho mendengus, memutar mata. Percayakan pada Changmin jika itu berhubungan dengan urusan wanita cantik dan sex.

Dasar casanova, cibirnya membatin.


* * *

“Bagaimana kabarmu?”

“Buruk.”

Lee Na Young mencibir. Matanya menyipit menatap sahabatnya yang duduk di kursi diseberang meja di hadapannya itu dengan ekspresi wajah masam dan kening berkerut-kerut seperti kulit jeruk yang busuk.

“Menyebalkan seperti biasanya.”gerutu Na Young.“Tidakkah kau merindukanku, Minho?”

Minho mendengus. Dia melirik Na Young dengan malas-malasan meski sebenarnya perlu ia akui kalau ia memang merindukan wanita itu.

Lee Na Young yang duduk di hadapannya dengan raut wajah merengut itu adalah sahabatnya sejak kecil yang kini telah berubah dari seorang gadis cilik cerewet yang menyebalkan menjadi seorang wanita muda berusia duapuluh tiga tahun yang cantik dan menarik. Dia adalah seorang model dari salah satu agensi ternama di Seoul dan seminggu yang lalu baru saja kembali dari Jepang untuk melakukan pemotretan cover majalah fashion. Sama seperti kebanyakan model pada umumnya, Na Young juga memiliki tubuh yang tinggi, langsing, dan berisi di setiap bagian tubuhnya yang tepat. Wajahnya juga cantik dengan rambut hitam panjang segelap eboni, mata coklat jernih besar ekspresif seperti mata boneka, dagu kecil, dan kulit putih mulus yang tampak kontras dengan bibir penuhnya yang berwarna merah merekah seperti kelopak bunga mawar yang baru mekar di musim semi.

Lee Na Young yang dikenalnya telah berubah dan tumbuh menjadi wanita yang sangat menawan yang membuat setiap pria mengidamkannya tak terkecuali Minho sendiri.

Minho mendengus pelan. Na Young memang telah berubah jadi sangat menawan, tapi wanita itu tetap benar-benar tidak mengerti kalau Minho juga terpesona oleh kecantikannya.

“Minho!”

Minho tersentak, mengerjap. Dia menatap Na Young dengan heran dan terkejut dan baru sadar kalau ia telah melamun dan mengabaikan wanita itu. Sialan.

Na Young merengut. Minho berdehem, mencoba tampak tak terpengaruh.

“Apa?”

Na Young berdecak, memutar mata.

“Kau yang ada apa? Kenapa kau melamun?”

“Hanya sedang memikirkan pekerjaanku.”elak Minho.

Minho mengangguk. “Ya.”

“Kasus apa?”

“Pembunuhan.”jawab Minho tanpa ragu.

Mata Na Young melebar.“P-pembunuha­n?”

Minho mengangguk lagi.

“Ya, dan korbannya selalu para wanita muda.”

“Ya Tuhan…”Na Young terkesiap tak percaya. “Sejak kapan ini terjadi?”

“Sudah kelima kalinya dalam sepuluh hari terakhir.”tukas Minho.

“Ini jelas pelaku yang sama karena ia selalu mengincar wanita muda, melakukan hubungan seksual dengan mereka, lalu membunuh mereka dan meninggalkan sebuah tato Grim Reaper di tubuh mayat korbannya.”

Na Young menggeleng tak percaya.

“Itu simbol dewa kematian, Minho.”

Minho mengangkat bahu.

“Begitulah.”tuk­asnya.

“Lalu apa kau sudah mengetahui motifnya?”

Minho menggeleng.

“Aku tidak terlalu yakin,”katanya.

“tapi­ yang jelas bukan perampokan karena tidak ada satupun harta benda setiap korban yang hilang. Menurut kesimpulan yang kuambil dengan Changmin, orang ini melakukan pembunuhan karena trauma masa lalu yang berhubungan dengan wanita. Hanya saja motifnya belum jelas selain kepuasan seksual.”

Na Young menatap Minho dengan ngeri.

“Dia gila.”

“Itu sudah jelas.”dengus Minho.

“Hanya saja ia sangat pintar karena ia selalu membersihkan lokasi pembunuhannya dan memastikan kalau ia tidak meninggalkan sidik jarinya baik di benda apapun maupun di tubuh korbannya. Dia seorang pembunuh berantai yang sadis sekaligus cerdik. Oleh karena itu aku ingin memperingatkanmu untuk berhati-hati dengan pria yang baru kau kenal. Bisa saja kau dibunuh olehnya.”

Na Young bergidik dan melotot pada Minho.

“Enak saja,”omelnya.“Apa kau pikir aku sebodoh itu?”

Minho menyeringai.

“Kau memang bodoh, Lee Na Young.”

Na Young berdecih, tapi kemudian secara tiba-tiba ekspresi wajahnya justru berubah cerah.

“Oh, ya. Bicara soal pria, aku ingin kau bertemu dengan seseorang.” Mata Minho langsung menyipit curiga. Dia punya firasat buruk tentang hal ini.

“Siapa?”tanyanya, nada suaranya menyelidik dan terdengar nyaris mendesis. Nyaris. Na Young nyengir.

“Namanya Lee Jinki. Aku bertemu dengannya saat menghadiri pameran seni di Nowon dua hari yang lalu. Dia adalah orang yang menyenangkan dan sepertinya aku menyukainya.” Dada Minho seperti ditinju dengan kuat saat mendengar hal itu. Dia mengatupkan rahangnya, mengepalkan sebelah tangannya di bawah meja dan menekannya ke paha untuk menahan amarah dan rasa cemburu yang bergolak dalam dirinya. Minho tersenyum sinis.

“Kau baru bertemu dengannya dua hari yang lalu dan kau sudah berencana mengenalkannya padaku dan bilang kalau kau menyukainya. Sungguh, Na Young一aku tidak tahu kalau kau semudah itu.”

Mata Na Young melebar tak percaya. Dia menatap Minho dengan terluka sebelum menyipitkan matanya dengan sengit.

“Jaga bicaramu, Choi Minho.”desisnya.

“Aku­ ingin kau bertemu dengannya karena kau adalah sahabatku. Aku ingin kau menilai seperti apa dia tapi kau justru menghinaku.”

Minho membuang muka.

“Aku tidak tahu kalau kau peduli tentang pendapatku.”dengusny­a.

“Lagipula, bukankah sudah kukatakan padamu untuk berhati-hati dengan pria yang baru saja kau kenal? Bukan salahku kalau kukatakan kau terlalu mudah karena belum-belum kau sudah mengatakan kalau kau menyukainya. Kau ini naif atau terlalu bodoh, Lee Na Young?”

Na Young mengepalkan tangannya.“Kau…”bi­siknya, menggeleng tak percaya. Dia menatap marah Minho. Air mata menusuk belakang matanya.

“Aku menyukai Jinki karena ia adalah pria yang menyenangkan. Dia ramah, baik, dan humoris. Dia juga jelas tidak sepertimu yang kaku, menyebalkan, dingin, dan keras kepala seperti batu, Choi Minho. Kau bisa bilang aku bodoh, tapi aku jelas tidak akan langsung tidur dengan Jinki bahkan jika kami melakukan kencan pertama sekalipun.”

Minho mencemooh, menatap Na Young dengan senyum mengejek.

“Dan apa itu urusanku?”

“Choi Minho…”geram Na Young. Wanita itu bangkit tiba-tiba dari kursinya, menimbulkan suara decitan berisik dari kaki kursi yang beradu kasar dengan lantai.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu hari ini. Awalnya aku mengajakmu makan siang bersama karena aku ingin mengobrol denganmu setelah seminggu tidak bertemu, tapi kau justru berlaku sangat menjengkelkan dan membuatku geram. Jadi nikmati saja makan siangmu sendirian. Aku pergi.”

Minho belum sempat mengatakan apapun ketika akhirnya Na Young berlalu pergi dan berjalan keluar dari cafe itu dengan ekspresi kesal. Pria itu mengerutkan kening, berdecak, dan menggeram kesal.

“Sial.”umpatnya berdesis.

“Apa yang sudah kau lakukan? Bodoh sekali kau, Choi Minho.”


* * *

“Ini sudah jelas.”kata Changmin pada Minho dua hari kemudian saat mereka berada di ruang kerja Minho di rumah pria itu yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai mansion.

Minho mengangguk dari sofa kulit hitam yang didudukkinya. Beberapa dokumen penyelidikan tentang kasus pembunuhan yang dilakukan Grim Reaper一ia dan Changmin sepakat menjuluki pembunuh itu dengan sebutan Grim Reaper一tergeletak berserakan di atas meja di hadapannya.

Mereka berdua baru saja kembali dari rumah keluarga Kim Haejin di Jeonju untuk menanyakan perihal keluaga Haejin yang berprofesi sebagai arsitek maupun seniman pahat dan menemukan kalau tidak ada satupun dari keluarga maupun kerabat dekat Haejin yang menekuni dua profesi itu.

“Kuakui,”kata Changmin lagi sambil berjalan ke arah lemari minuman Minho, membukanya.

“Orang ini benar-benar sangat cerdik. Aku tidak pernah menemui kasus pembunuhan dimana pembunuhnya sangat teliti untuk menghilangkan semua sidik jarinya. Omong-omong, ingin kutambahkan gin atau brandy di kopimu?”

Minho melirik kopi Perancis-nya yang masih belum tersentuh diatas meja.

Dia menggeleng.“Tidak,”k­atanya.

“Berikan aku Grand Marnier saja.”

Changmin mengangkat bahu, menuangkan sedikit Irish whiskey ke kopinya lalu meraih sebotol Grand Marnier dan berjalan menghampiri Minho.

“Ini,”tukasnya, menyodorkan botol alkohol dengan pita merah di lehernya yang rendah itu pada Minho.

Minho menerima botol itu, membuka tutupnya dengan satu sentakan ringan dan menuangkan cukup banyak cairan alkohol berwarna orange itu ke dalam gelas kopinya.

Changmin mengangkat sebelah alisnya, takjub. Dia menyeringai.“Cukup banyak untuk sekadar merilekskan pikiran. Kau ada masalah, Kawan?”

Minho mendengus.“Hanya sedikit kesalahpahaman.”

“Ah,”tukas Changmin, senyum geli dan menggoda bermain di bibirnya sementara matanya berkilat penuh humor.

“Apa ini ada hubungannya dengan Na Young? Kudengar ia sudah kembali dari Jepang.”

Minho memilih untuk tidak langsung menjawab Changmin dan justru menyesap kopinya perlahan. Dia meresapi rasa pahit yang menjalar di lidahnya dan rasa panas yang begitu kuat yang membakar tenggorokan dan dadanya. Minho mengernyit samar. Dia sebenarnya tidak terlalu suka kadar alkohol yang sekuat ini, tapi ia butuh sesuatu untuk menghilangkan denyutan di kepalanya karena perdebatannya dengan Na Young di cafe siang itu.

Minho mendengus.“Aku tidak pernah mengerti wanita. Mereka benar-benar merepotkan.”

Changmin terkekeh. Dia menenggelamkan dirinya dengan anggun di sofa tunggal hitam di dekatnya dan menyilangkan satu kakinya ke kaki yang lain.“Kau ini seorang detektif handal, Choi Minho. Tapi harus kuakui kalau untuk urusan wanita dan cinta, kau sama payahnya dengan anak TK.”

Minho mendelik pada Changmin tapi memilih untuk tetap menutup mulutnya.

Changmin menyeringai.“Jangan memasang ekspresi seperti itu, Minho. Mau tidak mau harus kau akui kalau aku memang benar. Lagipula kau harus tahu kalau wanita itu adalah makhluk yang lembut. Sedikit saja kau menyinggungnya, kau sama saja seperti minta diamuk oleh seekor singa betina. Biar kutebak, pasti kau telah mengatakan sesuatu yang telah menyinggung Na Young, bukan?”

Minho berdecih, membuang muka.

“Nah, aku benar rupanya. Memangnya apa yang kau katakan?”

“Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya.”gerutu Minho.“ Dia berkenalan dengan seorang pria bernama Lee Jinki saat menghadiri pameran seni di Nowon dan ia ingin aku bertemu dengan pria itu.”

Changmin mengangkat sebelah alisnya, tersenyum miring.“Lalu?”

Minho mencibir.“Lalu aku mengatakan padanya kalau ia begitu mudah.”

“Tut-tut,”Changmin berdecak-decak dengan sikap mencela, menggeleng tidak setuju.“Kau telah melakukan kesalahan fatal, Minho. Berani bertaruh pasti sekarang Na Young menganggapmu seperti gunung es yang beku一dingin, keras, dan kaku.”

Minho memutar mata. Dia tidak mengelak maupun menyetujui ucapan Changmin dan lebih memilih untuk meminum kopinya sampai habis. Minho baru saja akan mengisi gelasnya lagi dengan Grand Marnier ketika terdengar suara pintu ruangan yang diketuk dari luar. Minho menoleh, mengurungkan keinginannya dan meletakkan gelas kosongnya ke meja.

“Masuklah.”katanya pada seseorang di luar pintu.

Tepat setelah berkata seperti itu, pintu ruang kerja itu terbuka dan seorang pria tua dengan seragam seorang butler membungkuk takzim pada Minho dan Changmin dari ambang pintu.

Minho mengangguk pada pria tua itu.“Ada apa, Kepala Pelayan Kang?”

Kepala Pelayan Kang yang berwajah bijak dan ramah dengan rambut yang sepenuhnya telah memutih itu tersenyum sopan pada Minho.“Ada telepon dari Kepala Polisi Jung untuk anda, Tuan.”

Kening Minho berkerut. Dia melirik jam dinding di atas perapian ruang kerjanya. Sekarang sudah jam sembilan malam lebih sepuluh. Ini sudah cukup larut. Kenapa Yunho menghubunginya?

“Baiklah,”tukas Minho akhirnya. Dia bertukar pandangan dengan Changmin sekilas. Ini pasti penting.

“Kalau begitu tolong sambungkan panggilan kami, Kepala Pelayan Kang.”

Kepala Pelayan Kang mengangguk,membungku­k singkat, lalu mengundurkan dirinya dari ruangan Minho. Tak lama kemudian, telepon di atas meja nakas di sebelah sofa yang didudukki Minho berdering dan tanpa menunggu lagi, Minho langsung meraih dan menerima panggilannya.

“Ne, yeoboseyo.”sapa Minho pada Yunho diseberang sana.

“Selamat malam, Minho. Maaf kalau aku menganggumu.”

Kening Minho mengernyit lagi.“Tidak, tidak masalah, Hyung. Ada apa?”

Yunho menghela napas lelah diseberang sana.“Ini benar-benar buruk.”tukasnya.“Per­caya atau tidak, lagi-lagi pembunuh itu melancarkan aksinya. Malam ini, adik dari Pengacara Park Yoochun ditemukan tewas terbunuh di apartemennya di Dogok dengan tato Grim Reaper di tubuhnya.”

Mata Minho membelalak. Dia bangkit dengan cepat dari sofanya.“Kau yakin?”

“Tidak pernah seyakin ini.”tukas Yunho.“Begini, aku tidak tahu apakah kau ingin datang kesini atau tidak karena sebenarnya kami sudah membawa mayat wanita itu ke rumah sakit untuk di otopsi, tapi aku ingin mengatakan padamu kalau kami telah menemukan bukti lain yang mungkin akan membuatmu semakin mudah memecahkan siapa pelaku pembunuhan berantai ini.”

“Ada bukti lain?”

“Ya.”

Minho menatap Changmin yang menatapnya penasaran. 

Ada apa? tanya pria itu tanpa suara. Minho menggeleng.

“Apa kau akan datang, Minho?”Yunho bertanya lagi, memastikan.

Minho mengangguk.“Tentu, Hyung. Aku akan datang. Tolong kau kirimkan alamatnya padaku.”

“Baiklah. Aku akan segera mengirimkannya. Sampai ketemu lagi.”

“Ya, sampai ketemu lagi, Hyung. Dan terima kasih.”

Setelah berkata seperti itu, Minho langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Yunho. Changmin yang melihat itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan menatap Minho dengan penuh keingintahuan.

“Apa yang terjadi?”tanyanya.

Minho menatap rekan kerja sekaligus sahabatnya itu dengan serius.“Adik Park Yoochun dibunuh oleh Grim Reaper, tapi yang lebih menariknya para petugas polisi telah menemukan barang bukti baru di tempat pembunuhan itu. Aku akan pergi menemui Yunho Hyung disana untuk melihat barang bukti itu. Apa kau mau ikut denganku, Changmin?”

Changmin menyeringai seperti seekor kucing Cheshire.“Apa kau gila?”tukasnya. Matanya berkilat penuh arti.“Tentu saja aku ikut, Choi Minho. Aku tidak akan pernah melewatkan hal ini. Jadi, ayo kita berangkat sekarang.”

Minho mendengus geli. Dan setelah menyambar kunci mobil dan ponselnya dari atas meja nakas, ia bergegas pergi menuju ke apartemen tempat Jung Yunho menunggunya.

Pembunuh itu sudah semakin merajalela dan Minho bersumpah kalau ia akan menangkapnya dan melempar pria keparat itu ke neraka.


* * *

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam tepat ketika akhirnya Minho dan Changmin sampai di lokasi pembunuhan itu. Saat mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung apartemen itu, Minho baru sadar kalau itu adalah gedung Samsung Tower Palace yang merupakan salah satu komplek residen elit yang letaknya bersebelahan dengan satu-satunya daerah kumuh di Seoul一Guryong.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Minho dan Changmin langsung bergegas menaiki lift menuju ke apartemen Park Hye Min yang terletak di lantai sembilan untuk menemui Yunho.

Saat akhirnya lift yang mereka tumpangi sampai di lantai yang mereka tuju, masih terlihat beberapa petugas kepolisian serta petugas kebersihan gedung di dalam ruang apartemen yang tampak rapi itu.

Minho dan Changmin melihat Yunho sedang mengobrol dengan beberapa orang petugas dan pria itu menoleh saat mereka berdua melangkah mendekat.

“Kalian sudah sampai rupanya.”tukas Yunho. Ekspresi wajahnya tampak agak lelah meski tatapan matanya berkilat serius.“Ayo, kutunjukan kalian barang buktinya.”

Minho dan Changmin mengangguk. Mereka mengikuti Yunho yang berjalan ke sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah ruang baca.

“Ini adalah lokasi pembunuhannya yang sebenarnya.”kata Yunho saat akhirnya ia berhenti tak jauh dari sofa panjang besar dekat sebuah meja baca dari kayu yang dipernis mengkilap.

Minho menatapnya tak percaya.“Disini, Hyung?”

Yunho mengangguk. Dia berbalik dan menatap serius pada Changmin dan Minho.“Ya, aku yakin pembunuh itu sebenarnya membunuh korban disini sebelum kemudian memindahkan korban yang telah tewas ke kamar tidurnya. Itu jelas hal yang aneh tapi setelah menemukan bukti yang kukatakan padamu tadi, aku yakin kalau itu memang yang terjadi. Selain itu ada bekas sprema yang belum sepenuhnya kering di sofa itu. Jadi mereka jelas habis melakukan hubungan badan di ruangan ini.”

Changmin mengernyitkan hidungnya jijik.“Freak.”cibirn­ya.

Minho mengabaikannya. Dia melihat ke arah Yunho.“Kenapa ia melakukan itu?”

Yunho menyeringai.“Karena ia tidak sengaja menjatuhkan benda ini.”tukas Yunho sambil menunjukkan Minho sebuah tabung plastik kecil yang sudah dimasukkan ke kantong bukti yang di dalamnya masih tersisa dua butir kapsul bulat berwarna putih.

“Obat apa itu?”tanya Minho, keningnya berkerut penasaran.

“Aku belum yakin, tapi kurasa itu adalah obat penenang.”

Mata Changmin menyipit.“Boleh aku melihatnya?”

Yunho mengangguk lalu menyerahkan kantong berisi tabung plastik itu pada Changmin.

“Aku tahu apa obat ini.”kata Changmin saat meneliti obat itu. Matanya menyelidik dan ekspresi wajahnya serius.“Ini adalah Methylpenidate atau yang lebih dikenal dengan Ritalin. Obat ini termasuk ke dalam golongan psikotropika yang biasanya digunakan untuk menangani kasus bipolar disorder dan major depressive disorder. Ini adalah stimulan untuk sistem saraf pusat dan penggunaan yang berlebih bisa menyebabkan kecanduan, depresi, dan kelabilan pada emosi si pengguna, bahkan sampai bisa berdampak menyakiti orang lain. Ini jelas milik pembunuh itu karena adik Yoochun jelas tidak mengidap gangguan psikologis sampai harus mengonsumsi obat-obatan semacam ini.”

Minho mengangguk-angguk.“B­aiklah, jadi sekarang kita tahu kalau pembunuh itu memiliki gangguan kejiwaan. Tapi kenapa ia memindahkan mayat Hye Min ke kamarnya?”

“Itu karena setelah melakukan seks dengan Hye Min dan membunuhnya, penyakit pria itu kambuh dan ia tidak berhasil menemukan tabung obatnya karena tanpa sengaja menjatuhkannya hingga menggelinding ke bawah rak buku itu. Saat kepanikan semakin menyerangnya, ia langsung memindahkan mayat Hye Min ke kamarnya, lalu membersihkan ruang baca, dan bergegas pergi sebelum ada orang yang mengetahuinya. Satu jam kemudian, saat Yoochun datang untuk menemui adiknya, pria itu sudah menemukan Hye Min mati diatas tempat tidurnya. Itu kesimpulan yang bisa kubuat.”

Minho mengangguk paham.“Aku mengerti sekarang. Meski tetap tidak ada sidik jari dari pelaku, setidaknya sekarang kita tahu kalau pria itu adalah seorang psikopat yang begitu pandai menyembunyikan jati dirinya sehingga tak ada orang lain yang mencurigainya.”

Yunho mengangguk.“Kau benar. Setidaknya sekarang kita telah menemukan sedikit titik terang. Dan aku sudah meminta salah satu petugas untuk mengambil sampel sperma yang ada di sofa itu. Aku akan membawanya ke lab untuk dites dan kalau ada bukti yang lain lagi, kita bisa mencocokkan DNA yang kita dapatkan dari sperma itu dengan bukti lainnya. Sekarang karena ini sudah larut, aku tidak akan menahan kalian lagi disini. Terima kasih karena telah membantuku.”

Minho dan Changmin mengangguk dan setelah mengecek sebentar lokasi pembunuhan itu, mereka pun akhirnya beranjak pulang karena malam benar-benar telah larut.

“Aku jadi ingin minum kopi lagi.”kata Changmin saat mereka keluar dari gedung apartemen itu.“Dan lapar. Sangat lapar.”

Minho mendengus, menggeleng tak habis pikir.”Kalau begitu ayo kita makan. Aku tidak mau terus-menerus mendengarmu merengek kelaparan seperti anak kecil yang menyebalkan begitu. Kebetulan aku tahu kedai sushi di dekat sini.”

Changmin menyikut Minho.“Sialan kau,”gerutunya.“Tapi­ baiklah, ayo kita makan.”

Minho memutar mata. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke sebuah restauran Jepang yang terletak tak jauh dari sana dan terkejut saat melihat Lee Na Young duduk bersama seorang pria muda di sebuah meja di dekat pintu keluar.

Minho mengerutkan kening, menyipitkan mata. Apa yang Na Young lakukan diluar selarut ini dengan pria itu?

Changmin yang sama keheranannya dengan Minho, menyikut pelan pria itu lagi.“Bukankah itu Na Young?”

Minho mengangguk kaku. Tatapan matanya masih tertuju pada Na Young dan pria itu一Lee Jinki.“Ya.”

“Tidakkah kau ingin menghampirinya?”

Minho menatap tajam Changmin.“Untuk apa?”desisnya.

Changmin memutar mata.“Jangan bodoh, Choi Minho.”keluhnya berlebihan.“Kalau kau ingin merebut hati Na Young, kau harus menunjukkan kalau kau jauh lebih baik dari pria itu. Jadilah pria yang gentle.”

Minho mencibir, tapi kemudian ia berjalan menghampiri meja Na Young dengan langkah yang penuh percaya diri. Changmin mendengus di belakangnya.

“Dasar pria kutub.”gerutunya mengejek. Dia berjalan menyusul Minho dan melihat ekpresi terkejut Na Young saat wanita itu melihatnya.

Changmin tersenyum miring.“Malam, Na Young-ssi.”sapanya pada wanita itu. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah pria yang duduk di hadapan Na Young. Changmin mengangguk ramah pada pria itu. Sementara disebelahnya, Choi Minho justru berdiri kaku seperti robot mainan yang bodoh.

Changmin menahan diri untuk tidak memutar mata pada sahabatnya itu. Dasar payah, gerutunya membatin.

“Changmin-ssi, aku tidak tahu kalau kau juga datang kesini.”Na Young berkata dengan senyum ramah pada Changmin. Tapi saat wanita itu melirik ke arah Minho yang belum mengatakan apapun, raut wajahnya berubah jadi sinis dan masam.“Apa kalian akan makan? Kalian bisa bergabung disini. Bukan begitu, Jinki Oppa?”

Pria bernama Lee Jinki itu mengangguk, tersenyum sopan. Dan sebenci apapun Minho mengakuinya, Lee Jinki itu memang tampak seperti pria yang menyenangkan. Dia juga cukup tampan dengan rambut coklat keemasan, mata coklat jernih yang dibingkai oleh kelopak mata sipit yang akan membentuk seperti bulan sabit saat ia tersenyum seperti itu.

Minho mendengus, membuang muka, melipat tangan di depan dada. Changmin mencibir disampingnya melihat tingkah Minho yang seperti anak kecil yang nakal.

“Kalau memang kalian tidak keberatan, baiklah kami akan duduk disini.”

Minho menoleh cepat ke arah Changmin, mendelik tajam, tapi Changmin mengabaikannya dan justru mendorongnya untuk duduk di kursi di sebelah kanan Na Young, sementara Changmin duduk di kursi di sebelah Jinki.

Na Young berdecih malas di samping Minho, sementara Minho masih menolak mengatakan apapun.

Changmin berdehem.“Tidakkah kau ingin mengenalkan temanmu ini pada kami, Na Young?”

Na Young mengerjap, mengangguk, dan tersenyum pada Changmin.“Kenalkan, ini Lee Jinki Oppa. Kami belum lama ini saling kenal. Dia adalah seorang pelukis. Dia memiliki galeri seni di daerah Cheongdam.”

Changmin mengangguk.“Halo, aku Shim Changmin. Dan pria grumpy disebelah Na Young itu adalah rekan kerjaku, Choi Minho.”

Na Young dan Jinki terkekeh geli mendengar ucapan Changmin sementara Minho justru melotot pada pria itu.

Changmin menyeringai, mengabaikannya. Dia lalu melihat ke arah Na Young.“Omong-omong, apa kalian habis berkencan? Kenapa selarut ini masih di luar?”

Na Young tersenyum.“Kami hanya habis pergi menonton, tapi saat akan makan malam, kami mampir dulu ke apotik untuk membeli obat. Jadi kami makan malam telat.”

Minho mendengus. Dia memperhatikan Lee Jinki yang duduk di hadapannya dengan lekat-lekat. Dia memang tampan, ramah, dan menyenangkan. Kening Minho berkerut saat melihat sebuah tato di punggung tangan sebelah kiri Jinki. Itu adalah tato sabit besi hitam panjang yang melekat di kulit di antara perpotongan ibu jari dan jari telunjuknya. Mata Minho menyipit.

“Tato yang bagus, Jinki-ssi.”katanya tiba-tiba.

Jinki agak terkesiap, tampak tidak menduga akan ucapan Minho. Dia kemudian tersenyum tipis, mengusap tato di tangannya yang tampak kontras dengan kulitnya yang putih pucat.“Ah, tato ini, ya? Aku baru membuatnya beberapa hari yang lalu. Aku juga masih punya satu tato lagi di punggungku.”

Minho mengangkat sebelah alisnya.“Apa kau membuatnya sendiri, Jinki-ssi?”

Jinki mengerutkan kening, menggeleng.“Tidak, Minho-ssi. Aku tidak.”

“Benarkah?”

Mata Jinki serius.“Tentu saja. Ada apa, Minho-ssi?”

Minho mendengus, mengangkat bahu.“Bukan apa-apa.”sahutnya malas.“Hanya penasaran saja.”

Na Young mencibir pada Minho.“Jangan pedulikan dia, Oppa.”katanya pada Jinki.“Choi Minho ini memang orang yang aneh. Mungkin kasus-kasus gila yang ditanganinya itu telah mempengaruhi pikirannya.”

Minho melotot mendengar ucapan Na Young sementara Changmin justru tertawa geli karenanya.

Jinki menggeleng, tersenyum paham.“Tenang saja, Na Young. Itu bukan masalah. Tapi memangnya apa pekerjaanmu, Minho-ssi?”

“Detektif.”tukasnya datar.

“Detektif, ya?”Jinki mengangguk, tersenyum tipis.“Itu pekerjaan yang bagus.”

Minho menyempitkan mata.“Tentu.”

Jinki masih tersenyum pada Minho, tapi kemudian senyumnya berubah menjadi ringisan ketika tiba-tiba rasa sakit menusuk kepalanya dengan kuat. Dia memejamkan mata, mengerang, dan mencengkeram kepalanya yang kesakitan.

“Jinki Oppa!”seru Na Young panik.

Jinki mengatupkan rahangnya, menahan rasa sakit.“Na Young, obatku.”

Na Young mengangguk. Dengan panik ia mengeluarkan sebuah tabung plastik kecil dari dalam kantong obat apotik dan membuka penutupnya. Dia mengambil sebutir kapsul bulat putih dari tabung itu dan tanpa sengaja menjatuhkan sebutir pil ke lantai karena terlalu terburu-buru. Minho menyipit melihat pil itu. Dengan sigap, ia mengambil pil yang terjatuh itu dan memasukkannya ke saku jaketnya sementara Na Young memberikan pil yang diambilnya tadi pada Jinki.

Jinki menggeleng kuat-kuat.“Berikan aku dua butir lagi.”titahnya sambil menggertakkan gigi menahan denyutan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

Mata Na Young membelalak tapi tetap menurut dan mengambilkan dua butir obat lagi untuk Jinki. Pria itu langsung menyambar obat dari tangan Na Young, menjejalkannya ke mulutnya dan meminum segelas air putih yang disodorkan oleh Na Young dengan tangan gemetaran.

Minho dan Changmin yang sejak tadi hanya memperhatikan pria itu saling bertukar pandang, penasaran.

“Apa kau baik-baik saja, Jinki-ssi?”tanya Changmin setelah Jinki tampak lebih baik.

Jinki tersenyum lemah.“Ya.”

Minho mengerutkan kening.“Boleh kutahu obat apa yang kau minum itu, Jinki-ssi?”

“Itu Tylenol 3.”jawab Jinki.“Aku menderita vertigo dan akhir-akhir ini penyakit itu sering sekali kambuh.”

Minho mengangguk meski mata gelapnya tetap menatap Jinki lekat-lekat.“Mungkin­ sebaiknya kau pulang dan beristirahat, Jinki-ssi. Apa kau mengendarai mobil saat kesini tadi? Kalau memang seperti itu Changmin bisa membawa mobilmu sementara aku bisa mengantarmu dan Na Young pulang. Bagaimana?”

Jinki menggeleng dan Minho perlu menahan rasa kesalnya saat Na Young menggenggam dan meremas satu tangan Jinki dengan lembut.

“Tidak perlu, Minho-ssi. Aku baik-baik saja. Biar aku sendiri yang mengantar Na Young.”Jinki lalu melihat ke arah Na Young.“Kau tidak keberatan kan kalau kuantar pulang sekarang?”

Na Young menggeleng. Ekspresi wajahnya masih tampak cemas.“Tidak, Oppa. Aku tidak keberatan.”katanya. Dia lalu melihat ke arah Changmin dan Minho.“Maaf karena kami tidak bisa mengobrol lebih lama lagi dengan kalian. Lusa akan ada pameran di galeri Jinki Oppa, kalau kalian tidak sibuk mungkin kalian bisa datang kesana. Kita bisa mengobrol lagi disana nanti. Bukan begitu, Oppa?”

Jinki mengangguk.“Na Young benar. Kalau kalian tidak sibuk, datanglah ke pameran seniku lusa. Aku menunggu kalian disana.”

Changmin mengangguk.“Akan kami usahakan.”

Jinki dan Na Young tersenyum pada mereka berdua dan setelah pasangan itu pergi, Minho menatap serius pada Changmin.

“Aku tidak menyukai pria itu.”tukasnya dingin.

Changmin berdecak, memutar mata.“Yeah.”dengusny­a.

Minho mengerutkan kening.“Aku serius, Changmin.”katanya.“P­ria itu, ia mencurigakan.”

“Maksudmu?”

Minho mengeluarkan pil putih dari sakunya.“Apa menurutmu ia memang menderita vertigo? Coba lihat pil ini.”

Changmin mengerutkan kening, mengambil pil dari tangan Minho dan menginspeksinya.

“Tunggu sebentar,”Changmin menyempitkan matanya. Dia menelisik pil itu dengan teliti dan tiba-tiba saja matanya melebar. Dia menatap Minho tak percaya.

“Choi Minho…”bisiknya.“I­ni…”

Minho mengangguk. Ekspresi wajahnya serius. Dia tahu itu.

“Ya, Changmin.”katanya.“I­tu bukan Tylenol 3, tapi Ritalin.”


* * *

“Kau yakin?”

Minho mengangguk.“Ya, Hyung.”katanya pada Yunho saat keesokan paginya ia dan Changmin datang ke kantor pria itu.“Aku yakin kalau Grim Reaper itu adalah Lee Jinki.”

Yunho menggeleng.“Tapi kita tetap tidak bisa asal menuduhnya begitu saja, Minho. Harus ada bukti yang lebih akurat.”

“Tapi ia mengonsumsi Ritalin, Hyung. Dan kita semua tahu kalau Grim Reaper juga mengonsumsi obat itu. Selain itu, Lee Jinki juga memiliki tato sabit besi hitam panjang di tangannya. Apa kalian tahu kalau senjata Grim Reaper adalah sabit?”

Changmin menghela napas.“Mate, sekalipun apa yang kau katakan terdengar masuk akal, tapi kita tetap tidak bisa menuduhnya begitu saja. Kita harus menyelidiki semuanya terlebih dahulu.”

Yunho mengangguk.“Changmin­ benar. Lagipula bagaimana bisa kau yakin kalau Jinki adalah Grim Reaper padahal semalam ia pergi bersama dengan Na Young? Terlebih lagi semalam Grim Reaper baru membunuh adik Yoochun. Tidak mungkin ia bisa berada dalam dua tempat yang berbeda dalam waktu yang sama, Minho. Itu mustahil.”

Minho berdecak. Itu memang benar. Tapi tetap saja ia masih curiga dengan Lee Jinki.

“Bagaimana kalau begini saja, kita temui Na Young. Kita tanyakan padanya beberapa hal mengenai Lee Jinki lalu mulai menyelidiki pria itu. Bagaimana menurutmu?”

Minho menoleh ke arah Changmin.“Menemui Na Young?”

Changmin memutar mata.“Ya, Minho. Memangnya siapa lagi? Satu-satunya orang yang kita tahu dekat dengan Jinki hanyalah Na Young. Siapa tahu saja ia bisa membantu kita.”

Minho mengangkat bahu.“Baiklah,”katan­ya, bangkit dari kursinya.“Kalau begitu, ayo kita berangkat.”

Changmin mengangguk dan setelah mereka berpamitan pada Yunho, mereka bergegas menuju ke apartemen Na Young di distrik Seocho.

Ini merepotkan, dengus Minho membatin.


* * *

“Jinki Oppa?”

Changmin mengangguk pada Na Young saat akhirnya ia dan Minho sampai di apartemen wanita itu dan duduk dengan nyaman di sofa putih di ruang tengahnya.

“Ya, Na Young. Kami ingin tahu seberapa jauh kau mengenal Lee Jinki.”

Kening Na Young berkerut.“Tapi kenapa kalian ingin tahu itu?”

Minho berdecak.“Jawab saja, Na Young. Kau membuang-buang waktu kami.”

Na Young mendelik tajam pada Minho.“Buang-buang waktu?”ketusnya.“Tid­ak ada yang memintamu datang kesini, Choi Minho.” 

Changmin mendesah, memutar mata.“Hei, kalian berdua. Sudah hentikan. Kalian ini seperti anak kecil saja.”

“Dia yang memulainya duluan, Changmin-ssi.”gerutu­ Na Young jengkel.“Lagipula bukankah wajar kalau aku ingin tahu alasan kalian bertanya mengenai Jinki Oppa?”

“Ya, ya, sudahlah.”tukas Changmin, mengibaskan sebelah tangannya dengan tidak peduli.“Katakan saja, Na Young. Seberapa banyak kau mengenal Lee Jinki?”

Na Young menghela napas.“Aku mengenalnya cukup baik meski kami belum lama ini bertemu. Dia memiliki seorang adik laki-laki bernama Lee Taemin. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dan sebenarnya sebulan yang lalu ia dan adiknya baru saja pindah dari Kyoto.”

Changmin mengangguk-angguk.“L­alu soal penyakit yang dideritanya. Dia bilang ia menderita vertigo, dan apa saat membeli obat di apotek kemarin malam kau ikut dengannya?”

Na Young mengangguk.“Ya, tapi aku menunggunya di ruang tunggu.”

“Apa selama kalian pergi ia tidak pernah meninggalkanmu dalam waktu yang lama?”

Kening Na Young mengernyit.“Dia tidak pernah meninggalkanku kecuali ke toilet dan itupun tak lebih dari lima menit.”

Mata Changmin menyempit.“Kau yakin?”

Na Young mengangguk.“Ya,”kata­nya, lalu ekspresinya berubah jadi sangat ingin tahu.“Tapi sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungannya semua ini dengan Jinki Oppa?”

Changmin bertukar pandang dengan Minho. Mereka berdua lalu saling mengangguk.

“Na Young, kau ingat kasus pembunuhan yang kuceritakan padamu waktu itu, 'kan?”

Na Young mengangguk pada Minho.“Ya.” “Sebenarnya kami masih belum yakin, tapi ada kemungkinan besar kalau pembunuh dari kasus itu adalah Lee Jinki.”

Mata Na Young melebar.“A-apa? Tapi itu tidak mungkin.”

Changmin menghela napas.“Ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi kami memiliki beberapa bukti yang semuanya menunjukkan kalau Lee Jinki adalah Grim Reaper.”

“Tidak, tidak.”Na Young menggeleng.“Itu jelas tidak mungkin, Changmin-ssi.” 

Minho berdecak.“Terserah kau saja kalau kau tidak percaya.”cibirnya, bangkit berdiri.“Tapi sebaiknya kau memang menjauhinya. Dia bukan pria baik-baik.”

Na Young menatap marah Minho.“Bukan pria baik-baik?”sergahnya­, ikut berdiri.“Bagaimana bisa kau seenaknya mengecap Lee Jinki bukan pria baik-baik? Dia bahkan jauh lebih baik darimu, Choi Minho!”

Minho mendengus, tersenyum sinis.“Terserah apa katamu saja. Ayo kita pergi, Changmin.”

Changmin mendesah. Dengan frustasi, ia akhirnya bangkit berdiri, membungkuk singkat pada Na Young dan pergi menyusul Minho.

Di belakang mereka, Na Young menatap kepergian Choi Minho dengan hati yang terluka.


* * *

“Lakukan semua sesuai rencana, Changmin.”

Changmin mengangguk pada Minho dan setelah memastikan semua peralatan mereka sudah lengkap, mereka pun melangkah keluar dan dengan mengendap-endap berjalan memasuki gedung besar di hadapan mereka.

Malam sudah sangat larut dan udara begitu dingin. Ini adalah penghujung musim gugur dan sebentar lagi musim dingin akan segera datang. Namun meski sedingin apapun cuaca malam itu, Minho justru merasa panas karena adrenalin yang berdesir dengan deras dalam aliran darahnya.

Setelah pulang dari apartemen Na Young siang tadi, akhirnya Minho dan Changmin sepakat untuk menyusup masuk ke dalam galeri Jinki untuk menyelidiki pria itu. Mereka berencana menggeledah tempat itu dan mencari bukti lain sebelum mulai menginterogasi pria itu.

Changmin mulai membajak kontrol akses dari kunci elektronik yang terpasang di pintu masuk galeri Jinki dan tak sampai lebih dari tiga menit, mereka berdua pun sudah berada di dalam sana dengan keamanan kamera CCTV yang sepenuhnya sudah dinon-aktifkan.

“Kita hanya punya waktu lima belas menit sebelum penjaga mulai menyadari virus yang kita sisipkan dalam sistem operasi keamanan gedung ini. Jadi sebaiknya kita segera bergegas.”

Minho mengangguk mengerti.“Kalau begitu, sebaiknya kita langsung mencari ruang kerja pria itu. Aku yakin ia pasti menyimpan beberapa benda pentingnya disini.”

“Baiklah, ayo bergerak.”

Minho dan Changmin pun bergegas mencari ruang kerja Jinki. Gedung itu terdiri dari dua lantai dan tepat di ujung koridor lantai dua, disanalah ruang kerja Lee Jinki berada.

Changmin berhasil membuka pintu ruang kerja itu dengan sebuah pisau lipat multifungsi dan mereka pun masuk ke dalamnya dengan penuh kewaspadaan.

Ruangan itu temaram dan hanya di terangi sinar bulan yang menyusup lewat kaca jendela besar yang sengaja tidak di tutupi tirai. Namun di salah satu sudut ruangan, ada sebuah meja yang di terangi oleh sebuah lampu belajar yang berdiri tegak di sudut permukaannya. Minho bergerak mendekati meja itu, memeriksa, dan menelisik setiap bagian dan benda-benda yang ada disana.

“Minho, kemarilah…”Changmi­n berbisik dari sudut ruangan. Dia sedang berjongkok di depan sebuah tempat sampah yang di letakkan di dekat sebuah rak buku dari kayu yang cukup tinggi.

Minho berjalan menghampiri Changmin.“Ada apa?”

“Coba lihat ini,”Changmin menunjukkan sebuah sarung tangan kulit berwarna hitam yang dijepitnya dengan menggunakan pinset.“Aku menemukan sarung tangan ini disini. Kita bisa menggunakan ini untuk mencocokkan sidik jari yang ada di sarung tangan ini dengan DNA yang didapat dari sampel sperma yang ada di sofa Park Hye Min waktu itu.”

Minho mengangguk.“Kau benar. Cepat simpan sarung tangan itu.”

Changmin balas mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah plastik bukti dari tas kecil yang melekat di sabuk pinggangnya dan memasukkan sarung tangan tadi ke dalam benda itu. Sementara Minho, ia kini justru sedang berbaring tengkurap di lantai sambil menyusuri bagian bawah rak buku tinggi tadi.

“Apa yang sedang kau lakukan?”tanya Changmin keheranan.

“Mengecek sesuatu.”sahut Minho. Satu tangannya menelusup ke bawah kolong rak dan mulai meraba-raba.“Waktu itu, Yunho Hyung menemukan barang bukti dibawah rak buku, jadi barangkali saja kita bernasib sama. Ah, tunggu sebentar. Kurasa aku mendapat sesuatu.”

Minho meraih benda yang tersenggol tangannya, ia menggenggamnya, menariknya keluar dan menemukan kalau itu adalah sebuah pen-knife yang sudah berkarat.

Kening Changmin berkerut.“Itu pen-knife, 'kan?”

Minho mengangguk.“Ya,”kata­nya, menyeringai.“Dan pen-knife ini sama dengan pen-knife yang kita temukan di apartemen Kim Haejin.”


* * *


“Kalian menyusup?”

Minho mengangguk. Ekspresi wajahnya tampak puas dan nyaris lega. Saat itu sudah pukul setengah dua dini hari ketika Minho menghubungi Yunho dan meminta Kepala Polisi itu untuk segera datang ke Rumah Sakit Nasional Seoul tempat Minho membawa sarung tangan yang ditemukan Changmin di kantor Lee Jinki tadi untuk dilakukan tes identifikasi sidik jari. Dan sekarang selagi menunggu hasil identifikasi sekaligus hasil kecocokannya dengan DNA dari sampel sperma waktu itu keluar, Minho, Changmin, dan Yunho duduk di ruang tunggu sambil menikmati segelas karton kopi panas.

“Kami sudah tidak punya pilihan lain.”sahut Minho pada Yunho. Dia duduk bersandar di kursi ruang tunggu sambil menyilangkan kaki dan menyesap kopinya dengan perlahan.

Yunho menggeleng.“Itu benar-benar tindakan yang bodoh. Bagaimana kalau kalian sampai ketahuan?”

Minho menyeringai.“Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, jadi kami bisa masuk dengan menyabotase sistem keamanan gedung galeri itu selama lima belas menit.”

Kening Yunho mengernyit.“Siapa yang melakukannya?”

Minho mengendikkan dagunya dengan santai ke arah Changmin yang sudah terkapar di kursi tunggu dengan mata terpejam rapat dan suara dengkuran menggema keras di seluruh penjuru ruangan.

Yunho memutar mata.“Shim Changmin?”

“The one and only.”kata Minho, nyengir. Dia merasa begitu puas. Dia yakin kali ini ia bisa membuktikan pada semuanya termasuk Na Young kalau Lee Jinki adalah si Grim Reaper itu.

Yunho menghela napas, menggeleng tak habis pikir. Dia baru saja akan membuka mulutnya ketika seorang petugas penyidik yang tadi bertugas mengetes sidik jari di sarung tangan itu, masuk ke dalam ruangan.

Minho dan Yunho langsung menoleh.

“Ada apa?”tanya Yunho.

Petugas itu menatap Yunho dengan serius.“Kami sudah mendapatkan hasilnya, Komandan.”

“Kau serius?”

Petugas itu mengangguk yakin pada Minho.“Tentu, Detektif Choi.”

Minho dan Yunho saling bertukar pandang, mengangguk.

“Baiklah, kami akan melihatnya sekarang.”

Petugas itu membungkuk, berbalik, dan berlalu pergi dengan Yunho dan Minho mengekor dibelakangnya.


* * *

“Ini tidak mungkin. Bagaimana hal semacam ini bisa terjadi?”

Changmin menatap Minho dengan bingung.“Aku juga tidak mengerti, tapi ada baiknya kau tenang, Minho.”

Minho menatap Changmin dengan tajam.“Tenang? Kau ingin aku tenang? Bagaimana aku bisa tenang kalau hasil tes itu justru membuatku kebingungan? Bagaimana mungkin sidik jari yang ada di sapu tangan Lee Jinki itu cocok dengan sidik jari yang ada di pen-knife yang kita temukan di rumah Haejin tapi tidak cocok dengan DNA dari sperma yang ada di rumah Hye Min? Tidak mungkin kalau ada dua Grim Reaper karena semua yang mereka lakukan sangatlah persis.”

Changmin menggigit bibir. Keningnya berkerut-kerut, berpikir.“Itu memang benar, Minho. Ini sangatlah membingungkan.”

Minho bangkit tiba-tiba dari sofa ruang kerjanya. Dia menyambar jaketnya yang tersampir di punggung sofa itu dengan cepat.“Aku tidak bisa diam saja. Aku harus menemui Na Young.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

Minho menoleh pada Changmin yang menatapnya heran.“Aku akan menanyakan alamat Lee Jinki. Aku akan menginterogasi pria itu secara langsung.”

Changmin melotot.“Apa kau sudah gila?!”sergahnya pada Minho, ikut bangkit berdiri.

Minho mengabaikannya. Dia berjalan keluar ruangan.

“Aku tidak peduli.”


* * *


“Tidak ada? Apa maksudmu dia tidak ada?”

Gadis muda bernama Han Byul In yang tinggal di sebelah apartemen Na Young menggeleng pada Minho.“Maksudku, sejak kemarin sore Nae Young-ssi tidak ada di rumah. Dia keluar tepat setelah kalian berdua pergi dari apartemennya.”

Minho dan Changmin saling bertukar pandangan, mengerutkan kening.

“Kau yakin dia tidak pulang sejak kemarin sore?”

Gadis itu mengangguk.“Tentu, Tuan. Aku sendiri yang melihatnya pergi karena ia biasanya menitipkan Hachi di rumahku dan sampai saat ini ia belum mengambilnya lagi.”

Changmin mengangkat sebelah alis.“Hachi?”

Minho berdecak.“Itu hewan piaraan milik Na Young. Seekor anjing jantan jenis Akita Jepang.”

Changmin mengangguk.“Apa ia mengatakan padamu kemana ia pergi?”

“Tidak,”kata gadis itu, menggeleng.“Tapi ia bilang ia ingin bertemu dengan temannya.”

Kening Minho berkerut.“Temannya?”

“Ya.”

“Perempuan atau laki-laki?”

Gadis itu mengerjap, mengernyitkan dahi.“Laki-laki. Na Young bilang namanya Lee Jinki.”

Mata Minho melebar. Dengan cepat ia bertukar pandang dengan Changmin.

“Minho…”

Minho mengangguk.“Aku tahu.”selanya. Dia lalu melihat ke arah gadis tadi.“Terima kasih, Byul In-ssi. Kalau begitu kami permisi dulu.”

Han Byul In balas mengangguk.“Sama-sam­a, Minho-ssi.”katanya dan setelah itu tanpa banyak bicara lagi, Minho dan Changmin bergegas menemui Lee Jinki.

Ada satu tujuan yang sama yang melintas di pikiran mereka berdua一galeri seni pria itu.


* * *

Galeri seni itu ramai dan berisik.

Minho ingat kalau hari itu Lee Jinki memang sedang mengadakan pameran seni sehingga banyak sekali pengunjung yang datang.

Tapi ramai atau tidak, Minho tidak menahan dirinya dari emosi ketika akhirnya ia melihat Jinki berdiri bersama beberapa orang pengunjung sambil tersenyum manis seolah ia adalah manusia paling suci di dunia dan bukannya seorang pembunuh berantai gila. Minho berjalan menghampiri Jinki, mengabaikan keterkejutan pria itu, dan dengan telak…

BUGH!

…Dia memukul wajah Jinki dengan satu tinjuan kuat.

Semua pengunjung terkesiap kaget. Sementara Jinki terhuyung-huyung ke lantai sambil memegangi pipi sebelah kirinya yang memar dan sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan Minho berhasil merobek kulitnya. Dia meringis, merasakan denyutan kuat menusuk sisi wajah kirinya.

“Sialan, Mate!” Changmin berseru keras saat melihat apa yang telah Minho lakukan pada Jinki.“Apa yang kau lakukan?”

Minho mengabaikan Changmin. Dia menatap tajam pada Jinki.“Dimana kau sembunyikan Na Young?”desisnya sengit.

Kening Jinki mengernyit, heran dan kesakitan. Dia masih terduduk di lantai. Sementara para pengunjung masih memperhatikan mereka dengan penuh rasa keingintahuan.“Apa maksudmu, Minho-ssi? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Jangan berpura-pura bodoh, Lee Jinki.”Minho menggeram, mengepalkan tangan. Siap untuk melayangkan satu pukulan lagi pada Jinki jika itu memang yang dibutuhkan.“Aku tahu kau menyembunyikan Na Young di suatu tempat.”

Jinki bangkit perlahan dari lantai. Dia menggeleng. Ekspresi wajahnya tampak benar-benar tak mengerti.“Aku benar-benar tidak menyembunyikan Na Young. Aku bahkan belum bertemu dengannya sejak makan malam kita waktu itu.”

Mata Minho menyipit.“Jangan mencoba menipuku, Jinki-ssi. Aku bisa saja menyeretmu sekarang juga ke kantor polisi.”

“Tapi aku mengatakan yang sebenarnya.”tukas Jinki.“Aku tidak tahu dimana Na Young dan aku belum bertemu dengannya sejak malam itu.”

“Tapi dia me一”

“Minho…”Changmin menyela, menahan lengan Minho.

Minho menoleh. Matanya tajam menatap Changmin. Tapi Changmin justru menggeleng pelan.

“Tidak disini.”katanya, nyaris berbisik.

Minho mendengus, tapi tetap mengangguk.“Kita harus bicara secara privat, Jinki-ssi.”katanya pada Jinki.

Jinki mengangguk.“Kalau begitu, kita bisa bicara di ruanganku.”tukasnya,­ berjalan ke arah ruang kerjanya di lantai dua.“Mari silahkan.”

Minho dan Changmin langsung mengekori pria itu. Mereka berdua mengabaikan para pengunjung yang terus memperhatikan mereka seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saat mereka akhirnya sampai di ruangan Jinki, Minho menunggu dengan tidak sabar sampai Changmin menutup pintu di belakang mereka dan menguncinya dari dalam.

“Dimana dia?”sergah Minho akhirnya.

Jinki bersikukuh menggeleng.“Aku tidak tahu, Minho-ssi. Sungguh.”

“Tapi tetangga Na Young bilang kemarin sore ia pergi keluar untuk menemuimu.”

Kening Jinki berkerut.“Bertemu denganku?”

Mata Minho menyipit.“Sudah kubilang jangan berpura-pura tidak tahu, Jinki-ssi.”

“Aku tidak berpura-pura, Minho-ssi.”tukas Jinki, menggeleng dengan wajah kebingungan.“Sejak kemarin pagi sampai hari ini, aku sibuk mengurusi pameran yang akan kulakukan, jadi aku tidak ada janji untuk bertemu dengan Na Young. Lagipula kalau kami ingin bertemu, aku atau dia pasti akan saling menelepon atau setidaknya mengirim pesan. Tapi bisa kau lihat sendiri di ponselku kalau aku tidak menerima pesan atau satu panggilan pun dari Na Young. Aku berani bersumpah kalau aku tidak tahu dimana dia, Minho-ssi. Apa yang terjadi?”

Minho menatap Jinki lekat-lekat, menyelidik. Pria itu tidak tampak berbohong dan justru terlihat sangat kebingungan. Tapi kalau bukan bersamanya, dimana Na Young sekarang?

Sepertinya Minho tidak punya pilihan lain selain menekan Lee Jinki dan mengatakan yang sebenarnya apakah ia adalah Grim Reaper atau jika ia ada hubungannya dengan pembunuh berantai keparat itu.

“Apa kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jinki-ssi?”Minho berkata dingin. Matanya tajam dan sengit.“Yang terjadi adalah kami ingin menangkapmu karena apa yang telah kau lakukan selama ini.”

Mata Jinki membelalak.“M-menang­kapku?”

Minho mendengus.“Perlu kuakui, Jinki-ssi. Kalau kau ini benar-benar sangat pintar bersandiwara. Tapi jangan pikir kalau aku akan tertipu olehmu.”

“Demi Tuhan, Minho-ssi. Aku tidak tahu kenapa kau ingin menangkapku? Aku tidak pernah melakukan tindakan kriminal apapun.”

Minho menggeram. Matanya menyipit marah.“Tidak pernah?”desisnya, mengepalkan tangan.“Kau bilang kau tidak pernah melakukan tindakan kriminal apapun? Kau mem一”

“Minho, cukup.”Changmin menyela, menahan Minho.

Minho menatapnya tajam.“Kenapa kau menghentikanku, Changmin? Jangan bilang kalau kau percaya padanya.”

Changmin menggeleng. Wajahnya serius.“Tidak, Minho. Tapi kurasa ia memang bukan pelakunya.”

Minho mengatupkan rahangnya.“Bukan, katamu?”sergahnya.“S­udah jelas kalau dia adalah Grim Reaper, Shim Changmin!”

“G-Grim Reaper?”Jinki tergagap menatap mereka.“Apa maksudmu, Minho-ssi?”

“Aku sudah tidak ada waktu untuk meladenimu, Jinki-ssi. Ada baiknya kau ikut kami ke kantor polisi.”

“Minho!”

Minho menatap Changmin dengan sengit.“Jangan menghalangiku, Changmin.”peringatny­a dingin.

Jinki menggeleng.“Aku tidak mau ikut denganmu, Minho-ssi. Aku tidak bersalah. Aku bukan Grim Reaper atau siapapun itu yang kau tuduhkan padaku.”

“Jangan menyangkal lagi, Lee Jinki!”bentak Minho meradang.“Kalau kau bukan Grim Reaper, lalu bagaimana mungkin kami bisa menemukan pen-knife dengan sidik jarimu di tempat pembunuhan Kim Haejin?”

Mata Jinki membelalak.“K-Kim Haejin, katamu?”

Changmin mengangguk.“Ya, Jinki-ssi. Dia adalah seorang penari balet dari te一”

“Aku tahu siapa Kim Haejin itu, Changmin-ssi.”sela Jinki. Ekspresi wajahnya serius.“Aku bertemu dengannya di hari dimana ia dibunuh. Dua hari sebelum kematiannya, ia memintaku datang ke apartemennya karena ia ingin aku melukisnya. Aku bahkan masih belum menyelesaikan lukisannya secara sempurna ketika aku mendapat kabar kalau ia ditemukan tewas terbunuh di kamarnya. Kalau kalian masih belum percaya, coba kalian lihat ini.”

Jinki berjalan ke salah satu sudut ruangan dimana ia meletakkan beberapa buah kanvas. Dia mengambil salah satu kanvas yang sudah tertoreh gambar lukisan. Dan Minho serta Changmin terkejut saat melihat kalau lukisan di kanvas itu adalah lukisan dari Kim Haejin yang baru setengah jadi dengan rambut panjangnya yang gelap, mata coklatnya yang cantik, dan mengenakan gaun yang indah.

“Ini adalah lukisannya, Changmin-ssi, Minho-ssi.”kata Jinki lagi, menyerahkan kanvas itu pada Changmin.“Dan mengenai pen-knife itu, aku memang tidak sengaja menghilangkan pen-knife milikku di apartemen Haejin. Aku menjatuhkannya disana dan aku baru menyadarinya saat aku sudah pulang. Tapi aku tidak berniat mengambilnya karena aku memiliki banyak persediaan pen-knife.”

Untuk membuktikan ucapannya itu, Jinki meraih sebuah kotak kayu kecil dari dalam buffet meja kerjanya. Dia membuka kotak itu dan menunjukkan nyaris lebih dari selusin pen-knife baru yang tersimpan di dalam kotak itu. 

Changmin dan Minho terbelalak.

“Lalu kenapa kau berbohong pada kami soal obatmu malam itu?”tukas Minho saat sudah berhasil menghilangkan keterkejutannya.

Mata Jinki melebar. Wajahnya berubah memucat.“A-aku…”

Mata Minho menyipit.“Apa?”desak­nya.

Jinki memejamkan matanya, menghela napas lelah.“Aku akui kalau aku memang berbohong. Itu bukan Tylenol 3, tapi Ritalin. Sebenarnya selain menderita vertigo, aku juga menderita narkolepsi.”

Satu alis Changmin terangkat.“Narkoleps­i?”

Jinki mengangguk.“Ya,”kata­nya, menatap ke arah Changmin dan Minho lagi.“Itu adalah gangguan tidur kronis. Aku terpaksa berbohong pada kalian karena meski secara umum Ritalin ditoleransi dengan baik, aku takut kalian mengira aku menyalahgunakannya. Jadi aku terpaksa berbohong pada kalian. Lagipula, bukan hanya aku saja yang mengonsumsi Ritalin. Adikku, Lee Taemin. Dia juga mengonsumsinya.”

Kening Minho mengernyit.“Adikmu juga menderita narkolepsi?”

Jinki menggeleng, tersenyum sedih.“Bukan,”katany­a.“Jauh lebih buruk. Dia menderita bipolar sekaligus major depressive disorder.”

“A-apa?”

Jinki tersenyum miris pada Changmin yang tampak terkejut.“Ya, Changmin-ssi. Itu benar.”tukasnya.“Sem­enjak kematian kedua orang tua kami, Taemin jadi depresi. Dia senang menyendiri dan begitu terpuruk. Sampai suatu hari, ia bertemu dengan Krystal. Gadis itulah yang perlahan menyembuhkan Taemin. Dia begitu peduli pada Taemin dan Taemin jatuh cinta pada Krystal. Singkatnya, mereka berpacaran. Sampai beberapa bulan yang lalu, Taemin memergoki Krystal berciuman dengan seorang pemuda bernama Kai. Kai adalah teman kuliah Taemin di Kyoto dan karena perselingkuhan Krystal dengan Kai itulah kondisi Taemin kembali terpuruk bahkan jauh lebih buruk. Dia mulai sering mengamuk tanpa sebab, berteriak, bahkan melukai dirinya sendiri.”

Jinki berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri. Wajahnya sendu dan matanya menerawang. Minho dan Changmin bisa melihat bagaimana tersiksanya pria itu.

“Suatu hari, Taemin berpamitan padaku kalau ia ingin pergi kuliah. Aku berpikir ia sudah lebih baik, jadi aku mengizinkannya pergi. Sampai kemudian, aku mendapat kabar kalau Taemin melukai salah seorang mahasiswa hingga kritis. Dan mahasiswa itu adalah Kai. Taemin menusuk Kai dengan pisau. Adikku ingin membunuhnya, Minho-ssi. Tapi saat polisi menyadari kalau kondisi kejiwaan Taemin terganggu, mereka memutuskan untuk memasukkan Taemin ke pusat rehabilitasi khusus gangguan mental. Kalian pasti bisa bayangkan betapa hancurnya diriku, tapi saat akhirnya mereka membebaskan Taemin karena kondisinya sudah membaik, Taemin justru mendengar kalau Krystal tewas karena kecelakaan. Berita itu menyakiti Taemin lebih dari apapun karena meski Krystal berselingkuh di belakangnya, Taemin tetap mencintainya. Dia terobsesi pada Krystal. Dan untuk menghindari hal yang jauh lebih buruk, aku memutuskan untuk mengajak Taemin pindah ke Seoul.”

Kening Minho berkerut. Dia mencoba mencerna informasi itu sedikit demi sedikit.“Apa dia masih sering mengalami gangguan, Jinki-ssi?”

“Tidak,”kata Jinki, menggeleng.“Semenjak­ kami pindah ke Seoul, ia tidak pernah mengalami gangguan lagi.”

“Dan dimana ia sekarang?”

“Aku rasa ia ada di rumah sekarang.”

Minho mengangkat sebelah alis.“Kau rasa?”

Jinki mengangguk.“Ya,”kata­nya.“Sudah dua hari ini aku tidak pulang ke rumah. Kedua orang kami adalah warga asli Korea, mereka meninggalkan sebuah rumah untuk kami di Gaepo-dong. Letaknya tak terlalu jauh dari Sungai Yangjaecheon. Aku dan Taemin biasa tinggal disana, tapi karena dua hari terakhir ini aku sibuk mempersiapkan pameranku, aku tidak pulang ke rumah dan tinggal di apartemenku yang tak jauh dari galeri ini. Aku rasa Taemin berada disana karena ia jarang sekali keluar rumah, dan kalaupun keluar, ia pasti hanya akan berjalan-jalan di dekat sungai, perpustakaan umum Gaepo, atau ke Gaepo-dong Green Park. Dia tidak terlalu suka keramaian.”

Minho mengangguk-angguk. Tanpa sengaja, ia lalu melihat tato di tangan Jinki dan langsung teringat sesuatu.“Apakah adikmu bisa membuat tato, Jinki-ssi”

Jinki mengerjap.“Tato?”

“Ya,”kata Minho lagi, mengangguk. Ada sesuatu yang harus ia pastikan.“Apakah adikmu yang membuatkanmu tato itu?”

Jinki mengangguk.“Ya, Minho-ssi. Taemin memang sangat berbakat dalam membuat tato yang indah.”jawabnya.“Saa­t Na Young bertemu dengannya waktu itu, Taemin bahkan menawarkan pada Na Young apakah ia ingin dibuatkan tato juga.”

Kening Minho berkerut. Dia bertukar pandangan dengan Changmin.“Na Young sudah pernah bertemu dengan adikmu?”

Jinki mengangguk.“Ya,”tuka­snya, tersenyum tipis.“Dan kurasa Taemin menyukai Na Young. Dia itu memang wanita yang luar biasa.”

Minho mengabaikan perasaan kesal yang merayapinya saat mendengar bagaimana Jinki memuji Na Young. Lee Jinki sudah jelas menyukai Na Young. Sangat menyukainya. 

“Menurutmu, kenapa Taemin menyukainya, Jinki-ssi?”tanya Changmin tiba-tiba. Minho menoleh ke arahnya dan menemukan ekspresi serius di wajah sahabatnya itu.

Jinki mengangkat bahu.“Kurasa itu karena Na Young mengingatkannya dengan Krystal.”

“Krystal?”

“Ya, Na Young punya rambut hitam panjang yang sama seperti Krystal dan begitupun dengan mata coklat jernihnya yang ekspresif. Terlebih lagi, mereka juga memiliki sifat yang sama; baik, lembut, dan ramah.”

Kening Minho berkerut. Ada sesuatu yang ganjil disini. Dia menoleh ke arah Changmin.

“Changmin, bagaimana ciri fisik Haejin dan Hye Min?”tanyanya serius.

Changmin berpikir sejenak, tampak mengingat-ingat.“Ram­but mereka panjang dan berwarna hitam, mata mereka juga coklat, meski untuk Hye Min, matanya sedikit lebih gelap hingga nyaris seperti hitam.”

Minho mengangguk-angguk. Satu hal sudah jelas. Ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Dia beralih ke arah Jinki. Ekspresi wajahnya masih serius.

“Jinki-ssi, bisa tolong kau hubungi adikmu? Tanyakan dimana ia berada sekarang.”kata Minho. Ada sesuatu yang aneh yang mengusiknya tentang adik Lee Jinki yang bernama Taemin itu.

Jinki mengangguk.“Tentu, tunggu sebentar.”katanya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan nomor Taemin, lalu menyambungkannya dan menempelkan ponselnya ke telinga.

Tak lama kemudian, Taemin menerima sambungannya.

“Yeoboseyo, Taemin.”sapa Jinki. Minho menatapnya, mengisyaratkannya untuk meloud-speaker sambungan teleponnya.

Jinki mengerutkan kening, tapi tetap mengangguk dan menuruti keinginan Minho.

“Yeoboseyo, Hyung. Ada apa?”Lee Taemin menjawab. Dari seberang sambungan, suaranya terdengar biasa dan tanpa emosi.

“Apa kau ada dirumah?”tanya Jinki, bertukar pandang dengan Changmin dan Minho.

Taemin diam cukup lama. Hanya terdengar suara gemerisik samar yang bagi Minho cukup mencurigakan.

Kening Jinki berkerut.“Taemin?”pa­nggilnya.“Apa kau mendengarku?”

“Ya, Hyung… ya, aku disini.”Lagi-lagi, terdengar suara gemerisik aneh dari seberang sana.

“Taemin, dimana kau?”

“Aku dirumah, Hyung. Ya, aku di ru一Ah! Sial! Kenapa kau menggigitku?”

Mata Jinki, Minho, serta Changmin spontan membelalak saat mendengar suara umpatan Taemin.

Jinki menatap panik Minho dan Changmin.“Taemin, ada apa? Siapa yang menggigitmu?”

“Bukan siapa-siapa, Hyung. Aku harus pergi.”Taemin terdengar terburu-buru.

Minho menggeleng pada Jinki, mengisyaratkan pada Jinki untuk terus menahan Taemin.

Jinki menatapnya cemas, mengangguk.“Tunggu sebentar, Taemin. Ada di一”

“Tolong! Tolong aku!”

Suara jeritan seorang wanita menyela dari seberang sambungan. Suara itu terdengar begitu familier hingga membuat Changmin, Jinki, serta, Minho membeku terkejut.

“Na Young!”seru Minho, merebut ponsel dari tangan Jinki.“Na Young! Dimana kau?!”

Na Young menjerit lagi dari seberang sana, terdengar panik dan ketakutan.“Minho! Apa itu kau?! Minho, tolong aku!”

“Diam, keparat!”Terdengar suara tamparan keras dari seberang sana dan rintihan kesakitan Na Young.

Mata Minho membelalak.

“Taemin! Lee Taemin! Apa yang kau lakukan pada Na Young?!”

Lee Taemin tidak menjawab Minho. Dia hanya terkekeh mengerikan seperti orang gila. Dia berdecak-decak dengan sikap mencela.

“Dia bukan Na Young. Dia kekasihku, Jung Krystal.”tukas Taemin cekikikan. Perut Minho melilit dan saat ia bertukar pandang dengan Changmin serta Jinki, kedua pria itu tampak memucat.

Jinki menelan dengan berat, tampak tak percaya.“T-Taemin…­”

Taemin tertawa histeris di seberang sambungan. Dia menyenandungkan kata-kata mengerikan.

“Aku akan membunuhnya… Aku akan membunuhnya… Aku akan membalaskan rasa sakitku padanya…”

Tubuh Minho membeku. Dan sebelum sambungan telepon tertutup, ia mendengar suara pistol dikokang dan desingan peluru yang meledak di udara dengan keras. Di belakang suara memekakkan itu, suara jeritan memilukan terdengar mengiris hatinya.

Lee Taemin menembak Na Young.

Membunuhnya.


* * *

Salju turun. Lebat dan dingin.

Minho tidak mempedulikannya. Dia terus berlari menyusuri jalan-jalan terbengkalai yang mulai tertutup salju di kawasan pemukiman ilegal yang ada di lahan privat di Seoul itu.

Guryong.

Setelah mengumpulkan ketenangan dirinya yang terpecah karena suara tembakan di sambungan telepon mereka dan Taemin. Kini, Minho, Jinki, dan Changmin berlari di Guryong untuk mencari tempat persembunyian Taemin karena pihak kepolisian telah berhasil melacak keberadaannya melalui ID teleponnya.

Beberapa polisi sudah mengepung tempat kumuh itu, sementara yang lainnya berpencar dan mulai mencari.

Saat mereka akan berbelok di sebuah jalan kecil di depan bangunan yang persis seperti bekas gereja itu, mereka mendengar suara tembakan yang memecah udara.

Mereka bertiga serempak berhenti, terkejut, dan dengan tergesa-gesa langsung berlari ke arah asal datangnya suara itu.

Suara itu rupanya berasal dari sebuah gedung bekas Taman Kanak-Kanak. Beberapa polisi yang mengikuti mereka mulai mengepung bangunan itu dan mendobrak pintunya.

Dengan senjata teracung ke udara, Minho ikut berlari memasukki gedung itu. Matanya fokus, konsentrasinya tertuju pada sekitarnya dengan kewaspadaan yang tinggi.

Minho mulai mendobrak satu demi satu pintu ruang kelas yang ada di gedung sekolah itu dengan kakinya, mencari Taemin dan Na Young. Rasa panik dan cemas bergulung di dasar perutnya, tapi dengan sekuat tenaga, Minho terus menekannya. Dia harus percaya kalau Na Young masih hidup. Harus.

Ketika Minho dan yang lainnya sampai di sebuah atrium di tengah gedung itu, terdengar suara tawa licik seseorang dari lantai atas.

Minho dan yang lainnya berhenti berlari, mendongak ke atas, dan menemukan seorang pemuda yang tengah menahan Na Young di tangannya. Tangan pemuda itu menekan leher Na Young dari bagian belakang, sementara Na Young yang kondisinya tampak kacau dengan mulut tersumpal kain dan tangan terikat melihat ke tempat Minho dan yang lainnya dengan putus asa.

Hati Minho seperti diremas saat melihat wanita itu. Kelegaan saat mengetahui kalau Na Young masih hidup tidak bisa menenangkan hatinya dari rasa amarah saat melihat bagaimana Lee Taemin memperlakukan Na Young. Dia mengatupkan rahangnya, mengepalkan tangan, dan menatap pria bernama Lee Taemin itu dengan sengit.

“Lepaskan dia, Lee Taemin!”sergah Minho. Pistol standar FN-57 miliknya teracung di udara dan mengarah tepat ke pemuda itu. Sementara Lee Jinki yang berdiri tak jauh dari Minho hanya bisa menatap adiknya dengan tak percaya.

Lee Taemin tertawa. Dia menekan revolver di tangannya ke pelipis Na Young. Membuat wanita itu merintih ketakutan.

“Melepaskannya?”ejek­ Taemin.“Aku tidak akan melepaskannya. Aku akan mengirimnya ke neraka.”

Jinki menggeleng.“Taemin..­.”bisiknya.“Jangan. Kumohon, jangan. Dia bukan Krystal.”

Mata Lee Taemin menyipit menatap Jinki.“Hyung.”desisn­ya. Nada suaranya dingin.“Kau mengkhianatiku. Dia adalah Krystal dan kau berselingkuh dengannya.”

Tanpa terduga, Taemin mengarahkan senjatanya ke arah Jinki dan menembakkan selongsong peluru ke arah pria itu. Dalam sekejap, timah panas itu melesat ke arah Jinki dan menerjang dada kanan Jinki.

Jinki mengerang keras. Jatuh kesakitan ke lantai dengan luka tembak yang mulai mengeluarkan darah.

Minho dan yang lainnya membelalak terkejut. Mereka semua berlari menghampiri Jinki yang terus menggeliat kesakitan sementara Taemin tertawa girang melihat kepanikan mereka.

Minho mengepalkan tangannya. Dia berlari ke arah tangga menuju lantai dua. Dia akan membunuh Lee Taemin.

“Minho!”seru Changmin memanggilnya.

Minho mengabaikannya. Dan saat Taemin melihat Minho mengampirinya, ia buru-buru mengarahkan senjatanya ke arah pria itu.

“Berani mendekat, kubunuh dia.”ancam Taemin memeringatkan. Tangannya kembali menekan ujung revolvernya ke sisi kepala Na Young dan Minho terpaksa harus menghentikan langkahnya.

“Kau harus melepaskannya.”desis­ Minho geram.“Dia bukan kekasihmu, Lee Taemin.”

Lee Taemin menggeleng, melangkah mundur perlahan, menyeret Na Young bersamanya sehingga saat cahaya menyusup dari lubang di retakan jendela itu menyorot mereka, saat itulah Minho bisa melihat kondisi Na Young lebih jelas. Blus putih yang dipakainya sudah begitu kotor dan sobek-sobek sehingga sebagian tubuhnya nyaris terlihat semua. Rok coklat muda selutut yang dipakainya juga terkena noda hitam seperti tinta dan saat Minho menyusuri semuanya lagi, Minho menemukan sebuah tato Grim Reaper hitam yang baru kering di pinggul sebelah kanan wanita itu. Tato itu melekat di kulit Na Young yang tampak merah dan penuh memar serta bercak darah yang sudah mengering.

Minho menahan gumpalan tak percaya yang menohok tenggorokannya. Dia menarik napas, menenangkan diri. Matanya kembali menatap tajam Taemin.

Pemuda itu sebenarnya tampak masih sangat muda. Rambutnya coklat keemasan seperti Lee Jinki dan begitupun dengan matanya. Hanya saja jika mata Lee Jinki tampak ramah dan hangat. Mata Lee Taemin justru tampak dingin dan tidak fokus. Matanya begitu mengerikan karena kegilaan yang terpancar dari sana.

Batin Minho bergidik. Sekarang sudah jelas kalau Lee Taemin memang Grim Reaper.

“Cepat lepaskan dia, Lee Taemin.”perintah Minho lagi.“Kau harus melepaskannya atau aku akan membunuhmu.”

“Membunuhku?”Lee Taemin membeo, menyeringai mengejek. Dia mencemooh.“Kau takkan bisa membunuhku karena sebelum kau melakukan itu, aku akan lebih dulu membunuhnya.”

Taemin menekan ujung pistolnya lebih keras ke kepala Na Yong. Wanita itu merintih, ketakutan dan panik. Minho mengatupkan rahangnya.

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau membunuh mereka semua? Mereka semua bukan Jung Krystal, Lee Taemin.”

Taemin mendengus.“Mereka bukan Jung Krystal, tapi mereka menyakitiku persis seperti apa yang Krystal lakukan.”

Taemin mengelus sisi wajah Na Young dengan ujung pistolnya. Dia tersenyum licik saat melihat bagaimana Na Young gemetaran dibawah tekanannya. Dia mengecup pipi wanita itu sekilas. Seringainya semakin lebar saat melihat bagaimana Na Young bergidik sambil memejamkan matanya.

“Aku mencintainya,”bisik Taemin. Suaranya menyiratkan kesakitan dan matanya menerawang jauh. Minho memanfaatkan hal itu untuk memberi isyarat pada Na Young. Dia mengayunkan kepalanya dengan samar ke samping. Na Young menatapnya dengan mata melebar ketakutan. Tapi Minho mengangguk, meminta Na Young agar percaya padanya.

Na Young menelan dengan berat, menarik napas gemetar dan memejamkan matanya satu kali dengan lambat. Minho tersenyum samar.

“…mengkhianatiku sama seperti semua orang. Aku tidak bisa menerima itu. Kalau mereka menyakitiku, maka aku juga akan menyakiti mereka. Dan wanita ini…”

Taemin menekan ujung pistolnya lagi ke kepala Na Young, tapi sewaktu ia akan menatap Minho, tiba-tiba saja Na Young mengayunkan kepalanya dengan keras ke arah kepala Taemin. Dia menghantamkan kepalanya ke kepala pemuda itu. Membuat Taemin mengerang kesakitan dan terkejut karena tidak menduga gerakan itu.

Pistol yang dipegang Taemin pun terjatuh ke lantai dan dengan cepat Na Young bergerak tersaruk-saruk ke arah Minho sementara Taemin jatuh tersungkur ke lantai sambil memegangi pelipisnya yang berdarah.

“Brengsek!”umpatnya geram. Dia meraih pistolnya di lantai, mengarahkannya ke arah Minho dan begitupun dengan Minho yang mengarahkannya pada Taemin. Mereka saling menekan pelatuk dan dalam sekejap dua longsongan timah panas itu melesat berlawanan arah dan dengan tepat menghantam tubuh Minho dan Taemin.

Suara erangan mereka berdua beradu dengan suara letusan tembakan yang memecah udara.

Na Young menjerit.

“MINHOOO!!”


* * *


2 Years Later…


Gundukan tanah itu sudah mengering. Tapi bunga di atasnya selalu segar dan wangi.

Lee Na Young menatap batu nisan yang ada di gundukan tanah itu dengan sendu.

Sudah dua tahun berlalu dan Na Young masih belum bisa mempercayai semuanya.

Dia menggigit bibirnya, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari mulutnya. Matanya panas dan hatinya sakit. Pria itu adalah sosok yang luar biasa dan Na Young sangat menyayanginya.

Na Young menatap nama yang terukir di nisan itu dengan hampa. Dia menarik napas gemetar, mengumpulkan kekuatan. Dengan senyum pedih, ia meletakkan sebuket bunga lily putih di atas gundukan tanah itu.

Kematian pria itu memang telah menyakitinya tapi mengenal pria itu bukanlah sesuatu yang membuat Na Young tidak mensyukurinya.

Pertemuan mereka adalah hal yang membahagiakan bagi Na Young meski pada akhirnya mereka harus berpisah.

“Na Young…” 

Na Young menoleh. Dia tersenyum samar pada sosok yang berdiri tak jauh darinya.

“Ayo…”

Sosok itu mengulurkan sebelah tangan padanya. Na Young mengangguk, melangkah mendekatinya dan menerima uluran tangan sosok itu. Dia meremasnya pelan dan sosok itu tersenyum padanya.

Mereka berdua berjalan menjauh dari area pemakaman itu sambil bergandengan tangan. Saling menguatkan satu sama lain dalam keadaan yang telah terjadi.

“Apa kau mau ke bukit?”

Na Young menoleh, mengangguk pada sosok itu dan mereka berjalan ke arah sebuah bukit kecil tak jauh dari sana. Mereka mendaki bukit itu dengan langkah santai. Hari sudah mulai sore, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mempedulikan hal itu.

Mereka berdua lalu berhenti di puncak bukit itu, memandang ke arah barat dimana perlahan-lahan matahari mulai tenggelam dalam kesunyian.

“Sudah dua tahun berlalu.”kata Na Young tiba-tiba. Matanya memandang lurus ke depan, menerawang.

Sosok di sebelahnya mengangguk.“Mm-hmm.”

“Bagaimana kabarnya?”

“Buruk.”jawab sosok itu. Wajahnya tampak sendu.“Sejak sadar dari koma dan masuk lagi ke rehabilitasi, bukannya sembuh ia justru semakin tak karuan. Tapi bukan histeris, ia cenderung pendiam. Dia seolah raga tanpa nyawa.”

“Kau mengunjunginya?”

Sosok itu mengangguk.“Ya, hanya sekali dua kali jika sedang tidak sibuk.”

Na Young menghela napas.“Lee Taemin sebenarnya adalah anak yang baik. Dia hanya mengalami nasib yang buruk saja.”

Sosok itu tersenyum sedih.“Kau benar. Dan aku merasa sangat bersalah padanya.”

Na Young menoleh ke arah sosok itu.“Kenapa?”

“Karena aku telah merenggut kebahagiaannya. Aku telah menyakitinya.”

Na Young menggeleng.“Tidak, ini semua bukan salahmu.”bisiknya lirih.“Itu sudah takdir yang harus dijalani oleh Taemin.”

“Menurutmu begitu?”

Na Young mengangguk. “Ya.”katanya, melihat ke arah matahari lagi.

Sosok itu terus memperhatikannya; kagum, terpesona, jatuh cinta.“Apa yang kau pikirkan?”tanyanya.

Na Young menggeleng, tersenyum samar.“Kau.”

“Aku?”

“Choi Minho.”

Sosok itu一Minho一mendengus geli. Dia meraih kedua tangan Na Young, membawanya ke mulutnya dan mengecupnya.

“Tidakkah kau ingin menanyakan apa yang kupikirkan?”

Na Young menggeleng lagi, tersenyum tipis.

Minho merengut.“Kenapa?”

“Karena apa yang kau pikirkan pasti selalu sama; kasus, kasus, dan kasus.”

Minho berdecak.“Tapi kali ini berbeda.”

Na Young memiringkan kepalanya ke samping, menatap Minho dengan senyuman manis. Wanita itu cantik. Minho mencintainya. Sangat.

Minho mengecup tangan Na Young lagi, tersenyum di kulit tangan wanita itu yang sangat lembut.

Hati Na Young berdesir. Wajahnya bersemu dan jantungnya berdebar.

“Memangnya apa yang kau pikirkan?”bisiknya.

Minho menatapnya. Mata hitam gelapnya yang mempesona menyala-nyala.

“Aku,”kata Minho, senyuman penuh arti bermain di bibirnya. Na Young merengut. Tapi tiba-tiba, Minho meraih sesuatu dari saku belakang celana jeans yang dipakainya. Dia lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Na Young, membuat wanita itu terkesiap. Minho hanya tersenyum. Matanya berbinar penuh cinta dan kebahagiaan.

“Kau,”lanjut Minho lagi. Kali ini, ia membuka penutup benda yang ada di tangannya, menunjukkan sebuah cincin emas dengan sebutir berlian putih indah yang menghias bagian tengahnya. Na Young menahan napas. Matanya berkaca-kaca.

Minho tersenyum lembut pada Na Young. Dia meraih satu tangan Na Young.

“Dan,”Minho mengecup tangan Na Young sekali lagi.“Maukah kau menikah denganku, Lee Na Young?”

Na Young tidak bisa menemukan suaranya. Air mata kebahagian menetes dari matanya dan ia mengangguk pada Minho.

“Ya,”bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.“Ya, Minho. Ya, aku mau.”

Minho tersenyum lebar. Dia menyisipkan cincin itu di jari manis tangan kiri Na Young, mengecup tangannya lagi, lalu bangkit berdiri. Dia menangkup wajah Na Young, mengecup kening wanita itu dengan lembut.

“Terima kasih.”bisiknya, tersenyum pada Na Young.“Aku mencintaimu.”

Na Young balas tersenyum.“Aku juga mencintaimu.”

Minho tersenyum lagi pada wanita itu. Dan saat matahari tenggelam di ufuk barat, sebuah ciuman penuh cinta saling terjadi di antara pasangan itu.

Mereka tersenyum di antara ciuman mereka. Dan seolah angin yang mengabarkannya, hembusannya menerpa bunga lily putih di makam yang dikunjungi mereka tadi.

Makam itu milik Lee Jinki.

THE END

 

Jangan lupa baca FF Project dari author Shawol lainya DISINI

Add Comment