FF 2Min / Old Bicycle : I Love You - Kpop Indonesia

FF 2Min / Old Bicycle : I Love You

Tittle : Old Bicycle
Author : Mrs.ChoiLee^^
Genre : Romance, Lullaby story, Sweet sweet apple/?
Lenght : 2-shoot
Rate : PG-13

summary : saat Lee Taemin memiliki sepeda tua keberuntungan.  (please thor, ini bukan summary -_- )

ps. fanfic ini sudah pernah saya rikis di akun ama saya yangvsaya lupa passwordnya. dan kemudian akan saya lanjutkan disini. Happy Reading ^^

.

.

.

.

~Old Bicycle~

Naega Neol  Joahae ….

Aku suka dia. Dia yang selalu berusaha tersenyum walau selalu diacuhkan. Dia yang  bersikap baik tetapi selalu dihiraukan. Dia yang pintar. Dia yang manis dengan kedua pipinya yang memerah. Dan dia yang kini menatapku di bawah sana.

Anggap saja aku ini pengecut, pecundang, losser, atau apapun yang kalian mau. Karena ku akui, aku memang seperti itu. hanya berani menatapnya dari jauh.  Memperhatikan dengan sembunyi sembunyi. Dan selalu diam saat dia dalam keadaan sulit.
Seperti saat ini, aku berdiri menghadap jendela yang kubuka tirainya. Menatap lurus kebawah. Pada sosok manis yang kini juga menatapku. Pada dia, yang ku suka.

“hai, apa kabarmu hari ini?” tanyaku walau kuyakin dia tak akan mendengarnya.

“apakah kali ini rantainya yang putus?” aku terus bermonolog. Tak peduli dia mendengar dan menjawab atau tidak. Toh, sudah 2 bulan ini aku dan dia berkomunikasi dalam diam.

“sepertinya, walau kau sudah sangat sering di sakiti. Kau masih bisa tersenyum. Apa kau tau? Senyummu itu memabukkanku. Hingga membuatku bisa melakukan hal bodoh hanya untuk melihatnya.” Yah, aku tau dia adalah pribadi yang kuat. Walau sudah berulang kali disakiti oleh teman temannya, kulihat ia tak pernah mengeluh. Tapi…. aku juga tau. Dibalik itu, dia sangat rapuh. Membuatku tak mempunyai keberanian hanya untuk sekedar menyentuhnya.

“hey, Taemin. aku menyukaimu. Sangat sangat menyukaimu.”

Dalam pandanganku. Ku lihat ia tersenyum. Apa ia mendengarnya? Kurasa iya. Tapi bukan melalui telinga. Melainkan dengan hatinya.
Sesaat kemudian.Seorang kakek tua yang kutau sebagai pemilik bengkel langganannya. Berjalan mendekatinya. Seperti mengatakan sesuatu. sepertinya sesuatu yang serius. Tapi tetap saja aku tak bisa mencuri dengar. Hingga kemudian, sosok Manis bernama Taemin itu, mulai menaiki sepedanya. Kakinya hendak mengayuh. Namun sebelumnya ia menoleh kearahku. Kulihat bibir tipisnya bergerak mengucap sesuatu. yah, aku tau, dia berpamitan.

“selamat malam Taemin, pulanglah hati hati. Dan selamat bermimpi indah. Semoga kita bertemu dalam mimpi.” Aku menutup tirai dan meninggalkan jendela. Memasuki rumah besar yang penuh aturan.

“Jay, dia sudah pulang. Pastikan dia baik baik saja.”

“jadi kau masih betah bersembunyi, eum?” suara berat menginterupsiku secaraa tiba tiba sesaat setelah aku menutup panggilanku.

“itu bukan urusanmu. dan kutegaskan sekali lagi, berhenti mengganggunya. Apa kau tidak bosan selalu mengganggunya?” aku mencoba menahan amarahku pada sosok pria di depanku yang nyatanya adalah adikku sendiri.

“sejauh ini, aku belum bosan. ah…. apa kau marah? Mencoba menjadi pahlawan kesiangan, eoh? Ayolah hyung, kau tidak benar benar menyukainya bukan? Atau mungkin kau lupa konsekuensinya jika kau masih berniat memilikinya?”
Aku mengepalkan kedua tanganku pada sisi kanan dan kiri tubuhku. Andai saja dia bukan adikku, mungkin sudah kubunuh dia. Ah ya, dia adalah Minhyuk, adikku. Dia adalah orang yang berada dibalik penderitaan Taemin disekolah. Dia dan teman teman satu gengnya memang sering mengerjai Taemin. dan perbuatan bodoh yang aku maksudkan sebelumnya adalah, selalu membiarkan adikku ini untuk melakukannya hanya untuk melihatnya dimalam hari seperti tadi.

Hah, jangan sungkan untuk mengataiku bodoh, pecundang, brengsek atau apapun karena apa yang kulakukan. Sungguh aku menerima semua cacian kalian.

Minhyuk mendekatiku. Tangannya memegang bahu kananku dan mendekatkan kepalanya pada sisi kananku.
“ayah akan mencoretmu dari daftarnya jika ia tau anak kebanggaannya seorang Gay. Aku tau, kau juga mengetahuinya hyung” bisiknya sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkanku dalam kamarku yang temaram.

Aaargghhh…. aku benar benar muak.

~Old Bicylce~

Ke esokan malamnya. aku kembali menungguinya ditempat biasa. Kusibakkan tirai. Memandang keluar. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa bengkel kakek tua itu tutup. Seketika timbul rasa bersalah dalam hati. Bagaimana tidak? Malam ini pasti ia akan sampai dirumah larut malam. Bagaimana jika..-?

Oke, baiklah. sepertinya aku harus berhenti memakai cara ini. Aku akan menggunakan cara lain.
Sesaat kemudian, sosoknya mulai terlihat dalam keremangan. Dia menuntun sepedanya sambil menatapku. Ada gurat kecewa pada sorot matanya. Hah…. maafkan aku. Dan setelahnya ia kembali berlalu.

Baiklah, sepertinya penyerangan secara langsung terpaksa harus dilakukan jika aku ingin dia ada didekatku.

~Old Bicycle~

Pagi hari yang cerah. Secerah wajahku yang pasti akan membuat orang orang makin terpesona padaku. Aku menghabiskan segelas susu dan setumpuk roti yang berisi selai kacang dengan cepat. Ayah dan ibuku bahkan sempat menyergitkan keningnya melihat perilakuku yang tidak biasa.
“makan pelan pelan, Minho” tegur ibuku. Maaf ibu, aku tak bisa bersantai santai sekarang. Aku harus segera melihat matahariku jika aku ingin tetap hidup. aku hanya memamerkan senyum lima jariku.

“ayah, ibu, aku berangkat dulu.”pamitku dan bergegas untuk meluncur ke garasi. Menatap sejenak pada lambhorghini merah yang terparkir gagah. Tersenyum sejenak. Hingga kemudian aku mengambil kunci di atas rak untuk membuka gembok sepeda berdebu yang terparkir dibelakang mobil. Yah, mulai hari ini aku akan menggunakan sepeda. Selamat tinggal Jack. Sekedar info, Jack adalah nama mobilku. Hahaha….

~Old Bicycle~

Ku kayuh sepedaku pelan. Maklum, sudah lama sekali aku tak memakai sepeda. Jadi tangan dan kakiku sedikit kaku saat mengayuh sepeda.
Tak sampai 30 menit aku sampai disekolah. Kulihat ia dengan sepeda tuanya berada tak jauh didepanku. Terlihat punggung sempitnya yang seolah memanggilku untuk memeluknya dari belakang.

Samar samar aku juga mendengar kekehan dari beberapa siswi yang mencela Taeminku. Aku mendengus. Merasa tak terima tentu saja. Kurasa, mulai saat ini aku tidak akan mau berdiam diri lagi. persetan dengan segala aturan,  image, dan warisan sialan itu. Aku tak akan membiarkan ini terus terjadi.
Aku mengayuh sepedaku agak cepat saat kulihat Taemin sudah sampai diparkiran sepeda. Kuhentikan kayuhanku dan turun dari sepeda saat aku sampai. Aku menoleh padanya. Sepertinya ia tak sadar ada seseorang disampingnya.

Kuputuskan untuk menyapanya. Kau tau ini mendebarkan. Aku belum pernah menyapanya selama ini.

“Selamat Pagi Taemin.” Taemin terlihat kaget saat melihatku. Apa wajahku menyeramkan? Oh tidak, aku tak bisa berlama lama disini. Wajah manisnya yang menatapku bisa membuatku mimisan. Akupun memutuskan untuk segera meninggalkannya. Ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungku.

~Old Bicycle~

Bel sekolah berbunyi nyaring. Ku ambil telepon genggamku.

“bagaimana Jay, sudah?”

“apa? Bagaimana kau bisa membiarkannya?”

“aku tak mau tau, kau cari siapa orang yang disuruhnya. Dan beri pelajaran padanya.”

Aku menggeram marah saat Jay, orang kepercayaanku, memberikan kabar bahwa ada seseorang yang merusak sepeda tua Taemin. sebenarnya, aku menguhubungi Jay hanya untuk memastikan bahwa sepeda Taemin kali ini dalam keadaan baik baik saja. Tapi diluar kendaliku ada orang yang lebih dulu merusaknya. Aarrggg… sial. Sial. Sial. Taemin pasti saat ini dalam kesulitan. Tak mau membuang waktu aku segera mengambil sepedaku dan mencari Taemin.

Ku coba untuk mencari di area sekolah. Semoga dia tidak membuat sepeda Taemin rusak parah. Hampir seluruh area sekolah saat ini gelap, mengingat  ini jam sembilan malam dan sekolahan akan segera ditutup. Hanya beberapa lampu dengan nyala redup yang mampu membantuku untuk mencari keberadaan Taemin. hingga aku melihatnya berada dibawah pohon mapple di belakang sekolahan, menatap lemas pada potongan sepedanya yang bergelantungan indah diatasnya.

~ Old Bicycle~

Aku merenggangkan otot otot tegangku saat mulai memasuki rumah. Terlihat keadaan rumah yang sepi.tentu saja, karena saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan aku baru saja sampai setelah mengantarkan Taeminku pulang kerumahnya dengan selamat. Hah… hari yang cukup mendebarkan saat kau untuk pertama kalinya memberanikan diri  secara terang terangan mendekatinya. Sejenak aku tersenyum saat mengingat kebersamaanku dengan Taemin sejak pulang sekolah tadi. tak kusangka ia pemuda yang begitu kuat dan tangguh ditengah kondisi keluarga yang bahkan ia hanya memiliki seorang Hyung sebagai satu satunya anggota keluarga.

Entah kenapa, cara berpikirnya yang cukup dewasa, pemikiran sederhananya yang tak mau untuk merepotkan orang lain, sikap polosnya, ahh…. aku menyukai semuanya. Apalagi saat melihat pipinya yang bersemu merah. Dia sungguh manis. Jika orang jepang mengatakan dia itu Kawaii.
“sepertinya kau sudah cukup berani dan siap untuk menerima segala akibat yang akan terjadi hyung.”  suara Minhyuk menginterupsiku dari lamunan indah tentang Taemin.  aku menatapnya datar.

“itu bukan urusanmu.”

Sejujurnya aku sedikit bingung dengannya. Kenapa sepertinya dia tidak menyukaiku? Terlebih dia selalu mencari keributan denganku tentang Taemin. mungkinkah?

aku mencoba menepis pikiran pikiran buruk mengenai adikku dan memilih untuk segera berlalu. Meninggalkannya yang berdiri kaku diruang tamu. Lebih baik aku memikirkan sesuatu yang akan ku lakukan besok bersama Taemin.

~Old Bicycle~

Ini hari sabtu dan sekolah berakhir lebih cepat dari hari biasa. Tepat jam 2 siang bel tanda berakhirnya belajar berbunyi. Dengan segera aku membereskan buku bukuku dan berlari menuju kelas Taemin. ingat, hari ini Taemin harus mengambil sepedanya yang diperbaiki.

Aku tak mengindahkan panggilan keras yang ditujukan kepadaku. Seperti , “Minho, apa kau berangkat les hari ini?“ ,  atau “ Minho, aku pinjam buku cacatanmu.”  , bahkan “ Minho, aku nanti boleh seuniversitas denganmu?”  Masa bodoh dengan seruan mereka yang menggelikan itu. Dan tentang les. Kurasa membolos untuk sehari tidak akan masalah. Lagipula aku bisa belajar sendiri dirumah dan tak mengalami kesulitan apapun dalam belajar. Dan Kurasa tanpa les – sialan yang menyita banyak waktuku – itu, aku akan tetap lulus dengan nilai sempurna dan dapat menerus diperguruan tinggi manapun yang kumau.

Saat ini aku sudah hampir dekat dengan kelas Taemin. hanya beberapa meter lagi aku sampai. Hingga keramaian di depanku menghentikan langkahku. Ada apa disana? Bukankah itu kelas Taemin? Pertanyaan itu muncul tanpa kusadari. Aku segera menghampiri keramaian itu.

“ada apa ini?” tanyaku pada kerumunan orang didepanku. Mereka semua menatapku takut. Entah apa yang mereka takutkan. Aku tau aku ini masih berstatus ketua osis. Tapi bukan berarti mereka harus menatapku seperti itu. seolah olah aku akan melakukan inspeksi dadakan untuk kedisiplinan.
Mereka masih diam. tanpa menunggu lagi aku menembus kerumunan yang menutupi sesuatu yang terjadi dibelakangnya. Dan sesuatu itu sukses membuatku cukup terkejut.

Didepan mataku terlihat Minhyuk  dan teman temannya yang tertawa senang melihat Taemin yang bersimpuh dengan keadaan penuh sampah disekitar tubuhnya. Brengsek.

“hai hyung…” sapa Minhyuk saat melihatku. Tapi aku tak mengabaikannya. Aku hanya fokus memperhatikan Taemin yang melihatku dengan tatapan kaget. Aku tau mungkin dia tak menyangka bahwa aku adalah kakak dari orang yang selama ini membullynya.

“apa yang kau lakukan Minhyuk?” tanyaku dengan berusaha keras menahan emosi. Oh, siapa sih yang tidak akan marah jika melihat orang yang kau sukai diperlakukan tidak layak oleh orang lain terlebih orang lain itu adalah adikmu sendiri.

“ Tentu saja bersenang senang.” Minhyuk menjawabnya dengan santai. Terlihat senyum menyeringai dari bibirnya. Sebenarnya apa yang ia inginkan?
Dengan geram aku mendekat, lebih tepatnya aku mendekati Taemin yang masih bersimpuh melihatku.

“Berdiri Taemin.” kataku pelan. Ia melihatku heran. Aargghh… sial. Kenapa taemin bisa sepolos ini?

“KUBILANG BERDIRI !!” sentakku. Aku tau dia sempat terkejut saat aku membentaknya. Tapi aku tak peduli, mulai saat ini aku akan melindunginya.
Taemin mulai berdiri. Dan kemudian menunduk diam. kedua tanganku meraih bahunya.

“jangan pernah menunduk jika kau diperlakukan tidak adil.” Taemin seketika mendongak. Mungkin karena dia terkejut dengan ucapanku? Entahlah. Dia menatapku bingung.

“jangan pernah menundukkan kepalamu pada orang yang memperlakukanmu dengan tidak adil. Kau, siswa paling pintar di angkatanmu. Tidak seharusnya kau diperlakukan seperti ini. Jadi angkat terus kepalamu seperti ini. Dan jangan biarkan orang merendahkanmu. Arra?” jelasku padanya sembari menyingkirkan kotoran kotoran yang singgah ditubuh indahnya. Taemin hanya diam, tapi pipinya bersemu merah. Ouuuhh…. manis sekali.

Ah.. baiklah kita kembali serius.

Aku kemudian menoleh kearah adikku. Menghampirinya. “Jika aku tau kau mengganggunya lagi. kau akan dalam masalah. Ah… untuk pemberitahuan saja, aku sudah tidak peduli apapun yang akan terjadi. Jadi jika kau menyakitinya barang seujung rambutpun. Kau akan mati ditanganku, tak peduli bahwa kau adalah adikku.” Minhyuk menggeram marah padaku. Terlihat sangat jelas karena dia menggepalkan kedua tangannya sendiri hingga buku buku jarinya memutih.

“untuk saat ini, aku akan melepaskanmu. Tapi lain kali, jangan berharap kau bisa lepas dariku adikku, sayang”
Aku kembali ke Taemin, merangkul bahunya dan membimbingnya keluar kelas.
“Kalian kenapa masih disini? Ini sudah waktunya pulang”  kataku pada siswa siswa yang masih berkerumun didepan kelas Taemin.

~Old Bicyle~

Saat ini kami, maksudku aku dan Taemin berada di sebuah kedai kopi dekat Taman kota. Setelah kami mengambil sepeda Taemin -dengan agak memaksanya agar aku yang mengantarnya- aku mengajaknya untuk pergi bersama. Tentunya dengan sepeda kami masing masing. Dan dia hanya mengangguk patuh. Seperti anak anjing. Kyaa…. kawaii.

Kami bersepeda menyusuri kota. Mengayuh sepeda kami disepanjang sungai Han. Membeli 2 potong hotdog dan memakan dipinggir sungai. Saling bercengkrama,bercerita banyak,yang dari sana aku tau alasan kenapa dia bertahan dengan sepeda tuanya, Dan kami berakhir di kedai kopi dekat taman kota.

“Terima kasih Sunbae” suara lembut memecah keheningan diantara kami sejak kami memasuki kedai ini.

“untuk?” tanyaku, walaupun aku tau maksudnya. Aku hanya ingin memancingnya.

“untuk tadi siang disekolah dan untuk semuanya” balasnya dengan senyum manis dan pipi yang memerah seperti kepiting rebus. Ah… aku suka sekali dengan pipinya. Apalagi bibir plumnya. Membuatku ingin sekali untuk mendaratkan bibirku disana.

Aku hanya tersenyum singkat membalasnya. Aku menyeruput ice moccachinoku sejenak sebelum aku memberanikan diri untuk mencondongkan tubuhku agar lebih dejat dengannya.

“Taemin.” panggilku.  Ia yang sedang menikmati cokelat panasnya menatapku dengan mata polosnya. “ne?”

“aku menyukaimu, apa kau mau jadi pacarku?” tanyaku to the point. Aku tau ini terkesan terlalu cepat. Tapi aku tak bisa menahan lagi. sudah 2 bulanan aku menyukainya sejak ia masuk kesekolahan kami. Dan aku tak mau menunggu lebih lama dan membiarkannya terus diremehkan orang lain didepan mataku.

“eoh?” ia menatapku terkejut. Dan aku bersumpah, ia sangat imut, lucu, kawai, dan apapun namanya itu. dia membuatku gemas.

“apa masih kurang jelas? Aku bertanya, apa kau mau menjadi pacarku?” tanyaku sekali lagi.Dia bergerak tak tenang. Aku mulai was was. Apa dia akan menolakku?

Taemin meletakkan cangkir cokelatnya. Lalu memandangku lesu, seolah ia meminta maaf melalui tatapannya.

“Mian, sunbae-nim, tapi aku… aku memiliki seseorang yang kusukai.” Balasnya jujur.

Aku terkejut bukan main. Siapa? siapa yang sudah merebut Taeminku dariku? Arrghh… ku rasa aku memang benar benar bodoh. Andai saja aku mendekatinya lebih awal, mungkin akan ada kemungkinan yang baik untukku.

“Ssi..siappa?” tanyaku ragu. Aku tau ini terdengar bodoh, tapi aku sangat penasaran.

“aku tak tau siapa dia.” Aku menyergitkan keningku. Bingung menerjangku. Bagaimana bisa ia menyukai seseorang yang tidak ia kenal?
Seolah mengerti apa yang bingungkan ia mulai bercerita, tentang dia, sepeda tuanya, dan seorang pemuda. Tentang dia yang sengaja membawa sepeda tua dan membiarkan sepedanya dirusak agar diamempunyai alasan untuk melihat pemuda itu. tentang dia dan pemuda itu yang hanya berbicara dalam diam. tentang dia yang menyukai pemuda diruang temaram tanpa tau apa sebabnya.

Dan yang tidak Taemin tau, pemuda yang dia maksud adalah aku. Sungguh rasanya seperti ada ribuan kupu kupu menggelitik perutku saat seseorang dengan jujurnya menyatakan bahwa dia menyukai seseorang didepanku tanpa dia tau bahwa orang itu adalah diriku.

Sedetik kemudian aku tertawa. Keras. Terbahak bahak. Bahkan memegangi perutku yang sekarang mulai terasa sakit karena tertawa terlalu lama.
Taemin mengerucutkan bibirnya. Imut. aku tau dia tersinggung karena aku tertawa. Tapi mau bagaimana lagi?

“kenapa sunbae tertawa? Apa perasaan seseorang pantas ditertawakan?” ucapnya. Seketika tawaku berhenti. Lalu aku tersenyum penuh arti.
“kau akan paham kenapa aku tertawa, jika kau tau alasannya Taemin.” ia menatapku penuh heran.

Aku akan mengunggapkannya. Hah… aku membenarkan posisi dudukku. Tersenyum padanya. Dan, “aku, adalah pemuda yang kau maksud dalam ceritamu, Taemin. itu sebabnya aku tertawa.” Ujarku pelan dan penuh penekanan. Ia masih menatapku dengan pandangan penuh tanyanya. Aigoo… ia sungguh polos sekali….

“kita sudah bertemu selama lebih dari 2 bulan. Berbicara dalam diam. saling memandang dari jauh. Kau menatapku dari bengkel Kakek tua. Dan aku memandangmu dari balik jendela di ruang temaram. Kau dan aku, sudah saling mengenal sejak lama. Berbagi cerita melalui sebuah ikatan yang tak orang lain tau. Dan… yah, begitulah. Kurasa kau paham maksudku Taemin.” jelasku.

“jad…jadi… sunnbae????” ia terlihat syok, tidak percaya, atau apapun, terserahlah. Yang penting aku sudah mengatakan siapa aku sebenarnya. Tapi perlahan dia tersenyum. Sangaaaattt… manis.

“jadi?” tanyaku memastikan.

Dan sore kami di dalam kedai berakhir dengan saling melempar senyum penuh arti. Aku tak tau bagaimana menjabarkan suasana hatiku. Yang pasti aku sangat bahagia. Walau Taemin tidak mengatakan iya atau tidak, aku bisa memastikan jawaban itu sendiri dalam tatapan mata dan senyum tulusnya saat menatapku.

Aku mungkin pecundang yang tak berani menampakkan diri pada seseorang yang kusukai. Mungkin juga aku seorang looser , pengecut atau apalah itu. tapi yang pasti, aku menyukainya. Aku mencintainya. Sejak kami berbicara dalam diam hingga kami saling menatap dalam dekat bahkan entah sampai kapan. Aku akan mencintainya. Akan Menjaganya dari apapun yang akan menghalangi kami. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi warisan -sialan- keluargaku. Dengan memiliki Taemin kurasa itu sudah cukup membuatku bahagia.

~ Old Bicycle~

Dua pasang sepeda melaju beriringan melintasi pinggiran kota seoul yang penuh warna warni lampu kota dimalam hari. Masing masing pengendaranya saling menautkan jemari mereka. Melempar senyum dan tatapan tulus.

Taemin. ia tak menyangka bahwa sosok gelap yang selama ini menemaninya adalah Sunbae di sekolahnya. Sungguh sesuatu yang mengejutkan pula saat mengetahui bahwa orang yang selalu merusak sepeda tuanya adalah adik dari sosok gelap yang kini sudah berstatus sebagai kekasihnya itu.
Mungkin benar kata almarhum kakeknya. Bahwa sepeda tua itu bukan hanya sebuah benda mati tak memiliki arti. Sepeda itu ada dengan segala keberuntungan didalamnya. Memang yang terlihat hanyalah kesialan. Tapi siapa sangka bahwa sepeda tua peninggalan kakeknya itulah yang mengantarkannya pada  pemuda tampan yang telah mencuri hatinya tanpa ia sadari.

Ia berjanji, akan menjaga sepeda tua milik kakeknya itu dengan sepenuh hati. Merawatnya dan membiarkan sepeda tua menjadi saksi kisah mereka yang bahkan baru saja dimulai.

END  or TBC?

ps. ini di akun lama saya statusnya End tapi disini saya lanjutkan dengan Old Bicycle series story dgn sub judul yang berbeda tiap chapternya.

 

penasaran sama apa yang dilakuin Minhyuk dan giman kelanjutan kisah 2min? nantikan series berikutnya.

Mrs.ChoiLee^^

Add Comment