NCT Destiny Squad PART 2 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M] - Kpop Indonesia

NCT Destiny Squad PART 2 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M]

Guys Cuma Info tambahan:
Di FF ini bahasanya campur ya karna Alur maju-mundur dan Setting tempat untuk (Lucas, Taeil, Dan Mark) Dari Indonesia jadi bahasa mereka menggunakan Bahasa non baku.

Okeeeey…Saya bakal ngemis Vote dan Komen lagi guys..Jangan lupa YaπŸ˜‚πŸ˜‚

Happy Readiiiing~

NEO adalah Organisasi yang di bentuk Para Orang tua yang telah kehilangan anak mereka.

Para anak-anak terpilih sudah ada sejak 30 Tahun yang lalu dan saat mereka menyadari jika anak mereka merupakan ‘Perubah Takdir’ Karna para orangtuabini adalah orang biasa, mereka tak bisa menyelamatka anak-anak mereka Walau mereka merupakan Orang berpengaruh negara atau seseorang terpandang.

Mereka Menggunakan segala Kuasa dan kekayaan untuk melindungi para anak-anak terpilih agar tak bernasip sama seperti anak-anak mereka. Memutuskan melindungi mereka dengan segala Usaha untuk menemukan mereka dari berbagai belahan dunia dan menyembunyikan mereka, mengumpulkan mereka menjadi satu dalam ruang bawah tanah.

Taeyong adalah anak Terpilih pertama yang di temukan oleh organisasi NEO di Cappadocia, Turki saat kedua orang tuanya tewas. Kemudian Johnny di Chicago, Illinois, Amerika,
Setelah itu Mereka menemukan Kun yang menggunakan kekuatanya dan tersasar di Quinta da Regaleira, Portugal.

Lalu yang baru saja mereka temukan Si anak Konglongmerat yang tinggal dan bersembunyi di Pulau miliknya Lord Howe, Australia.

Semua anak Terpilih masuk saat mereka sudah kehilangan keluarga mereka, Namun Chenle berbeda, karna Keluarga Chenle sendiri yang mengantarkan anak mereka masuk Perlindungan NEO. Keluarga Chenle belajar dari apa yang telah menimpa Kun Sepupu Chenle. Orang tua Kun telah tewas dan untungnya kun langsung mencari keluarga Chenle. Karna itulah Chenle disembunyikan di pulau terpencil.

Semua keluarga Kaya di dunia sudah mengetahui perihal Anak-anak terpilih ini. Banyak dari mereka yang membantu untuk menyokong dana dan Perlindungan karna mereka juga membutuhkan anak-anak ini agar anak-anak mereka kembali. Memang Hanya anak terpilih yang mengetahui siapa musuh mereka.

CitraLand, Surabaya, Indonesia. 2018

“Maaaaaas, Mas Taeil jangan pakai wadah minumku dong mas. Jijik,” Lucas mengibas-ngibaskan wadah minum kesayanganya yang baru saja di pakai Si kakak sepupu.

“Lah kamu taruh situ kas, Simpen di lemari makanya kas,”

“Udah tak simpen di lemari masih kamu pake gitu mas,”

“Kamu tau gimana biar Wadah minummu ga di pake orang lain kas?”

“Apa Mas?”

“Kasih Kapur barus,”

“Matik mas matiiik,”

Taeil hanya menatap Lucas yang kesana-kemari membawa bekal dan wadah minumnya. Taeil memang tau lucas tipe ‘mudah Jijik’ pada ornag lain tapi dia sendiri Jorok dan Malas.

“Kas, Temenmu yang bule itu ga kesini?”

“Mark? Dia lagi dibali sama orangtuanya, Tumben sih mas kok nyari Markonah? Biasanya ga ngurus juga,”
Lucas sekarang datang dengan Kanebo sibuk mengusap-usap wadah makannya. Lucas memang selalu membawa bekal tiap kekampus. Lucas anak yang sehat, ia tidak ingin jajan sembarangan.

“Kas, Mas mau tanya,, Sini deh,”
Taeil yang duduk-duduk di sofa ruang santai melambai-lambai agar lucas segera mendekat.

“Apasih mas,”

“Eumm Itu, Kamu pernah mimpi aneh ga?”

“Mimpi apa’an? Mimpi basah? Belom mas, Lucas masih kecil, masih butuh makan banyak biar cepet gede dan tumbuh tinggi,”

“Badan segede Babon gitu mau tinggi sampe dua meter juga?”

“Gapapa lah mas, eh mas tadi tanya mimpi-mimpi. Kenapa mas?”

“Gapapa, ga pernah gitu kamu mimpi-mimpi bencana atau musibah ngeri gitu kas?”

“Musibah dalam hidupku itu ya si bule bantet itu mas, Heran. Mulutnya tuh Tepak(Pas) banget. Bilang apa gitu kok pasti kejadian. Apalagi suruh misuh ngutuk-ngutuk orang..Dia PRO banget mas,”

“Nah kan Mas bilang kamu ati-ati sama dia,”

“Tenang mas, Semua Bacotanya ga mempan sama Lucas, Eh mas! Nyusul mark ke bali yuk”

“ayok,”

“Eh tumben, Yuk lah..Ntar mau bikin Kiki Challenge sama Markunyuk,”

“Ga usah aneh-aneeeh, Srempet montor kapok,”

“Aku Sial itu Mitos mas,”

“Terserah,”

Lucas dan Taeil hanya butuh 45 menit dan kini sudah berada di Denpasar, Bali. Mereka adalah anak-anak kalangan keluarga berada dan tentunya tak ada masalah dengan Uang.

“Bro, dimana? Aku sama mas Taeil mau nyusul,”

Kini Mark sudah berada di bandara ngurah rai mencari Lucas dan Taeil.

“Woy Mark!”
Lucas sudah mengangkat tanganya tinggi-tinggi agar terlihat, Padahal dia sebenarnya sudah cukup ‘tiang’.

“Tumben nyusul gue kas?”

“Kangen lah Muuuuurkli,” Lucas sudah memeluk, Mendekap dan mengangkat tubuh Mark.

“Aiiiiihh kas! Badan lengket banget kayak Biawak,”

Taeil yang berjalan di samping mereka hanya geleng-geleng kepala.

Di Bali cukup sepi untuk ukuran kendaraan bermotor. Mereka banyak menggunakan sepeda atau berjalan kaki karna memang banyak di antaranya merupakan turis asing.

“Eh bro, Bikin Kiki Challenge yuk”
“Males kas, Tok-Tik aja”
“Udah di blokir kominfo gara-gara kasus Bowo Relaxa murklii,”
“Udah di buka lagi kas, Lu kudet”

“Duh ampun gustii,”
Taeil hanya pasrah di antara pembicaraan tak berarti mereka.

Jerman- 2016

Jungwoo berjalan lunglai di tengah hutan yang lebat. Hari sudah hampir gelap tapi ia masih tak menemukan adiknya.

“Kemana lagi aku harus mencarimu,” Jungwoo mengusap air matanya.

Brukk

kakinya tersandung sesuatu.

Melihat sekilas apa yang membuatnya terjatuh. Dan terkejut setengah mati karna ia melihat seseorang anak lelaki berbaring tengkurap dengan keadaan yang berantakan.

“Hey .. Wach auf! Ist er tot? Ah! Noch nicht.(Hei..Bangun! Apa dia sudah mati?Ah! Belum)”

“Wer bist du?(Siapa kau)”

“Meine GΓΌte, du lebst! (Ya ampun, ternyata kau masih hidup!!)”
Jungwoo segera membantu lelaki itu untuk duduk.

“Wo bin ich? Welches Jahr ist es?
(Aku dimana? ini tahun berapa?)”
Jungwoo menatap heran anak itu.

Aneh sekali baginya karna tiba-tiba bertanya ini tahun berapa. Dia berasal dari tahun mana memangnya- Jungwoo

“OH TUHAN! ” Kejut Jungwoo.

Jungwoo baru saja mengingat tentang Pengelihatan yang ia dapat. Orang itu ada disana bersamanya, bahkan berdiri disebelahnya saat formasi itu dibentuk.

“Du! Du bist einer von ihnen! Woher kommst du?( Kau! Kau salah satu dari mereka! Kau dari mana?)” Jungwoo bertanya resah.

“Ich komme aus Thailand, mein Name ist Ten ( Aku berasal dari Thailand, Namaku Ten)”

“Thailand??? Aber warum sprichst du Deutsch? (Thailand??? Tapi mengapa kau berbicara bahasa Jerman?)”

Mereka berdua terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain dan akhirnya mengerti.

“Jadi…Sepertinya Kita bisa mengerti bahasa apapun,”

“Benar,”

“Siapa namamu? ini tahun berapa?”
Ten kembali bertanya lagi.

“Namaku Jungwoo, Ini adalah tahun 2016,”

“Agghhhh, Aku sudah berpindah tahun lagi rupanya,” Ucapnya sambil memijat keningnya.

“Kau,”
Jungwoo tak melanjutkan kalimatnya.

“Iya, aku juga melihatmu dalam penglihatan itu,” Jawab Ten Seolah mengerti apa yang akan di tanyakan Jungwoo.

“Siapa namamu? Dan apa kemampuanmu?”

“Kim Jungwoo, Aku punya kemampuan Regenerasi dan Perasaan Cinta,”

“Ah pantas saja sejak aku melihatmu, Kau terlihat sangat luar biasa cantik. Seolah menariku untuk tertarik padamu, Untung saja aku bukan Seorang Dominan,”

“Apa maksutmu?”

“Kau belum mengetahui jika kita sudah di takdirkan berpasangan?”

Jungwoo menggeleng.

“Kau dan aku sudah mempunyai pasangan masing-masing. Mereka juga menunggu kita, jadi kita harus segera menemukan mereka.”

“Bagaimana caranya? aku mencari adiku yang hilang saja tak bisa,”

“Ah benar juga,”

“Tapi!”

“Tapi!? Tapi apa??”

“Saat aku mendapat penglihatanku, aku sempat melihat sebuah toko dengan papan iklan tahun 2018,”

“2018??? Berarti mereka semua berkumpul di tahun itu, Itu 2 tahun dari sekarang,”

“Kalau begitu Kita harus menunggu selama 2 tahun,”

“Tak perlu!”

“Hah?”
Jungwoo menatap heran.

Apa maunya anak ini- batin Jungwoo.

Hutan sudah sangat gelap, Mereka berdua duduk tanpa cahaya apapun.

“Ayo kita pergi, Tak ada gunanya disini. Kau mempunyai kemampuan Regenerasi kan? Itu berarti kau tak akan bisa mati,”

“Ah benar juga, Aku bahkan selamat dari ledakan bom,” Jungwoo baru tersadar oleh kemampuanya sendiri.

“Sudah ayo kita pergi ke 2018, Pegang tanganku erat-erat. Karna jika kau terlepas. Kau akan terjebak dalam dimensi kosong. Kau tak akan bisa kembali,”

“Jadi Kau-”

“Iya, aku penjelajah waktu. Beruntung sekali kau mempunyai kemampuan regenerasi. Karna jika tidak, Tubuhmu akan hancur tercabik-cabik saat melewati lorong Massa,”

“Tapi adiku masih disini, aku tak bisa meninggalkanya Ten,”

“Apa adikmu juga orang terpilih?”

“Aku tak tau, Dia belum mendapat penglihatanya.”

“Dia belum mendapat penglihatan apapun? itu berarti tak ada harapan. Adikmu pasti sudah mati seperti adiku,”

“Kau juga mempunyai adik?”

“Iya, aku punya adik perempuan. Aku sempat masuk 2015 dan melihatnya, setelah itu masuk tahun 2020 dan kemudian masuk tahun ini 2016,”

“Woow, Kau hebat sekali, Itu berarti kau tak punya umur tetap,”

“Apanya yang hebat. Aku pergi kesana-kemari untuk menyelamatkan diri sampai takdir membawaku padamu,”

“Kita sama,”
Mereka sayu, Kembali mengingat keluarga mereka masing-masing.

“Ah! Tapi kau lebih hebat Jungwoo, Kau tak bisa mati dan tak bisa menua. Kau abadi,” Ten tersenyum manis.

Tak ada gunanya terus bersedih dan meratapi nasip mereka. Mereka harus bangkit dan segera bertemu yang lain.

NOMIN

“Hyung aku pulaaaaang,”
Jisung berseru ketika ia dan kakak keduanya, Jeno. Memasuki rumah mereka.

“Dimana Doy Hyung?”
Ucap Jisung bingung. Namun Jeno dengan santai berjalan menuju kamarnya.

“Hyung? Anieyo?” Pandangan Jeno teratah pada sesosok anak lelaki manis yang kini tidur di ranjangnya.

“Sudah pulang?” Tiba-tiba Doyoung muncul dari teras depan membawa bunga lily hidup kesayanganya.

“Siapa dia hyung?” Jeno menunjuk anak manis itu.

“dia temanku, Dia akan tinggal bersama kita untuk sementara”

“Oh,” Jeno tak merespon apapun lagi selain itu.

“Eum Jeno, Kau bisa tidur dengan Hyung atau Jisung. Kau tak keberatan kan?” Jeno melihat anak itu memang menggunakan kasur Jeno.

“Gwenchana,”
Jeno adalah anak yang sangat baik dan tenang.

“Eungghhh,” Jaemin terbangun karna mendengar suara yang lumayan ribut.

“KAU!!!” Jaemin langsung membelalakan mata saat melihat Jeno yang baru saja pulang sekolah dan duduk menata buku di depanya

“Kau sudah bangun? Perkenalkan. Namaku Jeno,” Jeno mengulurkan tangan kekarnya pada Jaemin.

“Eum hai Jeno, aku Jaemin” Ucap Jaemin dengan suara yang di lembut-lembutkan. Dia tengah tersipu sangat malu melihat Jeno tiba-tiba ada di depanya. Bagaiamana tidak..Takdir ternyata membawa Jaemin pada Doyoung untuk bertemu dengan Jeno(Pasanganya).

Sekali melihat Jeno, Jaemin langsung mengetahui jika Jeno adalah Takdirnya. Namun rupanya Jeno belum mendapat penglihatanya, karna itu ia tak mengenali Jaemin.

“Jeno-a”

“Nde?”

“Kau tak mengenaliku?”

“Jaemin kan kau bilang tadi?”

“Bukan itu,”
Jeno heran. Mengapa teman kakaknya ini begitu aneh.

“Jeno-a…Berapa umurmu?”

“17 tahun,”

“Ah Untunglah,” Jaemin menghembus nafas lega. Sementara Jeno tak mau ambil pusing dengan kelakuan aneh Jaemin, selesai menata buku ia langsung keluar kamar.

Jaemin bangkit dari tidurnya, mengedarkan pandangan mengelilingi ruangan. Ada 3 ranjang disana, dan ruangan rapi sekali.

“Ini ranjangnya?” Jaemin menyentuh ranjang yang baru saja ia gunakan.

“Akhirnya aku bertemu denganya. Tapi ini terlalu cepat aku menjadi sangat gugup, ah aku maluuu,” Jaemin menangkupkan telapak tanganya di pipi. wajahnya sudah memerah karna malu membayangkan Jeno dan dirinya.

“Hyung, Kau di panggil Doy hyung untuk makan di dapur,” Jisung tiba-tiba masuk kamar.

Dia yang akan jadi adik iparku?- Batin Jaemin.

Melihat Jaemin yang terlihat bingung akhirnya Jisung memperkenalkan diri.
“Aku Jisung, Yang termuda di keluarga ini, Doy hyung sudah menceritakanmu padaku,”

“Nde, Salam kenal adiku” Jisung menatap Jaemin aneh.

Bali, Indonesia 2018

“Mark, kemana tempat yang asik?”

“Heeeem…kamu ingin kemana kas?”

“Eumm.. Yang sejuk, cantik pemandanganya, dekat laut dan masuk Gratis,” Ucap santai lucas sembari mengangkat kakinya meletakan di dasbord mobil.

“Kamu itu orang kaya tapi jiwa gembel kas,”

“Bacot sekali Markli,”

“Ya udah ke sangeh aja sekalian lihat sodara-sodaramu kas, eh itu kakimu kas! Gak sopan woy! numpang di mobil orang juga,”

“Sangeh? Yang banyak monyetnya? Mas Taeil…kamu di katain Mark nih mas,”

“No no no, Waaaaah bukan gitu mas Taeil,”

Lucas mengadu karna tadi Mark mengatakan ‘menemui sodara Lucas’, sementara sodara lucas disitu adalah Taeil. Taeil hanya memandang mereka datar, dia sudah biasa dibully seperti itu.

Sampai di Sangeh, Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan melewati Patung besar. Disana banyak bule-bule berpose di depan patung tersebut.

“Mark! Bule mark! Minta foto mark!” Lucas sudah heboh seperti anak SMA pelosok yang karya wisata di bali dan baru pertamakali bertemu bule.

“Ogah kas, Lagian kita ini juga bule kas” Mark menarik lucas masuk di ikuti Taeil yang mengekor di belakang mereka.

“Hati-hati kacamatamu Mark, Tas mu juga kas, Mereka ini suka ngambil punya turis,” Taeil menunjuk monyet-monyet kecil di sekitar mereka.

“Ada lucas pawangnya mas,”

“Markonah sembarangan kalo ngomong, Markonah pergi ke pasar!”

“Sialan lu,”

KWAKEKEKEKEK

Salah satu monyet itu rupanya benar-benar menyambar kacamata Mark.

“WOY!!!”

Lucas sudah mengejar seperti kingkong. Membuat monyet-monyet kecil semakin ketakutan dan lari lebih kencang. Tapi lucas tidak ingin kalah dari monyet jadi dia berlari lebih kencang menyalip didepan monyet-monyet.

“Kemana perginya bocah itu mark?”

“Gak tau mas, langsung ilang gitu aja dia”

Sementara Mark dan Taeil bingung mencari Lucas yang hilang.
Mereka tak sadar jika di dekat mereka sudah ada 2 Lelaki cantik yang maju mundur saling dorong-mendorong untuk bertanya.

“Ayooo kau cepat tanya kita di tahun berapa,”

“Ah tidak mau, Aku takut ten”

“Ya ampuuuun. Apa yang kau takutkan, Kau tak bisa mati”

“Tapi aku bisa di sakiti ten, Lagipula kita di hutan mana ini. Banyak monyet ya ampun kita dimana? Kau membawaku kemana ini teeeen,”

“Makanya kau tanyalah Jungwooooo, kau kan punya kemampuan penakluk, Sekalian minta uang pada mereka, aku lapaar,” Ten mencengkram perutnya. Dari kemarin mereka memang tidak makan apapun.

“Tidak mau, aku tak ingin menggunakan kekuatanku untuk hal yang tidak baik,”

“Naaaah aku menang, Sini balikin!” Ucap Lucas sembari memiting dan merampas paksa kacamata mark dari monyet kecil itu.

Setelah sempat kejar-kejaran di hutan sampai naik-naik pohon akhirnya Lucas ingat jika tujuanya adalah mengambil kembali kacamata Mark.

Lucas tau jika Mark minus jadi dia tak ingin temanya itu melewatkan pemandangan indah di bali bersamanya dengan berburam-buram ria. Walau pecicilan begitu lucas juga sayang pada sahabatnya.

Setelah merampas kacamata Mark, lucas berjalan kembali. Tapi dia berputar-putar kebingungan karna tak tau jalan.

“Sepertinya aku lari terlalu jauh,” Lucas berjalan pelan melihat-lihat barangkali ada petunjuk.

“Itu tidak etis Ten, tidak tidak. Jangan paksa aku,”

“Aku kan minta kau untuk ‘meminta’ bukan mencuri jungwoo,”

Pandangan lucas terhenti pada dua lelaki cantik yang sepertinya sedang adu mulut.

“Mereka manis sekali,” Lucas memperhatikan mereka.

“Eh woo,” Ten berhenti berbicara kemudian mengedipkan matanya pada Jungwoo.

“Di belakangmu, ada anak tampan. Dekati dan minta beberapa uang padanya,” Ten berbicara tanpa menggerakan bibirnya. Kemudian dia tersenyum.

“Woo, dia mendekat” Ten terus mengedipkan matanya. Memberi isyarat agar Jungwoo segera berbalik badan. Tapi Jungwoo malah bergeleng pelan.

“Kalian tersesat juga?” Lucas sudah mendekati mereka.

“I-iya kami um,” Ten berbicara gugup karna Lucas sangat tampan.

Melihat Ten yang sepertinya tidak lancar membuat Jungwoo mau tak mau harus ikut membantu. Ia langsung membalik tubuh nya lembut penuh slow motion men-swipe rambutnya yang halus berkilau kebelakang.

“Benar, Kami tersesat. Kami tak tau jalan pulang dan kami kelaparan. Sudah sejak kemarin kami ada disini,” Jungwoo memasang tampang yang sangat imut.

Ini pertama dalam sajarah hidup lucas dia melihat seorang lelaki yang begitu sangat cantik dan mempesona hanya dengan berbicara. Biasanya lucas memang tertarik pada perempuan tapi kali ini ia mengakui anak lelaki yang baru saja ia temui ini lebih cantik dari perempuan manapun.

“a-aku akan membantumu,” Ucap lucas gugup.

“Terima kasih, eum..Siapa namamu?” Jungwoo menengadahkan tanganya untuk berjabat tangan.

“Lucas! Namaku lucas. Dan kau?”

“Aku Kim Jungwoo dan ini temanku Ten. Kalau boleh tau, Tahun berapa sekarang lucas,” Ucap Jungwoo lembut. Lucas tak menjawab, ia masih sibuk terpesona oleh Jungwoo. Namun beberapa saat lucas tersadar kemudian menjawab.

“T-Tahun 2018,”

“Wah Ten, kita berada di tahun yang benar,” Jungwoo dan ten sudah girang. daling bergenggaman tangan dan meloncat bersama.

“Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu Jungwoo?” Suara lucas memecah Uforia mereka.

“Woo,” Ten menyenggol pundak Jungwoo menggunakan pundaknya. Memberi kode agar ia segera menyelesaikan misi.

“anu lucas, sebenarnya kami sangat lapar tapi kami tak mempunyai uang sama sekali,” Wajah Jungwoo terlihat sangat kasihan sekali.

“ini! ini! bawa ini! ambil semua,” Lucas mengeluarkan dompetnya dan memberikan semuanya pada Jungwoo. Jungwoo dan ten membuka dompet lucas, berjingkat senang karna banyak sekali lembaran uang disana.

“apa ini tak apa-apa? aku tak enak hati,” Jungwoo masih memasang wajah cantiknya.

“Sungguh! tak apa Jungwoo. Ambil semua, ambil saja jangan sungkan. Aku tulus memberikanya padamu. Kau sangat cantik,”

“Terima kasih lucas, Ayo ten kita pergi” Jungwoo menggandeng ten untuk menyingkir.

Sementara Lucas hanya memandangi mereka sampai mereka menghilang entah kemana.

“OMG! Kau berhasil woo,” Ten girang sembari membuka-buka dompet lucas. Jungwoo hanya terdiam.

“Ya ampun, ada KTP, STNK dan banyak Kartu ATM disini, Ada kartu kredit juga, Yatuhaan uangnya banyak, dia anak orang kaya raya woo, Siapa namanya Lucas Suprizon? Haha nama yang aneh, tapi orangnya sangat tampan,” Ten bermonolog.

“Woo,”
Ten menoleh pada jungwoo yang tak merespon ucapatnya dan teneyata ia terlihat sedang melamun sedari tadi.

“ada apa?” Ten memperhatikan dan menyentuh pundak Jungwoo.

“Eumm, aku merasa bersalah. Dia pasti akan bingung ketika menyadari semuanya. Dan lagi..dia pasti sudah jatuh cinta padaku saat ini,”

“Mengapa kau mengkhawatirkan hal semacam itu? Jangan bilang kau menyukainya Jungwoo! Heiiiiiy kau tak boleh seperti itu, kau sudah di takdirkan dengan Couple mu, Aduuuh dimana Tatomu,”

Semua anak terpilih yang belum mendapat penglihatan kedua, mereka tak bisa melihat jodoh mereka. Dan Jungwoo belum mendapat tentang penglihatan itu, Ia hanya mendapat penglihatan pertama dan ia sudah langsung mendapat serangan.

Sementara lucas? Ia bahkan belum mendapat penglihatan sama sekali.

“Kaaaaaass!!!”
Mark dan Taeil akhirnya menemukan lucas yang tengah tersenyum-senyum seperti orang stress.

“Kas! Woy! Kas! Sadar!
Mas, kenapa nih lucas mas,” Mark sudah mengguncang-guncangkan tubuh besar lucas, tapi lucas tak bergeming.

“Aduuh Cantik banget dia mark,”

“Aduh kas, kan gue bilang jangan pipis sembarangan. Kita ini dibali, banyak demitnya. Sekarang kesambet kan lu, duh Mas Taeil gimana ini lucas sawanen,” Empunya masih tersenyum bungah.

“Awas coba kamu Minggir dikit Mark,” Taeil sudah menepikan Mark kemudian menyentuh kepala Lucas lalu memejamkan mata.

“Mereka!!”
Taeil membuka mata dengan terengah. Andai saja ia bisa lebih cepat bertemu lucas, Taeil pasti akan bertemu mereka.

“Ada apa mas! ada apa!”
Ucap Mark panik.

“Dompet lucas,” Taeil.

“Dompet?
Ah dompet lucas ga ada mas, Ya ampun lu habis di gendam kas? Jesus! Pantes aja linglung gini,”

Mark sudah duduk dan menyandarkan tubuh lucas di bawah pohon. Ia melihat lucas masih menggenggam kacamatanya.

“Makasih kas,” Mark merasa terharu

“Ayo kita pulang aja mark, percuma juga jalan-jalan. Lucas bakal kayak gitu mungkin sampe besok,”

“Wah! Mas Taeil punya bakat Dukun mas? Waaaah aku baru tau mas Taeil punya Indra ke 6,”

Kamu kan juga punya- ucap Taeil dalam hati.

“Ya ampun kasian lucas kayak gini terus, Emang dasar tuh sialan! Tak sumpahin sial seharian!!”

“Awwhh!!”
“Aduhh,”
“Ah!!”
PRAAAANGG

Ten dan Jungwoo mengaduh saat mereka berdiri di pinggir jalan menikmati makanan pinggiran, Tanpa sengaja, kaki mereka terinjak ban mobil yang lewat dengan sangat tak aturan membuat kaki mereka kesakitan, terjatuh dan melemparkan mangkuk bakso yang ternyata jatuh menimpa mereka.

“Aaaaa…haaa huweeeee,” Ten sudah menangis mendapati dirinya yang terduduk dengan siraman bakso panas dan mangkok menutup rambutnya. Jungwoo juga mengalami hal yang sama hanya saja kakinya langsung sembuh, tidak seperti ten yang masih kesakitan. Sakit iya, malu iya.

“Kau tak apa ten?”

“Kakiku sakit!!” Ten meringis merasakan seolah jari-jarinya hancur.

“aah bagaimana ini,”

“Andaikan kita bertemu dengan si Penyembuh,” Ten mencengkram kakinya. Jungwoo sudah membantu ten untuk membersihkan mie-mie bakso dari rambutnya.

China, 2018

“Renjun, Kemana kita harus pergi. Aku lapar”

Sudah berhari-hari Renjun dan winwin terus bersembunyi kesana-kemari tanpa makan sedikitpun.

“Aku harap mereka segera menemukan kita ko,” Renjun menyandarkan dirinya pada tempok lapuk. Mereka Kini berada dalam sebuah bangunan tua yang tak berpenghuni.

“Tunggu disini ko, aku akan mencari makanan untukmu”

“Tidak renjun! Ajak aku! aku tak ingin berpisah denganmu,”

Next Part 3

Huwaaaaa gimana?? Gak seru ya?
Ah MiaaanπŸ™‡πŸ™‡πŸ™‡
Tapi aku tetep Minta Vote dan komeeeeen.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Add Comment