NCT Destiny Squad PART 4 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M] - Kpop Indonesia

NCT Destiny Squad PART 4 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M]

Hallo guys.
Ah ya ampun FF nya menyedihkan. Udah Viewrs dikit, banyak sider lagiπŸ˜‚πŸ˜‚
Sungguh mengenaskan.

Oh iya, Jika ada typo atau ada yang aneh silahkan di komen saja nanti saya perbaiki.
[Soalnya part ini ga saya cek ulangπŸ˜‚]

Tolong Hargai karya dengan Vote dan Comment guuuys. Jebaaaaal

Okey lanjooot

Happy Reading~

Lucas terbangun tengah malam karna laparnya dan telah membuat semangkuk dengan 3 bungkus Indomi kare+Telur yang nyaris jadi anak ayam kembar.

Ia telah selesai makan dengan cepat kemudian mencuci mangkuk yang ia gunakan.

Ia sangat bosan namun ia tak tega membangunkan Mark dan Taeil. Jadi ia memutuskan untuk pergi sendiri berkeliling Bali.

Berjalan di jalanan Bali tengah malam seperti ini adalah hal yang berbahaya mengingat Daerah itu sangat sepi dan rawan.

Tapi Itu dia adalah Lucas.

Lucas yang tak pernah mendapat Musibah.

Ia berjalan sendirian melewati gang. [Villa di bali memang masuk-masuk Gang]

Di sebrang sana banyak anjing menyalak gonggongan namun ketika lucas lewat di depan mereka. Mereka diam dan justru mengikuti Lucas.

“Kalian mau nemenin aku?” Tanya pada anjing-anjing.
(Mereka tidak mengangguk)

“Kemana enaknya kita yah.
Ahhh gimana kalau kita lihat pantai? Tengah malam begini sepi kan? Enak njing,” Ucap lucas. Para anjing hanya menatap lucas bingung

Tinn Tiin Tiiin

Sebuah Mobil berhenti tepat di samping Lucas.

“Malam-malam kenapa keliaran sendiri dek? Mau kemana? Bahaya disini,”

“Mau ke pantai kute tante,”

“Kebetulan tante mau kesana, ayo bareng sekalian mau?”

“Mau dong,”
Tanpa ragu lucas langsung ikut masuk kedalam mobil.

19 menit perjalanan tentu saja mereka telah sampai di kute.

Benar.

Pantainya sepi.

Selesai berterima kasih lucas langsung keluar mobil dengan hawa perasaan girang. Lucas berjalan kesana-kemari sedikit berlarian menendang-nendang pasir.

“Akan bagus jika aku bertemu Jungwoo,” Gumam lucas.

..

Ten sudah sangat menyerah untuk mencari tempat penginapan. Ia masih teyap duduk di kute, di atas pasir. Ten menatap kedepan tanpa sadar menemukan sosok yang ia kenal.

“Woo, Bukanya itu anak yang tadi?”
Ten menunjuk Lucas.

“Benar! Ayo kita kesana” Jungwoo langsung berlari ke arah lucas.

Lucas masih bermain menendang-nendang pasir saat Ten dan Jungwoo tiba-tiba muncul di hadapanya.

“Ini,” Jungwoo langsung menyodorkan sesuatu.

Dompet Lucas.

Bukan Lucas namanya jika ia tak beruntung. Ia mendapat Dompetnya kembali dan Jungwoo tentunya.

“Mengapa kau mengembalikanya wu,”

“Aku fikir kita memang tak seharusnya melakukan ini,” Jungwoo hanya memandang pantai pura-pura tak bersalah.

“Sekarang kita bagaimana? Tak ada uang. Tak ada tempat tinggal dan di buru oleh mereka. Benar-benar tamat, Tinggal menunggu ajal saja” Ten mendengus putus asa. Ia kira semua akan semakin mudah setelah ia bertemu Jungwoo. Nyatanya malah sebaliknya.

Lucas hanya mematung memandangi mereka. Memandangi Jungwoo lebih tepatnya.

“Kalian bisa tinggal bersamaku,” Lucas menyela

Mereka berdua sontak memandang lucas dengan pandangan bermacam-macam.

Mengerti sedang di perhatikan akhirnya lucas angkat bicara.

“Aku bukan orang jahat, Aku hanya ingin membantu kalian. Kalian terlihat seperti fakir miskin dan Musafir,” Celoteh lucas. Kedua orang yang di maksut langsung mendelik tak suka dengan ucapan Lucas.

“Lihat, dia memaki kita ten” Jungwoo langsung tak menyukai Lucas.

“Maaf, maaf…Aku hanya bicara jujur. Kalian memang terlihat seperti itu. Kalian musafir? musafir yang cantik?”

Ten langsung tersipu, sementara Jungwoo masih kencang dengan pendirianya.

“Maaf karna kami telah mengambil dompetmu, Kemarin kami benar-benar mengalami hari yang sulit. Mungkin karna kami telah berdosa padamu jadi kami mengalami kesialan sepanjang kami berjalan. Aku telah mengembalikan dompetmu kan? sekarang kau bisa melepaskan kami?” Tanya Jungwoo.

“Aku bahkan tak berniat mrlaporkan kalian pada polisi, Kalian mau pergi? Silahkan saja. Tapi kalian mau pergi kemana tanpa Uang dan tempat tujuan?”

Mereka berdua terdiam.

“Ikut saja denganku, Tenang saja…kalian tak akan mengalami kesialan apapun jika bersamaku, Aku berani bertaruh” Lucas mencoba meyakinkan

“Kalian terlalu bagus untuk jadi gelandangan, Lebih baik ikut denganku daripada kalian di jaring dinas sosial bali. Disini sering ada razia pengunjung asing, Tapi tak apa Jika kalian tak mau, Pokoknya pastikan kalian tak mempunyai alasan untuk di penjara pemerintah indoseia okey,”
Lucas tau jika Jungwoo dan Ten bukan asli indonesia karna cara bicara mereka.

Mereka masih terlihat berfikir-fikir sampai Lucas jengah menunggu. Akhirnya ia berjalan meninggalkan mereka.

Lucas mengerti jika mereka berdua tak bersedia ikut lucas, jadi ia juga tak ambil pusing. Hanya saja ia masih berat dengan Jungwoo yang terlalu cantik untuk jadi gembel.

Padahal jika Mereka berdua ikut Lucas, Lucas juga tak atau apa yang harus ia lakukan. Ia tadi hanya berusaha sok keren di depan orang cantik.

Lucas berjalan lagi kemudian membuka dompetnya.
“Mereka hanya menggunakanya sedikit,” Menghitung lembaran yang ada disana.

“Yah! Wu! Dia pergi! Bagaimana ini,” Ten sudah bingung

“Memangnya kenapa? biarkan saja,” Jungwoo tak ambil pusing kemudian ia kembali tidur di atas pasir.

Iya, Mereka super Gelandangan sekarang.

“Ah aku lapar wuuuu, disini dingin dan kotor, Ya tuhan aku sudah ingin menangis saja,” Ten yang dulunya anak orang super kaya raya mana bisa hidup seperti gelandangan tidur tanpa alas apapun seperti ini.

Jungwoo juga sedih sebenarnya. Bagaimana ia tak sedih, nasipnya kini tak tau bagaimana. Ia terdampar di negara yang asing dan tak punya apapun. Belum lagi Ten yang terus merengek membuatnya pusing.

Namun sebuat sentuhan dan tarikan memancing indra perasanya. Melihat siapa orang yang berani menyentuh tanganya.

Membalikan pandangan menuju orang itu

“ini,”
Lucas kembali lagi dan memberikan sesuatu di telapak tangan Jungwoo.

“Apa ini?”

“Kunci kamar hotel, Di depan sana ada hotel kenapa kalian tak memesan hotel?”

“Kau serius!??? ini kunci kamar hotel yang di depan pantai ini? Sungguh???”

“Untuk apa aku bohong?”

“Bagaimana bisa? Kami telah kesana dan semuanya penuh😭 Belum lagi kami dikejar anjing”
Ten

“Oh anjing-anjing disana jinak kok,”

“Kau pemiliknya? Dia sangat galak pada orang lain” Jungwoo bersuara.

“Bukan pemilik, aku cuma orang lewat. Sudah! Kalian tidur saja disana. Aku sudah membayarnya, Besok jika kalian berubah fikiran kalian bisa menghubungi Nomer ini,” Lucas memberikan sebuah nomor ponsel.

“Baiklah, Terima kasih ya lucaaaaas kau baik sekali. Bukankah dia sangat baik wu?” Ten menyenggol Jungwoo. Yang di maksud hanya tersenyum biasa.

Lucas terus memandang Jungwoo. Jungwoo sadar betul jika Lucas telah jatuh cinta padanya karna memang Jungwoo telah menggunakan kemampuanya pada Lucas bukan?

Lucas adalah satu dari sekian ribu orang yang telah mencintai Jungwoo. Jadi ia bersikap biasa saja karna terlalu sering di cintai seperti ini.

Misal ini adalah orang lain pasti dia langsung jatuh hati pada lucas, Tapi ini Jungwoo. Bukan orang lain

Pagi menyingsing menerpa wajah cantik Taeyong yang kini sudah berdiri di depan teras kamarnya.

“Kau tak apa-apa jika dia dibiarkan begitu?”

Johnny sudah menyusul Taeyong yang memang rajin bangun pagi.

Di dalam markas NEO, Taeyong yang bertanggung jawab menjaga dan mengasuh adik-adiknya. Semua anak terpilih adalah adik-adiknya…Keluarganya.

“Bagaiamana keadaan Jaemin?” Johnny baru saja mengantar obat untuk Jaemin memang.

“Dia masih belum sadar. Sepertinya kita memang perlu mencari si penyembuh,”

“Baiklah kita akan mencarinya hari ini,”

“Bagamana dengan Mate mu? Apa kita akan terus mengurungnya seperti itu?”

“Biarkan saja, Kemampuanya sangat berbahaya. Aku tak akan membiarkan segelnya lepas,”

“Kau tak mencintainya? Kau tau kan…Jika mereka yang di takdirkan bersama kita akan mempunyai perasaan yang berbeda,”

“Kau jangan banyak bicara, Kau saja belum bertemu dengan pasanganmu Hyung,”

“Tentu jika aku bertemu pasanganku, aku akan langsung mencintainya sepenuh hati. Aku berharap semoga dia masih tersegel,”

Hadeeh

Diruang lain, Jaemin masih tak sadarkan diri dengan Jeno yang terus menggenggam tanganya. Jisung dan Doyoung juga bersama mereka.

Ceklek

“Dia masih belum sadar?”
Johnny masuk kedalam ruangan perawatan.

“Kapan kita akan mencari si penyembuh?”
Jeno sudah tak sabar.

“Kau bisa melakukanya sekarang. Pergilah ke bangsal, Taeyong dan Kun ada disana. Disini ada yang punya kemampuan bertarung kan?”

“Aku, Aku bisa” Doyoung mengangkat tanganya.

“Baiklah, Kau bisa ikut untuk melindungi mereka. Aku akan menjaga Markas dan yang lainya,” Johnny memberi intruksi.

“Jangan khawatir, Aku akan disini menjaga kakak ipar,” Ucap Jisung. Membuat Jeno dan Doyoung tersenyum.

“Baiklah kami pergi,”
Mereka langsung berlalu meninggalkan ruangan.

Diruangan itu hanya mereka bertiga sekarang. Johnny dan Jisung saling mengobrol agar mereka lebih saling mengenal dan dekat.
“Kau berasal dari mana Hyung? kemampuanmu hebat sekali. Sungguh keren,”
“Aku dari Chicago, Aku bisa menggunakan kemampuanku sejak aku umur 6 tahun. Dan kau? masih tersegel?”
“Nde, Tapi Jaemin hyung bilang kemampuanku adalah Air dan Es,”
“Waah…Itu juga hebat. Kau seorang petarung,”
“Ah aku tak sabar bertemu Mate ku hyung,”
“Aku juga,”

Ceklek.

“Hai,”
Seseorang berambut pirang dan sedikit lebih pendek dari jisung muncul. Ia tersenyum kemudian masuk kedalam ruangan.

“Kudengar ada anak baru, Aku datang karna ingin berkenalan”

“Ada 4, Tapi yang 2 sedang mencari yang lain. Hanya ada mereka berdua sekarang,” Johnny menunjuk Jisung dan Jaemin dengan dagunya.

“Hai, Namaku Chenle. Dan kau?”
“Aku Jisung dan ini kakak iparku, Na Jaemin” Jisung memperkenalkan Jaemin yang sedang terbaring.
“Kakak ipar? Oh kakakmu baru saja terbuka segelnya? Ah…Aku tak sabar bertemu Pasanganku,” Chenle mempoutkan bibirnya imut. Membuat Jisung gemas karna dia terlihat lucu

“Kau belum bertemu pasangamu?”
Chenle menggeleng menanggapi pertanyaan Jisung.

Selama Mereka mengobrol, Para kakak ternyata telah sampai di China.

“Disana! Dia disana! Bersama satu anak terpilih lain,” Jeno menunjukan arahnya.

Winwin dan Renjun baru saja hendak menggigit makanan mereka ketika Taeyong dan yang lainya tiba-tiba berada di depanya.

“Siapa kalian!!”
Renjun reflex menempatkan dirinya di depan winwin untuk melindunginya.

“Ah lihat, Kita punya dua perisai disini,” Taeyong berjalan ke arah mereka dengan tersenyum manis. Renjun sudah berencana membawa Winwin kabur lagi.

“Jangan takut, Kami datang untuk kalian. Kami kakak-kakak terpilih kalian,”

Renjun seolah teringat sesuatu.

“Aku Taeyong, Aku bisa membaca fikiran dan masa lalumu. Ini Kun..Dia bisa menembus Dimensi, Ini Doyoung dan Jeno si Pelacak. Kita di takdirkan untuk saling menjaga, Ikutlah bersama kami,”

Renjun langsung berlari dan memeluk Taeyong. Ia menangis ketakutan, Taeyong bisa melihat apa yang telah terjadi pada Renjun. Air mata Taeyong mengalir deras merasakan emosi dan penderitaanya renjun-Winwin.

“Siapa namamu?” Taeyong mengusap lembut pucuk kepala Renjun.

“Renjun,,,Huang Renjun dan itu kakak sepupuku Winwin,”

Winwin terlihat masih berdiri mematung.

“Tak apa hyung, Mereka akan melindungi kita. Kemarilah,” Renjun segera menarik lembut Winwin menuju yang lain.

“Sekarang ayo kita jemput kekasihmu winwin,” Ucap Taeyong

“Kekasih?” Winwin memandang bingung.

“Ayo kemari ko,”

“Tidak, Aku tidak mau. Kalian semua aneh sekali. Aku hanya orang biasa. Aku bukan seperti kalian,” Winwin mencoba menjauh.

“Kau bagian dari kami ko, Hanya saja segelmu belum terbuka,” Renjn berusaha menerangkan.

“Kumohon ikutlah bersama kami. Kami sangat membutuhkanmu. Kekasihku sedang sekarat, Dia membutuhkanmu” Jeno berusaha membujuk.

“Tidak! Aku takut pada kalian. Kalian semua orang aneh!” Winwin sudah mencoba lari.

ZRRRRRTTTT

Akar-akar pohon sudah menjerat tubuhnya.

“Apa ini!! Menjijikan!! Lepaskan aku!!” Winwin memberontak. Ia merasa tak nyaman sekali ketika akar-akar itu menggulung-melingkari tubuh rampingnya. Ia melihat sumber dari akar tersebut adalah Doyoung.

“Lepaskan aku, Aku bukan Mutan. Aku tak terkena radiasi atau bahan percobaan apapun. Aku murni…Aku anak biasa,”

“Ko, Bukan begitu”

“Renjun! Kau menjebaku eoh!”

“Bukan ko aku-”

“Biar aku saja yang mengatasi ini Renjun-ah. Winwin, Ayo kemari adiku…Ayo kita pulang,” Taeyong memandang winwin lekat.

“Nde Hyung,” Winwin tak memberontak lagi. Doyoung langsung melepaskan akar-akarnya.

“Renjun, ajak kakakmu kemari. Kita tak boleh memaksanya,” Ucap taeyong.

Padahal yang dia lakukan juga sebuah paksaan tak langsung. Ia menggunakan kekuatanya untuk mempengaruhi winwin. Tentu saja ia tak bisa menolak.

Crrrttttzzzzxz
Mereka semua menghilang.

“Yuta-nii, Oka-san bilang dia tidak akan pulang. Jadi Kau yang akan mengantarkan ku Les hari ini,” Haechan sudah menyusul yuta yang asik bermain di sungai mencari ikan-ikan kecil.

“Kau sudah besar! berangkat sendiri sana! Merepotkan sekali kau ini seperti anak kecil,”

“Nande? Yang pantas di sebut anak kecil itu adalah orang yang suka mencari ikan-ikan tidak jelas sepertimu,”

Haechan sangat kesal.

“Yuta-nii, Keluar dari sana! Cepat antarkan aku! Orangtua kita sudah membayar mahal untuk Les ku, Aku ingin pintar!”

“Yare~yare, Kalau bodoh ya bodoh saja,” Jawab Yuta enteng.

“Mengesalkan sekali,”

Yuta dan Haechan tinggal di dataran tinggi dan lumayan terpencil dari pemukiman sekitar. Karna itulah ia membutuhkan kakaknya untuk mengantarkanya naik mobil, karna ia tak mungkin jalan kaki kan?

Awas kau- Ancam Dalam hati.

“Nii-chan!! Ada buaya !!!!”

GRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAA

“HUWAAAAA!!!”
Yuta berjingkat melihat batu yang ia pijaki berubah menjadi buaya, perbuatan siapa lagi kalau bukan adiknya.

“Rubah dia kembali atau aku akan membakarmu Haechan!”

“Bakar saja, Mana tega kau padaku” Tantang Haechan.

“Antar aku, atau ku rubah bajumu menjadi kecoak dan keluwing!”

“Iya iya iaaa, Aku antar!”
Yuta kalah lagi dengan adiknya.
Memang selalu seperti ini.

“Kau bukan buaya, kau hanya batu sungai,”

Crrttttt
Buaya yang bergerak-gerak langsung terdiam dan kembali menjadi betuk batu yang sedikit oval.

“Arigato oni-chan~”
Haechan sudah bergelayut di lengan yuta manja. Yuta hanya bisa mendengus kesal. Padahal ia tengah libur kuliah dan ingin menikmati waktu santainya dengan bermain di sungai sendirian saja. Catat! ‘Sendiri’

CCCCCRRRTTTTTTTZZZZZZZZ

“AAAAAAAH,” Haechan berteriak saat pusaran angin muncul di depan mereka. Sesaat kemudian muncul orang-orang asing

“Nii-chan aku takut,” Haechan sudah berada di belakang yuta. Bersembunyi karna merasa terancam.

Yuta dengan mata lelaki sejatinya menatap lantang pada mereka semua. Yuta sudah bersiap membakar semua satu-persatu jika mereka menyakiti adiknya.

Namun pandangan Yuta terarah pada anak manis yang tengah di gendong oleh entah siapa.
Anak itu pingsan?

“Hajjimimashitte minna-san,”
Ucap Taeyong menyapa.

“Mereka bisa bahasa kita Nii-chan,”
Bisik Haechan.

“Tak hanya itu, Kami bisa semua Adiku,”

“Aku adik Yuta-nii, bukan adikmu eumm”

“Taeyong! Namaku Lee Taeyong,”

“Aku bukan adikmu Lee Taeyong,”

“Kau adiku, Semuanya adiku” Taeyong tersenyum ramah. Ia tau Yuta dan Haechan sama sekali tak tau-menau perihal NEO karna mereka belum mendapat penglihatan namun telah bisa menggunakan kemampuan sejak kecil, Seperti Doyoung.

“Kami tau Kalian anak dengan kemampuan khusus. Ikutlah bersama kami, Kami akan melindungi kalian. Dan lagi, Salah satu saudara kita membutuhkan pertolongan,” Jelas Taeyong.

“Pertolongan apa?” Yuta akhirnya bertanya juga.

“Kekasihku sedang sekarat, Ia butuh di obati oleh orang yang punya kemampuan menyembuhkan,”

“Tapi kami tak mempunyai kemampuan seperti itu,”

“Benar, Aku hanya bisa mengutuk dan menyihir lalu kakaku hanya bisa merusak dan menghancurkan. Tak ada yang berkemampuan suci seperti itu,”

Iya..Kedua kakak beradik ini memang sudah seperti setan.
Kemampuan untuk merusakπŸ˜‚

“Kau lihat dia?” Taeyong menunjuk Winwin yang ada dalam gendongan Jeno. Karna Jeno bertubuh paling besar, ia yang menggendong Winwin.

“Apa hubunganya dia dengan kami,” Yuta bersikap acuh lagi.

“Dia mempunyai kemampuan penyembuh. Dia kekasihmu, dan ia membutuhkanmu untuk membuka sagel kekuatanya,” Yuta membelalakan mata. Tak menyangka dengan apa yang di dengarnya.

“Ko winwin punya tato bunga krisan di bahu kananya. Kau pasti juga mempunyai itu,”
Benar. Yuta memang memilikinya di bagian kanan lengan atas dan itu terlihat jelas karna yuta hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam sekarang.

Yuta memperhatikan winwin dengan teliti.

“Jangan percaya mereka Nii-chan. Bisa jadi mereka akan mengurung dan menjadikan kita kelinci percobaan,” Bisik Haechan.

“Tidak adiku, Kalian saudara kami. Kita di takdirkan saling melindungi,” Sanggah Taeyong mendengar bisikan Haechan.

“Baiklah, Berikan dia padaku, Karna dia kekasihku aku yang akan menggendongnya,” Yuta langsung berjalan ke arah Jeno.

“Nii-Chaaaaan, Apa-apa’an kau ini,”

“Kalau kau tak mau ikut ya sudah, Kau disini saja sendiri. Berangkat les sendiri, masak sendiri, Semuanya sendiri. Aku akan pergi bersama kekasihku,” Yuta menjulurkan lidahnya.

“Aaaaaaaa! ikuuut,” Haechan yang kesal karna di ejek dan berniat ditinggalkan akhirnya ikut juga.

“Kami siap kun,” Ucap Taeyong.

“Agh,” Kun meremas kepalanya karna merasa kepalanya berputar-putar.

“Kun! Oh tidak,” Taeyong melihat Kun yang mengeluarkan darah lewat hidungnya.

Next Part 5

*Ahhh, Responya dikit sekali tapi gimana ya. Lanjut apa enggak ini ih sediiih.

Tolong Krisar misal ada yang kurang atau hal tidak menarik.

Add Comment