NCT Destiny Squad PART 5 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M] - Kpop Indonesia

NCT Destiny Squad PART 5 πŸ”ž LucasXJungwoo [Fanfiction Rate M]

Gimana guys?

Jangan lupa Vote dulu ya, dan Komen juga doooong~

Happy Reading~

“Kami siap kun,” Ucap Taeyong.

“Agh,” Kun meremas kepalanya karna merasa kepalanya berputar-putar.

“Kun! Oh tidak,” Taeyong melihat Kun yang mengeluarkan darah lewat hidungnya.

Ia terlalu banyak menggunakan kekuatan. Dan lagi, Ini terlalu banyak orang sehingga membuat kun semakin menderita karna harus berusaha lebih keras membawa mereka semua.

“Kita tak bisa langsung pulang, Kun harus istirahat dulu,” Ucap Taeyong yang telah menopang tubuh kun.

“Kalau begitu kalian bisa berada di rumah kami. Itu rumah kami,” Yuta menunjuk sebuah bangunan artistik dari Kayu. Modelnya minimalis namun tetap nuansa Classic

“Rumah yang nyaman,” Taeyong bergumam.

“Berikan dia padaku,” Yuta sudah meminta Winwin pada Jeno. Jeno tentu senang hati mengoper Winwin yang terbilang tidak enteng. Walau tubuhnya kurus tetap saja terasa

“Ayo,”
Yuta memandu yang lain berjalan pelan sambil membawa Winwin di punggungnya.

Yang lain mengekori yuta bersama Haechan tentunya.

Sampai di rumah, Yuta langsung menidurkan Winwin di kursi ruang tamu. Membelai-belai wajah winwin lembut dan tersenyum indah.

“Namanya Winwin,”
Renjun mendekati mereka kemudian duduk disebelah winwin.

“Dia cantik dan menggemaskan, Apa benar dia kekasihku?” Yuta tersenyum. Tak membayangkan akan mendapat seseorang seperti Winwin dalam hidupnya.

“Dia anak yang sangat baik, Ko winwin berhati lembut walau dia sedikit galak. Siapa namamu?”

“Yuta,”

“Kau sangat beruntung mendapatkanya, Apa jasamu di masa lalu sampai kau di takdirkan bersama Koko ku yang Manis ini. Sungguh Tuhan jahat sekali,”

Heh? Apaaa???

“Pokoknya kau harus menjaga koko ku dengan baik! Awas kalau kau membuatnya sedih atau mengecewakannya. Aku akan membunuhmu,” Ancam Renjun. Kemudian pergi meninggalkan mereka.

“Winwin, Adikmu kurang ajar sekali padaku. Ayo cepat bangun dan marahi dia,” Yuta masih sibuk mengelus pipi lembut Winwin.

“Jadi, Kalian itu apa?” Haechan sudah datang dengan nampan berisi banyak softdrink.

“Kami adalah NEO, Kami Organisasi yang bertugas mengumpulkan anak-anak pilihan.

Jeno, Daripada kau menganggur seperti ini. Bisakah kau gunakan kemampuanmu untuk mencari anak-anak yang masih bertahan hidup?” Taeyong

“Nde Hyung,” Jeno langsung membuka lembar petanya. Kemudian mulai mencari anak-anak lainya.

“Yang masih bertahan hidup?” Haechan semakin penasaran.

“Nde, Setiap anak pilihan yang telah mendapat pengelihatan akan mengeluarkan sensor dan itu langsung terdeteksi oleh musuh. Ia dan semua orang yang bersamanya akan langsung dibunuh. Seperti keluargaku,” Taeyong perlahan berlinang air mata.

“Hyung, Jangan sedih” Renjun langsung mendekati Taeyong.

“Renjun dan Winwin juga. Keluarga mereka juga dibantai di depan mata kepala mereka sendiri,”

“Winwin yang itu?” Haechan menunjuk ruang tamu.

“Iya, Dia calon kakak iparmu”
Renjun menambahkan.

“Kau dan kakakmu sangat beruntung bisa menggunakan kekuatan kalian tanpa mendapat penglihatan. Tak seperti kami yang harus menebus Anugrah itu dengan keluarga kami,” Renjun terisak.

Ia sangat iri.

“Renjun-ah,”
Doyoung mengusap pucuk kepala Renjun lembut. Membawanya pada pelukan hangat.

“OMO!! Hyung!!”
Jeno yang ada di dekat mereka berdua terlihat menbelalakan mata dan menutup mulutnya yang menganga.

“Ada apa Jeno’ah!??”

“Kalian,,, Kalian pasangan!”

Mereka berdua saling menatap di antara pelukan mereka.

“Aku tanpa sengaja melihat bunga yang sama di bagian belakang leher kalian. Bunga apa itu?” Jeno menghentikan kegiatanya kemudian berdiri menunjuk tanda mereka berdua.

“Anggrek, Itu bunga anggrek. Apa kau juga memiliki bunga yang sama Renjun-ah?” Renjun mengangguk sambil menyentuh tandanya.

“Tanda ini muncul ketika aku mendapat pengkihatanku, kau- anu- eum segelmu sudah terbuka juga kan?” Tanya Renjun Gugup.

Sebenarnya ia antara berdebar dan ada perasaan canggung namun juga senang menemukan pasanganya.

“Iya, Aku bisa menggunakan kemampuanku sejak kecil Renjun-ah. Kau pasti iri padaku,” Doyoung menatap Renjun serius.

“Jangan menatapku seperti itu, Wajahmu terlihat lucu. Aku malu sekali,” Renjun menutup wajah dengan kedua telapak tanganya.

“Dan kau cantik Renjun’ah. Ah leganya kau sudah terbuka sehingga kita tak perlu melakukan hal kotor seperti adik-adiku,”

“Yaaaa Hyung,” Jeno Protes. Jika Jisung ikut dia pasti ikut Protes juga.

Doyoung tak memperdulikan hal itu sekarang. Ia hanya ingin memeluk Renjun dan tengah bahagia meblnikmati perasaan senang seolah mendapat Lotre berhadiah Dunia raya.

“Hal kotor?”

“Berapa umurmu Renjun’ah?”
Doyoung bertanya sambil membelai surai coklat Renjun.

“Aku 15 tahun dan kau?”

“Ya Tuhan, Kenapa kau menakdirkanku bersama anak kecil?”

Renjun memasang wajah masam kemudian mendorong Doyoung melepaskan pelukan mereka.

“Mianhae Mianhae, Kau seumuran adik kecilku Jisung. Aku 21 tahun Renjun-ah. Kau Panggil hyung saja nde, Mulai sekarang aku yang bertanggung jawab penuh atas dirimu ya,” Doyoung mendekati Renjun lagi kemudian menggenggam tangan kemudian membelai pipi Renjun dengan tawa lebarnya.

Imut sekali, Seperti kelinci-
Renjun

[Memang Doyoung bisa mengendalikan Kelinci juga Renjun-ah, Hehehe]

“Kufikir aku akan dapat pasangan yang berwajah seram dan urakan seperti Ko Wiwnin, Ternyata malah sebaliknya,” Sarkas Renjun.

“Heiiiyy yang kau bicarakan itu kakakku!,” Haechan bersungut mendengar kakak kesayanganya dihina.

“Lagipula apa bagusnya ko winwinmu itu, Dia beruntung bersama Nii-chan ku. Nii-chan ku sangat kuat kau tau,”

“Dasar anak ini, Bagaimana bisa Tuhan menakdirkanku bersaudara dengan anak menyebalkan seperti dia ini issh,” Renjun Dan Haechan beradu kata.

“Kau ini anak kecil tidak sopan sekali, Aku lebih tua darimu. Huft!”

Sementara itu, Taeyong yang sedari tadi menjadi penonton bersama kun hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik-adik baru mereka.

“Markas pasti akan sangat ramai sekarang nde kun,”
Ucap Taeyong yang sedang merilexkan Kun agar kembali pulih. Taeyong juga mempunyai kemampuan membuat orang lain tenang/tidur.

“Andai saja Mate mu adalah mate biasa seperti mereka ya hyung,” Kun bergumam.

“Hanya sebatas seandainya. Sampai kapanpun aku tak bisa bersamanya, Aku tak bisa bersama siapapun orang yang kucintai,” Taeyong bergumam sedih.

“Kau tak bahagia bersama kami hyung?” Kun dan Taeyong menpunyai sifat yang sama. Mereka seperti Ibu dan Bibi bagi yang lain.

“Aku bahagia kun, Aku sangat bahagia bersama kalian. Aku menyayangi kalian semua. Terutama kau Kun,”
Taeyong adalah orang yang menemukan Kun untuk pertama kali. Saat itu kun mendapat penglihatan dan kabur dari musuh yang mencoba membunuhnya. Taeyonglah yang menolong kun saat itu kemudian membawa kun kemanapun Taeyong pergi. Mereka sama-sama yatim piatu juga.

“Aku berdoa semoga tuhan berbaik hati padamu kun, Semoga ia memberimu pasangan yang bisa melindungi dan bisa selalu bersamamu,”

Tak seperti pasanganya yang hanya bisa menghancurkan dan merusak semuanya.

Taeyong tak bisa bersama pasanganya walau mereka telah bertemu. Mate Taeyong sangat berbahaya sehingga ia harus mengurung mate nya sendiri. Ia hanya menemui Jaehyun di balik pintu saja.

Ia takut jika Jaehyun dan Dirinya semakin jatuh cinta.

Ia telah melihat Jaehyun ketika pertama kali Taeyong mendapat penglihatan pertamanya. Dan ketika penglkhatan kedua, Ia melihat Kekuatan Jaehyun.

Ia semakin takut.

Mungkin karna itulah tuhan memberi kekuatan penenang pada Taeyong. Tentu untuk menaklukan Jung Jaehyun. Tapi kini ia tak yakin pada dirinya sendiri, Ia masih takut akan goyah dan membuat segel Jaehyun terbuka.

Semua akan kacau

“Aku harap kau mempunyai pertemuan yang baik dan manis dengan pasanganmu seperti mereka kun,” Taeyong tersenyum. Kun pun begitu

“Jangan bersedih hyung,” Kun hanya bisa menghibur Taeyong dengan kalimat. Memang nyatanya pasangan Taeyong sangat berbahaya. Ia tak boleh di lepaskan karna tak ada satupun yang bisa menandingi kemampuan Jung Jaehyun.

Sebenarnya malang sekali nasip Taeyong dan Jaehyun karna mereka sama-sama terbelenggu.

Taeyong menjemput Jaehyun karna ia takut Matenya akan dibunuh pihak musuh. Namun setelah membawanya, Ia memperlakukan Jaehyun seperti kriminal. Ia sangat menderita tapi ia tak ada pilihan.

Jika saja ada yang bisa menandinginya. Tapi itu tak mungkin-
Keluh Taeyong dalam hati.

Bali, Indonesia.

Di dalam hotel, Jungwoo dan Ten sudah bersiap akan Check out.

“Setelah ini kita kemana?”
“Entahlah,”

Mereka berdua kembali menjadi Gelandangan.

“Mark! Mark!! Lucas kemana!??” Pagi-pagi Taeil sudah panik setelah mengetahui jika lucas tak berada di rumah. Ia segera mengguncang-guncangkan Mark lee yang sedang bermimpi indah.

“Maaaaarrrrkkkkkk Bangun woy! Dimana lucas??”

“I dont know mas, Aku kan baru bangun juga,” Mark menyambar kacamatanya.

“Ya ampun anak itu bisa tidak sih sekali saja tidak bertingkah,”
Taeil sampai kenyang akan kejengkelan pada Lucas. Sulit sekali mengasuh Seorang lucas saja.

“Cari di pohon-pohon belakang mas tuh mad, Kali aja dia lagi manjat sarang burung atau lagi main-main sama monyet,” Ucap Mark santai. Taeil langsung berlari untuk memastikan ucapan Mark. Taeil sungguh percaya walau itu terdengar konyol, Tapi itu adalah Lucas.

lucas memang seperti itu orangnya. Dia sering melakukan hal tak terduga.

“Ga ada Mark, Duh piye toh iki”
Taeil Stress kehilangan Adik sepupunya yang sangat merepotkan itu.

“Kita cari yuk Mark, Nanti dia tersesat bagaimana?”

“Ya ampun mas, Lucas bukan TK Nol Besar, Lagipula ini bali mas. Mau cari kemana? Mengelilingi bali? Ga usah khawatir Lucas dimakan Leak mas. Demit juga takut sama lucas. Orang dia udah kayak Ogo~Ogo,” Kekeh mark.

Mark ini tak ada khawatir-khawatirnya sama sekli pada sahabatnya itu. Karna apa? Karna dia lucas. Dia akan terus beruntung dimanapum dia berada.

“Udah mas, kita tunggu di rumah aja. Mungkin aja lucas kepasar dan pulang bawa oleh-oleh,” Ucap mark santai.

“Biar jernih kita renang yuk mas,”

“Mark! Lucas tuh hilang, Mas ga bisa sesantai kamu Mark. Mas mau pergi aja cari Lucas,”
Taeil tak bisa berhenti khawatir karna ia takut lucas akan mendapat penglihatan ketika Lucas tak bersamanya. Itu bisa berbahaya sekali untuk lucas. Apalagi disini ada 2 anak terpilih lain. Taeil harus menemukan mereka semua agar ia bisa melindungi mereka juga.

Kemampuan Proteksi Taeil memang sudah ia gunakan untuk mencakup satu negara. Tapi Akhir-akhir ini ia cepat lelah dan tak bisa mempertahankan proteksinya terlalu luas. Ia butuh Istirahat agar kemampuanya kembali full.

Dan semalam ia melepaskan Proteksinya, Lucas justru menghilang darinya.

Ini Gawat
Ini Bahaya
Ini Darurat!

“Kemana kamu kas, Pulang kas pulang” Taeil sudah Panik dan hampir menangis mencari lucas di sekitar Villa Mark. Ia tak bisa membayangkan jika Lucas tertengkap kemudian Disiksa- dijuham pedang-di gantung-di tusuk-tusuk-di bakar dan lain-lainya.

Oh Sungguh Taeil tak sanggup.

“Kaaaas, Dimana kamu kas hiks hiks,”
Taeil benar-benar menangis.

“Belum berubah fikiran?”
Lucas sudah berada di depan Jungwoo dan Ten yang mempersiapkan diri mereka menjadi gelandangan lagi.

“Kau lagi!”
Mereka sedikit terjengkat melihat Lucas yang ternyata tidur di kamar sebelah mereka.

“Gawat wu, Sepertinya dia mengejarmu, Cepat lepaskan kekuatanmu wu. Kasihan dia, dia anak yang baik” bisik Ten.

“Aku sudah tidak menggunkan kekuatanku padanya Ten. Tapi dia sudah terlanjur…ahhh Entahlah. Aku juga merasa bersalah padanya,”
Ten dan Jungwoo masih berbisik-bisik.

“Hei gadis-gadis, Sampai kapan aku harus berdiri memandangi kalian seperti ini,” Ucap lucas.

“Apa dia bilang tadi?”

“Apa dia baru saja menyebut kita Gadis?”

“Ah ya ampun, Lama-lama sebel juga,” Lucas sudah tidak sabar.

“Kalian ikut denganku atau jadi gembel disini? Sudah kalian ikut aku saja daripada di jual sama Om-om bule,” Lucas menakut-nakuti.

“Nanti justru kau yang malah menjual kami bagaiamana?”

“Untuk apa kujual! Ya kusimpan sendirilah!”

Mereka berdua menatap lucas tajam.

“Wu, Kau punya kemampuan bertarung tidak sih? Cepat bunuh dia sebelum ada orang yang tau,” Ten berbisik.

“Andaikan aku punya kau pasti sudah melihat mayatnya sekarang,”

“Oh tidak,,,apa nasip kita masih sial?”

“Aduh kelamaan nih. Cewe-cewe tuh selalu kebiasaan kayak gini,” Ucap lucas yang langsung menarik tangan Jungwoo dan Ten bersamanya.

“HEY!!! Apa yang kau lakukan!”

“Menolong kalian!”.

“Tolong~ Tolong~ Tolong kami,” Ten berteriak-teriak.

Orang-orang reflex memandangi mereka.

“Maaf Pak-Buk, Dia…” Lucas meletakan jari telunjuknya di kening secara Miring.

Dan orang-orang terlihat memakluminya.

Tin tin tinnn

“Eh si kasep lagi,”

“Loh tante, Ketemu lagi sama Lucas. Mau kemana te?”
Lucas bertemu wanita paruh baya yang kemarin malam memberinya tumpangan.

“Mau pulang, Kamu mau kemana sama, wiiih…Langsung Gol dua tuh,” Tante wendy menggoda Lucas yang tengah menggandeng Jungwoo dan Ten.

“Ih apa’an sih te. Enggak gituuu
Eh tante lewat gang yang kemaren ga?”

“Lewatlah,, orang rumah tante disana, Mau bareng?”

“Iya mau te, di Bali ga ada taksi sih. Yakali naik Odong bawa ciwi-ciwi cantik gak etis te,” Lucas memasang wajah super tampan.

“Sa ae ihh, Masuk lahhh” Lucas menarik paksa Jungwoo dan Ten masuk kedalam mobil tante Wendy.

Di dalam mobil Lucas dan Wendy berbincang banyak hal termasuk fakta bahwa Wendy adalah tetangga Mark dibali. Tante Wendy sangat baik dan lucu jadi Lucas tak sungkan sama sekali. Padahal emang dasarnya lucas tak punya rasa sungkan sama sekaliπŸ˜‚

Menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup singkat. Kini Tante Wendy bersama lucas membawa kedua ‘Ciwi-ciwi Lucas’ [Katanya]
Masuk kedalam Rumah Mark tanpa mengetuk atau sopan santun [Lucas memang seperti itu, Semua seperti rumah sendiri]

“Mark,,Woy Markonah,”
Lucas mempersilahkan Tante wendy dan Ciwi-ciwi untuk duduk.

Ten dan Jungwoo sudah kepalang basah akhirnya mereka menurut saja pada lucas yang ternyata punya sifat memaksa secara halus seperti itu.
Dan anehnya mereka menurut saja?

“Sebentar ya Girls,” Lucas ijin untuk meninggalkan mereka kemudian naik kelantai atas.

“Eehhhh Pulang juga lu beruk,”
“Bajingan,”
Mark yang sedang berenang-renang seperti Kodok akhirnya mentas juga dari sana kolam renangnya yang luas.

“Mas Taeil mana?”
Tanya Mark yang sudah memakai Handuk.

“Lah lah lah, Orang kita baru pulang juga. Ya mana tai,”

“Mana Tau!!”

“Eh iya mana tau!”

“Oh iya, Di bawah ada tamu tuh. Mark, Bikinin minum gih. Aku tunggu dibawah ya. Kasian kalau di tinggal ntar nyolong barang-barang,”
“Weeeewww gue bukan pembokat lu kas, ih bocah numpang kurang jga tapi ajar banget,”
Lucas tak ambil pusing oleh omelan Mark. Ia segera turun kemudian menyapa Orang-orang yang baru di kenalnya.

“Kalian santai aja, anggep rumah sendiri. Mau makan apa? Nasi campur?”

“Emang ada kas?” Tanya Wendy.

“Ga ada te, Hehehe”

“Weh Anjir,”

Tante Wendy ini adalah Cianjur-Canada yang sangat kekinian ya guys. Baru berumur sekitar 35’an dan dia sangat terbuka.

“Looh, Tante Wendy”
Mark turun tangga memakai Jubah handuknya yang megah seperti orang-orang kaya.

“Hallo Mark,”
Tante Wendy mengangkat tanganya untuk menyapa Mark.

“Mana minumnya Mark?”
Mark hanya membalas pertanyaan Lucas dengan Deatlarge.

“Jangan kayak gitu liatinya mark. Jujur kamu keliatan kayak limbad versi tidak gimbal dan lebih pendek. Udah tinggal tambahin ayeliner bawah mirip banget udah,”

“Bangsat,”

Mengabaikan Lucas, Mark langsung bersalaman dengan Tante wendy dan yang lainya.

“Siapa mereka te? Ponakan?”
Mark penasaran tentang Jungwoo dan Ten yang sejak tadi diam.

“No no no, mereka Lucas Girls,”

“Hah!??”
Mark menganga terkejut.

“Ya ampun lu buntingin mereka berdua kas? ASTAGA Mas Taeil!!”
Mark berlangsung lari panim mencari Taeil.

“Weeh congor bedebah asal aja, Ga gitu woy!” Lucas sudah mengejar Mark yang berlarian tanpa tujuan.

Dan ketiga orang yang duduk disana hanya memandang sepasang sahabat itu dengan bingung.
Mereka terlihat sangat rumit.

“Ya ampun anak-anak itu, Mau minum apa Girls?”

Malah Tante Wendy yang ambil minum.

“Hiks hiks lucas,”
Taeil masuk kedalam rumah dengan sesenggukan. Sudah mencari Lucas sejak subuh tapi tidak menemukanya. Sekarang tak tau lagi kemana ia akan mencari sepupunya tersebut.

Taeil berjalan merewati ruang tamu. Dan sekilas Ia melihat Jungwoo dan Ten sedang duduk diam disana. Taeil hanya mengangguk pelan untuk menyapa mereka. Ten dan Jungwoo juga membalas dengan anggukan. Kemudian Taeil melalui mereka begitu saja.

“Wu, Rumah ini isinya orang-orang aneh ya,”

“Benar,”

Mereka berbisik.

Taeil menghentikan langkahnya.

Mampus.

“Astaga Wu, Dia mendengar kita wu,” Ten sudah mengerut takut.

“Nah kan, dia balik arah kesini wu,” Ten sudah memasang expresi yang sudah di jelaskan.

“Kalian,”
Taeil memandang Jungwoo dan Ten lekat. Mereka yang di pandangi justru merasa sungkan dan tak enak hati.

“Maafkan kami, kami tak bermaksut untuk-”

“Kalian Anak-anak terpilih juga?”
Kalimat Taeil memutus ucapan Ten.

Seketika Jungwoo dan Ten membolakan matanya.

Part 6

Gimana guys? Ada saran?
Ini di adegan selanjutnya mau aku susupin gambar buat adegan Dewasanya tapi aku masih ga berani karna mungkin gambarnya sangat Frontal dan sangat fulgar.

Aku minta vote kalian aja. Mau pakai gambar apa engga. Nanti takutnya di Report kalau pake gambar begitu kan Bisa nangis bombay gue.

Add Comment